AHY Unggul sebagai Cawapres Jokowi, Anies Menang Dampingi Prabowo

Anies Baswedan (kiri) dan Agus Harimurti Yudhoyono (kanan) (Istimewa/Dok. Bening.Media)

Jakarta – Posisi nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) lebih baik jika dipasangkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi), dibanding Anie Baswedan.

Demikian hasil survei terakhir Indikator Politik Indonesia yang dirilis Kamis (3/5/2018).

Disimpulkan bahwa peluang keterpilihan AHY jika menjadi cawapres Jokowi 16,3 persen, sementara Gubernur DKI Jakarta itu 13,0 persen.

Sebaliknya, bila calon presidennya atau capresnya Prabowo Subianto, posisi nama Anies lebih baik ketimbang putra Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dimaksud. Anies meraih 15,4 persen, sedangkan AHY 13,7 persen.

Menanggapi hasil survei itu, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Demokrat Amir Syamsudin mengapresiasi kesimpulan riset tersebut. Dia lalu menegaskan agar kalangan Partai Demokrat tidak jumawa atas angka-angka di atas.

“Yang namanya wapres (wakil presiden) itu, kan, yang tentukan capresnya. Jadi jangan terlalu bersemangat berbicara mengenai dirinya, tetapi pada pengakuan. Survei ini adalah pengakuan tetapi tidak kemudian AHY menjadi over excited,” kata Amir di kantor Indikator Politik Indonesia, Jakarta, Kamis, 3 Mei 2018.

Mantan Menteri Hukum dan HAM itu menambahkan hasil survei menjadi catatan tersendiri untuk Demokrat dan AHY. “Dia jadikan survei ini dalam kajiannya dalam mempersiapkan time line sendiri,” ucapnya.

Amir menambahkan meski survei memosisikan AHY sebagai kandidat cawapres tertinggi pendamping Jokowi, dia pasti punya analisis sendiri.

“Dia punya kajian dan time line sendiri, dan secara emosional tidak mudah dipengaruhi capres-capres seperti ini,” ujar Amir.


AHY di Poros Ketiga

Amir Syamsudin pun menjelaskan mengatakan hasil survei semacam keluaran Indikator Politik Indonesia sebagai coattail effect yang hanya dinikmati PDIP dan Partai Gerindra. Penyebabnya adalah kedua partailah yang telah memunculkan nama Jokowi dan Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2019.

“Saya bersyukur partai kami belum menentukan sikap. Kami tidak juga akan dapat efeknya. Demokrat masih di posisi enam sekian persen yang persis sama seperti 2014,” kata Amir.

Demokrat, menurut Amir, belum bisa menentukan sikap final terkait Pemilihan Umum Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Sejauh ini Demokrat masih berpikir untuk mengusung capres dari kader sendiri yakni AHY.

“Demokrat tetap pada posisinya saat ini. Bahwa kami yakin akan ada faktor game changer yang bisa mengubah peta,” Amir meyakini.

Amir berpendapat dinamika politik saat ini belum terkunci. Terdapat kemungkinan semua kesimpulan survei berubah berubah setiap saat.

“Mungkin saja ada calon alternatif atau poros ketiga. Kenapa tidak?” tandas Amir.

Ditambahkan, pemilu serentak yang dilakukan kali pertama pada 2019 tak akan menguntungkan Demokrat bila terlalu cepat mengumumkan kandidat capres.

Tidak ada manfaat signifikan, sebut Amir, mencalonkan secara dini. Pemilu serentak 2019 menyandera demokrasi karena sistem pemilu harusnya terpisah dengan ambang batas presiden,” Amir berpendapat. []Madi Cakra/RE


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here