SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, Satu-satunya Harapan Demokrat

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ketua umum DPP Partai Demokrat yang juga penggagas dan pendiri partai (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono kini menakhodai langsung Demokrat, partai politik yang dibesutnya. Pria yang lebih kerap disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949.

Dia alumnus terbaik Akademi Angkatan Bersenjata RI (1973). Semasa aktif sebagai tentara, SBY dikenal sebagai prajurit yang memiliki pemikiran cemerlang.

Berkat kecerdasan, kesantunan, dan tutur bicaranya yang runtut, ia terjun ke dunia politik. SBY menjadi presiden pertama yang dipilih rakyat secara langsung.

Sebelumnya sempat menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Menkopolkam, SBY mulai berada dalam koridor Demokrat pada 2002. Partai berlambang mercy-lah yang menguatkan namanya mencapai puncak karier politik.

Ketika Partai Demokrat dideklarasikan pada 17 Oktober 2002, namanya dicalonkan menjadi presiden pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2004.

Pada pilpres itu, SBY terpilih sebagai presiden periode 2004-2009, berpasangan dengan Jusuf Kalla. Pada pilpres berikutnya, ia kembali maju berpasangan dengan Boediono. SBY kembali menjadi orang nomor satu RI periode 2009-2014.

Pada Pilpres 2009, Demokrat menjadi parpol pemenang dengan perolehan suara yang naik signifikan atau mengejutkan yakni 21,703,137 (20,5 persen).

Perolehan suara ini dibanding tahun 2004 naik hampir tiga kali lipat. Hal ini sebuah pencapaian yang fantastis untuk sekelas partai baru, dengan tokoh sentral SBY tentunya.

Kini, setelah melepas jabatannya sebagai Presiden RI, SBY tidak serta merta berdiam diri. Banyak kegiatan yang dilakukannya terkait dengan Indonesia. Kini, ia menjadi penyeimbang terhadap kebijakan pemerintah melalui Demokrat yang dipimpinnya. Tak jarang SBY melontarkan kritik atas kinerja pemerintahan yang dipimpin Joko Widodo alias Jokowi.

Pada Agustus 2016, misalnya, SBY menyindir rencana poros maritim Jokowi yang dinilainya retorika belaka. Menurutnya, alih-alih mewujudkan poros maritim, mantan Gubernur DKI Jakarta ini justru lebih berfokus menggenjot pembangunan infrastruktur di darat.

SBY juga sempat mengutarakan keprihatinannya atas sikap pemerintahan Jokowi yang dianggap sering mengkambinghitamkan pemerintahan dirinya. Misalnya, dalam kasus dokumen asli Tim Pencari Fakta Munir yang dikatakan hilang pada masa rezim SBY.

Ilustrasi: Kampanye Partai Demokrat (Foto: Dok. GOOD INDONESIA)


Sepak Terjang

SBY ditetapkan sebagai ketua umum DPP Partai Demokrat pada 2003, menggantikan Anas Urbaningrum. Selanjutnya ia kembali terpilih menjadi ketua umum periode 2015-2020.

Di bawah kepemimpinan SBY, Demokrat perdana mengikuti pemilihan umum pada 2004. Kala itu Demokrat meraih suara sebanyak 7,45 persen dari total suara, dan mendapatkan 57 kursi di DPR. Dengan perolehan ini, Demokrat meraih peringkat kelima Pemilu Legislatif 2004.

Menjelang Pemilu 2004, popularitas partai cukup terdongkrak dengan naiknya popularitas SBY. Bersama Partai Keadilan Sejahtera, parpol ini menjadi “the rising star” pemilu kedua pada Era Reformasi.

Popularitas partai ini terutama berada di kota-kota besar, dan di wilayah bekas Karesidenan Madiun, tempat SBY berasal.

Namun pada Pemilu 2014, jumlah perolehan suara dan perolehan kursi di DPR merosot drastis. Hal itu tak lain karena kasus beberapa kader partai terlibat kasus hukum. Citra Demokrat anjlok di mata publik.

Salah satunya, praktik korupsi yang dilakoni Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M. Nazaruddin. Ia menjadi tokoh sentral korupsi pembangunan wisma atlet di Palembang. Sejumlah kader Demokrat lain yang ikut tersangkut kasus hukum, antara lain, Anas Urbaningrum dan Engelina Sondakh.

Kasus demi kasus terungkap yang akhirnya menggerus citra Demokrat secara masif. Bahkan sang tokoh sentral Presiden SBY sendiri tidak bisa menahan badai yang sangat dahsyat menggoyang pemerintahannya, khususnya berimbas pada Demokrat sendiri.

Imbasnya, pada Pemilu 2014 perolehan Demokrat merosot dan terlempar ke nomor urut empat dari 10 partai di DPR. Demokrat memperoleh suara 12,728,923 (10,19 persen).

Perolehan suara parpol mercy tergerus oleh banyaknya kader tersangkut masalah hukum.

Puncak kejayaan Demokratpun berakhir. Partai ini mengalami masa tidak ada satupun kadernya yang naik ke arena Pilpres 2014.

Bahkan saat itu Demokrat menerapkan “politik mengambang”, tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Partai dibiarkan mengambang begitu saja, termasuk dalam berbagai pengambilan keputusan terkait pemerintah.

Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: twitter.com – GOOD INDONESIA)


Strategi Demokrat

Setelah pada Pemilu 2014 tidak memiliki pasangan calon yang diusung, maka pada Pemilu 2019, Demokrat gencar menyiapkan strategi untuk menjalankan aturan ambang batas presiden 20 persen.

Sesuai Pasal 222 Undang-Undang Pemilu yang mengatur ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold, parpol atau gabungan harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu 2014 lalu untuk bisa mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Dengan demikian, Demokrat tidak bisa mengusung sendiri capres-cawapres pada Pilpres 2019. Untuk itu, komunikasi politik dengan parpol sahabat menjadi keniscayaan.

Saat ini, nama putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, dielus Demokrat. Peluang AHY –sapaan Agus– terbuka jika Demokrat memenuhi ambang batas 20 persen dimaksud.

Kendati begitu, SBY masih enggan membicarakan capres dan cawapres pada pilpres mendatang. Soal yang pasti, ia meyakini dan bertekad untuk memenangi ajang pesta demokrasi pada 2019. []Iqbal Vetra


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here