Politik Dua Kaki Wali Kota Muraz, Arahkan Relawan ke Sekda

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkot Sukabumi Hanafie Zain dan Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz di Stadion Suryakencana, Kota Sukabumi, Minggu, 19 November 2017 (Istimewa/Dok. Humas Pemkot Sukabumi)

Kota Sukabumi – Ada yang istimewa dalam laga skuad Persatuan Sepak Bola Sukabumi (Perssi) kontra tim Porda Persikabo, Kabupaten Bogor, di Stadion Suryakencana, Kota Sukabumi, Minggu, 19 November 2017. Apa itu?

Tentu bukan karena pertandingan persahabatan yang berkesudahan dengan skor 2-3, tim tuan rumah keok. Bukan pula berupa kehadiran Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz, semata. Lalu?

Soal istimewa dimaksud yakni kehadiran Muraz bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Sukabumi Hanafie Zain. Mereka berbicang santai. Ya, obrolan kedua pemimpin Kota Sukabumi ini pantas dikategorikan spesial karena sepertinya tak membicarakan masalah formal Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi.

Meski keduanya tidak terlibat perbincangan serius saat menyaksikan pertandingan tersebut, pemandangan langka ini memunculkan pertanyaan. Beberapa anak buahnya dan insan pers di kejauhan mempercakapkan pemandangan tersebut. Terlebih sebab dalam suasana bergulirnya tahapan Pilwalkot Sukabumi 2018.

Apakah Muraz –yang ketua DPC Partai Demokrat Kota Sukabumi– akan memberikan dukungannya kepada Hanafie pada perhelatan Pilkada 2018? Padahal Sekda yang tak lama lagi mengundurkan diri ini calon kuat penerima tiket PDIP sebagai calon wali kota Sukabumi.

Sementara Demokrat sejauh ini menggalang koalisi dengan PKS. Partai berlambang untaian padi diapit dua bulan sabit mengusung Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi, sedangkan Demokrat mengajukan “kader dadakannya” yakni Andri Setiawan Hamami sebagai wakil.


Politik Dua Kaki

Muraz bermain dua kaki pada Pilwalkot Sukabumi 2018? Bila benar, tentu kabar yang telah berembus setidaknya 1-2 bulan terakhir ini, sungguh menarik.

Sinyalemen itu bukan tidak mungkin terjadi. Setidaknya, fakta berupa keputusan Muraz selaku Ketua DPC Partai Demokrat Kota Sukabumi tidak mencalonkan diri kembali dalam bursa pilkada, yang memicu protes sebagian relawannya, menjadi pemicu pertanyaan di atas.

[Baca juga: Wali Kota Sukabumi Tak Mencalon, Ketua PAC Demokrat Mengundurkan Diri]

Padahal, berdasar beberapa survei, kader parpol besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dimaksud memiliki kans memenangi Pilwalkot 2018.

Nah, kalkulasi dimaksud semakin kuat sebab sebagian relawan fanatik Sang Wali Kota pindah haluan ke barisan Hanafie, antara lain. Tentu dia selaku calon wali kota usungan PDIP.

Ditanya soal sinyalemen loncatnya relawannya –yang normalnya mendukung paket Fahmi-Andri (Faham)– ke kubu Sekda di PDIP, Muraz tidak memberi jawaban to the point dan tuntas. Dia berusaha menjawab diplomatis.

“Saya ini ketua partai. Berbeda, dong, itu yang harus dipahami. Berbeda kondisinya. Punten (maaf) menyebut yang lama, Almarhum (Wali Kota Sukabumi Muslikh Abdussyukur) bukan ketua partai,” ujar Muraz saat dikonfirmasi PemiluUpdate.com usai menghadiri pelantikan Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) di salah satu hotel kawasan Salabintana, beberapa waktu lalu.

Lanjutnya, “Bahkan bukan hanya ketua partai, saya juga ketua Bappilu kota dan kabupaten dari Demokrat.”

Muraz tidak menjelaskan secara rinci perihal komentarnya yang membawa nama almarhum Muslikh Abdussyukur.

Namun berkaca pada Pilkada 2013 lalu, Muraz yang menjabat sebagai sekda bersama Wakil Wali Kota Sukabumi Mulyono (ketua DPD Partai Nasdem Kota Sukabumi sekarang), pada saat itu bersaing mendapatkan restu atau dukungan Sang Wali Kota Sukabumi Muslikh. Berkuasa dua periode, pengaruhnya tentu sangat besar dalam pemenangan pilkada.

Apakah melalui jawaban tersebut Wali Kota Muraz ingin mengatakan bahwa Sekda Hanafie telah berhasil merebut dukungannya ketimbang calon wali kota Sukabumi yang lain? Sama halnya ketika dirinya yang dulu sekda dan sekaligus calon wali kota, unggul meraih sukungan Muslikh, sekitar lima tahun lalu.

[Baca juga: Humas Demokrat Kota Sukabumi Mundur dari Tim Penghubung, Muraz: Strategi Politik Aldo]

Dan, wajar saja jika para kontestan Pilwalkot Sukabumi 2018 mengincar sokongan dirinya. Muraz bukan cuma ketua partai, tetapi pun ketua Bappilu Demokrat untuk wilayah Kota/Kabupaten Sukabumi, lho.

Duet Mufakat yakni Mohamad Muraz (kiri) dan Achmad Fahmi pada Pilkada Kota Sukabumi 2013. Keluar sebagai peraih suara terbanyak (Foto: Dok. Mohamad Muraz – GOOD INDONESIA)


Amankan Diri

Sementara itu Pengamat Politik Asep Deni menilai kemesraan Muraz-Hanafie di area publik sepakbola wajar menimbulkan spekulasi. Dalam hal ini dukungan Sang Penguasa kepada calon PDIP.

Meskipun hak Muraz, Asep mengingatkan agar dia sebaiknya menghormati koalisi yang dibangun antara Demokrat dengan PKS. Koalisi ini memiliki ikatan politis dan emosional yang sudah terjalin cukup lama. 

Dari sisi perspektif dinamika politik, pengamat bergelar doktor itu melihat momentum tersebut sebagai upaya Muraz membangun komunikasi dengan siapapun. Kebetulan saja Hanafie juga butuh panggung. Kegiatannya bersama Wali Kota Muraz tentu menarik di mata publik.

“Langkah strategis politik Pak Muraz fokusnya mengamankan dirinya, dengan mencalonkan pada Pemilu Legislatif 2019. Untuk itu dia harus membangun komunikasi politik dengan siapapun, termasuk pimpinan parpol,” kata ketua STIE PGRI Kota Sukabumi itu.

[Baca juga: PKS Kota Sukabumi ke Demokrat, Khawatir tetapi Memaklumi]

Karena itu, Asep tidak menyangkal jika Muraz sebagai pemimpin parpol akan memainkan politik dua kaki. Langkah ini semata-mata guna mengamankan persiapannya memasuki kontestasi 2019, tepatnya pemilu legislatif (pileg). 

“Makanya sekarang Pak Muraz menjaga komunikasi yang baik dengan siapapun karena bisa saja Hanafie yang terpilih atau Fahmi,” tukas Asep.

Jadi, sama sekali bukan karena ancang-ancang meninggalkan paket Faham? []Herry Febrianto


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here