Jika PDIP Gagal Rangkul PPP, Djarot-Sihar ‘Layu Sebelum Berkembang’

Ilustrasi: Logo Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (Istimewa/rappler.com)

Medan – Partai Hanura di Sumatera Utara (Sumut) menjatuhkan pilihan mendukung calon gubernur (cagub)-wakil gubernur (cawagub) Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah. Langkah politik ini memupus harapan PDIP yang mengusung duet Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.

Tinggal PPP satu-satunya harapan bagi partai banteng moncong putih. Jika PPP menolak bergabung, maka pencalonan Djarot-Sihar batal karena PDIP masih kekurangan empat kursi. Parpol lain sudah memiliki pasangan calon.

Untuk mengusung pasangan kepala daerah pada Pilgub Sumut 2018, satu parpol atau koalisi parpol membutuhkan memiliki paling sedikit 20 kursi.

Indikasi partai besutan Megawati Soekarnoputri berpeluang gigit jari terlihat saat penyerahan rekomendasi kepada tujuh pasangan kepada daerah di Kantor DPP PDIP di Jakarta, Minggu (7/1/2018). Gus Yasin, putra Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimoen Subair, tak hadir. Hal ini sinyal keengganan PPP berkoalisi dengan PDIP.

Faisal Andri Mahrawa, peneliti Departemen Ilmu Politik, Fisip, Universitas Sumatera Utara (USU), mengutarakan PPP pasti berpikir panjang untuk berkoalisi dengan PDIP pada Pilgub Sumut. Partai kabah menghitung potensi ditinggal basis massa pemilihnya.

“Jika PPP tetap memaksakan bergabung dengan koalisi PDIP, maka PPP harus bersiap-siap ditinggalkan konstituennya di Pileg 2019,” tandas Faisal.

Tersisa dua hari bagi PDIP untuk memperjuangkan Djarot-Sihar. Jika gagal merangkul PPP, maka mau tidak mau duet ini “layu sebelum berkembang”. []MSM


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here