Berhasilkah Proses Koalisi PDIP-Demokrat-PKS pada Pilgub NTB?

Ilustrasi: Penjajakan koalisi Partai Demokrat, PDIP, dan PKS (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

Mataram – Politik memang sulit ditebak dan nyaris tidak ada yang tak mungkin.

Pandangan umum yang mendudukkan Partai Demokrat dan PDIP tak bakal bersatu dalam ajang pemilu, ternyata tidak sepenuhnya benar. Begitu pula antara PKS dengan PDIP. Parpol-parpol ini mungkin saja berjabat tangan erat pada pesta demokrasi lima tahunan.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya. Proses koalisi Demokrat, PDIP, serta PKS menghadapi Pemilu Gubernur (Pilgub) NTB 2018 tengah bergulir. Walaupun demikian, persandingan parpol tersebut sejauh ini terjadi ketika sama-sama menghadapi kesulitan memperoleh mitra koalisi “tradisionalnya”.

“Silakan tebak,” kata Ketua DPD Partai Demokrat NTB TGH Mahally Fikri di Mataram, pekan lalu.

Demokrat, PDIP, dan PKS sama-sama tak memiliki banyak pilihan. PDIP yang sebelumnya ingin mendorong Hj. Putu Selly Andayani untuk menjadi wakil H.M. Ali BD, menemui jalan buntu.

Di tengah waktu yang terus bergulir, partai berlambang banteng moncong putih mengupayakan membentuk poros koalisi sendiri. Opsi ini bukan mudah karena karena partai yang tersisa hanyalah Hanura dan PBB.

Tidak gampang membangun segera kesepahaman. Merangkul parpol yang sejak awal menentukan arah dukungan tidaklah mudah. “Agak sukar jika mengambil partai yang sudah menentukan sikap,” kata Dr. Kadri, pengamat komunikasi politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Opsi lainnya adalah bergabung dengan poros yang sudah terbentuk. Terdapat poros Ahyar, Suhaili, atau Ali BD yang baru saja ditinggalkan. Namun hal itu juga agaknya sukar dilakukan PDIP karena tentu kesepakatan politik sudah lebih dulu dilakukan parpol pengusung/pendukung sebelumnya.

Menghadapi kondisi dimaksud, pilihan paling realistis bagi PDIP adalah bergabung dengan poros baru yang memiliki peluang, namun belum lengkap syarat jumlah kursi parpol di DPRD NTB.

[Baca juga: Zulkieflimansyah, Siap Bawa NTB jadi Provinsi Gemilang]

Pada titik simpul inilah Demokrat, PDIP, dan PKS seolah terpaksa bersatu. Meski demikian, langkah ini bukanlah sesuatu yang sungguh baru di NTB. Khusus Demokrat dan PDIP, kedua parpol ini pernah bersahabat pada ajang Pilwalkot Mataram lalu. Juga bersama mengusung TGB-Amin pada Pilgub NTB 2013.

Isyarat tersebut dilambungkan Mahally. Dia tak menampik opsi tersebut. Ketua DPD Partai Demokrat NTB itu bahkan menegaskan koalisi yang dibangunnya paling tidak dihuni tiga parpol. Gabungan ini memiliki 19 suara. Demokrat delapan, PKS enam, dan PDIP lima.

“Demokrat untuk pilgub sudah selesai, pasangan calon sudah selesai, partai juga sudah selesai,” tegas Mahally. []GOOD INDONESIA-MAB


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here