Dedi Mulyadi masih ‘Melawan’, Ungkap Elektabilitas Golkar di Jabar Turun

Ilustrasi: Bendera Partai Golkar (Foto: partaigolkar.or.id - GOOD INDONESIA)

Kota Bandung – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi masih melakukan perlawanan terhadap keputusan DPP partainya.

Walaupun perlawanannya soft, politikus yang masih menjabat Bupati Purwakarta ini belum sepenuhnya menerima keputusan DPP Golkar mencalonkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jabar ketimbang dirinya.

Melalui pernyataan resmi atas langkah DPP Golkar merapat ke kubu Partai Nasdem pada Pilgub Jabar 2018, Dedi mengatakan dirinya ikhlas menerima keputusan partai.

Namun, pasangan kandidat resmi calon gubernur-wakil gubernur pada Pilkada serentak 2018 tepatnya pada 8-10 Januari 2018. Sebelum resmi didaftar di KPU, surat keputusan (SK) parpol kepada figur tertentu memang masih berpeluang berubah. Peluang ini hendak dimanfaatkan Dedi, politikus yang lebih dua tahun silam mulai sosialisasi diri guna menuju Gedung Sate.

Bentuk perlawanan dimaksud yang terbaru yakni ketika Dedi menjadi pembicara kunci diskusi ‘Tanda Cinta dari Orang Desa untuk Partai Golongan Karya’. Diskusi digelar di Aula Kantor DPD Partai Golkar Jabar, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Selasa, 14 November 2017.

Di hadapan beberapa ratus kader dari kabupaten/kota se-Jabar itu, Dedi berorasi. Dia menegaskan jajarannya hingga tingkat desa harus tetap menjaga kesolidan parpol. “Kami mengundang pengurus dari semua tingkatan di Jawa Barat untuk secara bersama-sama membangun kesolidan partai yang saat ini terus mengalami penurunan elektabilitas,” katanya.

Usai menyemangati hadirin, Dedi mengungkapkan data penurunan tingkat elektabilitas Golkar di Jabar. Pada Oktober lalu sebesar 18 persen. Terjadi penurunan dibanding awal November yang mencapai 12 persen.

“Dalam satu bulan kita kehilangan persen persen. Ini harus ada tindakan agar kita segera mengambil langkah antisipasi. Jawa Barat ini lumbung suara Golkar di tingkat nasional,” tuturnya.

[Baca juga: Asa Dedi Mulyadi Belum Pupus, Kali Ini Agun Gunanjar Membela]

Bupati yang sangat concern terhadap masalah budaya ini memaparkan fenomena menarik. Biasanya, kata Dedi, elektabilitas sebuah parpol berbanding lurus dengan elektabilitas ketua partainya. Namun di Jabar, rumus tersebut kini terbalik.

“Bisa dilihat dari survei beberapa lembaga. Tidak baik kalau dijelaskan sendiri,” ujar Dedi, enggan memaparkan blak-blakan.

Rilis survei Indo Barometer, elektabilitas Dedi di angka 19-20 persen, dari simulasi tiga nama yang digadang akan mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Barat. Angka ini menempatkan Dedi di peringkat kedua raihan survei, mengalahkan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz), 16-17 persen.

Lembaga survei INDOCON mencatat fenomena yang sama meski persentasenya berbeda. Dedi menduduki peringkat kedua, dengan angka 15,3 persen, juga mengalahkan Demiz yang 11,9 persen.

Sementara itu, CEO PolMark Eep Saefullah Fatah mengungkap penyebab turunnya elektabilitas Golkar di Jabar terkait keputusan DPP-nya yang mengabatkan kader daerah. Eep mengatakan seharusnya keputusan elite partai berlambang pohon beringin linier dengan keinginan kader di lapangan.

“Jangan sampai sepucuk surat yang ditandatangani oleh elit di Jakarta berakibat kontraproduktif terhadap kemajuan partai,” tandas Dedi dalam diskusi tersebut. []BIH


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here