Mitos Wali Kota Sukabumi dari Sekda, Kahfi: Pecah di Pilkada 2018

Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi (tengah), yang juga calon wakil wali kota Sukabumi, mengikuti gerak jalan sehat siap memecahkan mitos Wali Kota Sukabumi harus dari Sekretaris Daerah (Herry Febrianto/PemiluUpdate.com)

Kota Sukabumi – Suhu politik di Kota Sukabumi semakin hangat, pendukung para kandidat yang tergabung di dalam relawan semakin memperlihatkan dukungan untuk pemenangan jagoannya di Pilkada 2018.
Mitos jabatan Wali Kota Sukabumi selalu berasal dari calon yang menduduki posisi Sekretaris Daerah pun mulai muncul dari kalangan relawan.

Seperti yang diutarakan Mantan Koordinator Lapangan Tim Relawan Kemenangan Muraz (Terkam) yang sekarang pindah haluan mendukung Hanafie Zain (Sekretaris Daerah Kota Sukabumi) Usman Latief, merasa yakin jika mitos tersebut akan terjadi kembali di Pilkada 2018.

Alasan ini pula yang mendasari Usman bersama rekan-rekan di Terkam menjatuhkan pilihan bergabung dalam Relawan Hanafie Berhasil (Rehab).

“Kita punya pengalaman waktu di Pilkada 2013, bahwa yang akan menjadi wali kota dari sekda yaitu Pak Muraz. Karena kami menilai sekda adalah birokrasi yang mampu untuk menata pemerintahan,” tandas Usman kepada GOOD INDONESIA, Kamis, 19 Oktober 2018.

Benar atau tidak, tetapi hal ini terbukti seperti Molly Mulyahati Djubaedi yang sebelumnya menjabat Sekda terpilih sebagai Wali Kota Sukabumi periode 1998-2003. Lalu Alm. Mokh. Muslikh Abdussyukur menjabat Wali Kota dua periode 2003-2008/2008-2013. Terakhir, Mohamad Muraz yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota periode 2013-2018.

Seakan tidak mau kalah dengan relawan Hanafie, pendukung Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi yaitu Kawan Achmad Fahmi (KAHFI) optimis akan memecahkan mitos tersebut di Pilkada 2018.

“Banyak beredar kabar di luar mengatakan, bahwa Sukabumi mitosnya yang menjadi wali kota harus dari sekda. Maaf kalau buat kita tidak percaya mitos, kami lebih percaya langkah-langkah dan kerja politik,” ujar Koordinator KAHFI Adin Komaedin kepada PemiluUpdate.com di Balai Kota Sukabumi.

Menurutnya, alasan Mohamad Muraz menjadi Wali Kota Sukabumi bukan serta merta karena sebelumnya menjabat posisi sekda. Tetapi lebih dipengaruhi adanya langkah kerja politik yang dilakukan secara terencana dan terukur, sehingga bisa memenangkan pertarungan di Pilkada 2013.

“Sekda hanya sebuah jabatan, karena siapapun yang menduduki posisi itu tentunya akan memiliki karakter dan pola kerja yang berbeda antara satu dengan yang lainnya,” tandas Adin.

Adin menilai, faktor pemenangan bukan hanya karena calon tersebut menjabat posisi sebagai sekda. Namun ada faktor lain yang mempengaruhi, pertama, apakah calon tersebut sudah memiliki bekal untuk bermain di pemilihan wali kota. Lalu yang kedua lebih kepada faktor pendongkraknya.

“Saya punya keyakinan Pak Muraz menang karena berpasangan dengan Kang Fahmi, kalau dengan yang lain belum tentu. Makanya, faktor pasangan juga jadi penentu,” katanya.

Kalaupun saat ini juga muncul mitos wakil wali kota sulit menjadi wali kota, Adin juga tidak terlalu percaya. “Sudah banyak terjadi di daerah lain yang memecahkan mitos itu, apa lagi ungkapan seperti itu sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi riil di lapangan,” pungkasnya. []Herry Febrianto


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here