Rekomendasi Bawaslu Provinsi Indikasikan Ketidaknetralan Sekda Kota Bekasi

Demonstrasi atas dugaan ketidaknetralan Sekda Kota Bekasi pada Pilwalkot Bekasi 2018 (Istimewa/teropongindonesia.com)

Kota Bekasi – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Barat masih menunggu keputusan Komisi Aparatur Sipil Negara (Komisi ASN) terkait dugaan ketidaknetralan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi Rayendra Sukamardji pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bekasi 2018.

Komisioner Bawaslu Jawa Barat Yusuf Kurnia mengatakan keputusan final Komisi ASN atas kasus tersebut belum keluar. Bawaslu Jawa Barat sendiri telah merekomendasi kasus tersebut ke Komisi ASN untuk diproses lebih lanjut.

“Kalau sudah direkomendasikan ke KASN artinya terdapat indikasi pelanggaran etika. Ketidaknetralan itu ada. Yang berwenang menilai pelanggaran netralitas dan pemberian sanksinya ada di KASN,” tandas Yusuf, komisioner yang membidangi Divisi Hukum dan Penindakan Pelanggaran, kepada PemiluUpdate.com, Senin, 16 April 2018.

Kasus ketidaknetralan Rayendra mencuat setelah Hiu Hindiana, kuasa hukum pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Bekasi nomor urut 2 melaporkan yang bersangkutan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Sekda Kota Bekasi diduga memobilisasi ASN Pemerintah Kota Bekasi agar memiliki pasangan petahana Rahmat Effendi-Tri Adhianto (nomor urut 1).

Tak sembunyi atau terselubung, Sekda Rayendra melakukan mobilisasi ASN dalam sebuah apel terbuka. Hiu dalam laporannya menyertakan bukti rekaman pidato Rayendra dimaksud.

“Ada 36 orang ASN di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat yang terindikasi tidak netral dalam pelaksanaan Pilkada 2018,” ungkap Yusuf.


Rayendra Membantah

Pidato Sekda Kota Bekasi Rayendra Sukamardji yang diduga berisi mobilisasi ASN terjadi pada 13 Maret 2018. Tepatnya di Plaza Pemkot Bekasi. Berikut sebagian isi pidato tersebut:

Atas sorotan ini, Rayendra membantah. “Saya tidak punya kepentingan apa-apa. Jujur, tidak ada kepentingan apa-apa. Saya Agustus pensiun. Apa yang saya cari? Saya Agustus pensiun. Mungkin setelah saya pensiun bisa saya jadi orang media saja, atau konsultan, atau dosen,” ungkap Rayendra, kutip kabartiga.com.

Isi pidatonya, kata Sang Sekda, berupa ajakan agar ASN tetap disiplin, berkomitmen, dan profesional. Soal logo hati tak dibantahnya namun hal itu bukan ajakan kepada pasangan calon wali kota dan wakil wali kota tertentu.

“Kebetulan beliau (Rahmat Effendi) mendapatkan nomor urut 1. Masa’ saya harus bilang duakan hati atau tigakan hati. Kan, tidak mungkin,” tuturnya. []Herry Febrianto/RE


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here