Fahri Hamzah: Lembaga Survei Makin Gila Lakukan ‘Framing’ Jelang Pencoblosan

Ilustrasi: Mobilisasi lembaga survei | Foto: beritametro.news - PemiluUpdate.com

Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyebutkan ada upaya penggiringan opini publik secara sesat yang dilakukan oleh lembaga survei menjelang hari pencoblosan Pemilu 2019, 17 April mendatang. Sepatutnya, hasil survei hanya disampaikan kepada pihak yang membiaya alias tertutup.

Atas maraknya –bahkan semakin gilanya– publikasi hasil data dan informasi yang disebut-sebut hasil survei pemilu, menurut Fahri, lembaga survei dimaksud sesungguhnya dibayar mahal guna melakukan framing demi kepentingan pemenangan kontestan pemilu tertentu. Lembaga yang seharusnya menjalan prinsip ilmiah justru tidak mencari fakta.

“Tugas mereka framing, bukan mencari fakta. Mereka dibayar untuk framing, bukan untuk mencari fakta,” ujar Fahri di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 4 April 2019.

Ditambahkan, survei sebenarnya bertujuan mencari tahu apa yang terjadi di masyarakat. Hasilnya lalu diserahkan kepada pemesan untuk pengambilan keputusan obyektif.

Fahri menuturkan hasil survei juga sering digunakan untuk menyerang kelompok tertentu. Fahri merujuk hasil survei LSI Denny JA yang menyebut pemilih Calon Presiden (Capres) Joko Widodo atau Jokowi dari kelompok Front Pembela Islam (FPI) hanya berbeda tipis dengan Capres Prabowo Subianto. “Itu, kan, lucu. Ya, mereka memang dibayarnya untuk framing,” tegas Fahri.

Dalam satu pekan terakhir, beberapa lembaga survei mengeluarkan hasil surveinya. Survei LSI Denny JA menyebut elektabilitas Pasangan Calon (Paslon) Presiden Jokowi-Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebesar 56,8 persen hingga 63,2 persen. Sementara elektabilitas Paslon Prabowo-Sandiaga sebesar 36,8 persen hingga 43,2 persen.

Kemudian survei yang dilakukan Indo Barometer pada 15-21 Maret 2019 menunjukkan selisih elektabilitas antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga mencapai 18,8 persen. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 50,8 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 32 persen. Sisanya ialah mereka yang masih merahasiakan pilihannya sebesar 17,2 persen.

Sementara itu, lembaga survei asal Australia Roy Morgan merilis tingkat elektabilitas paslon petahana sebesar 56,5 persen dan Prabowo-Sandiaga 43,5 persen.

Adapun berdasarkan survei Indikator, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 55,4 persen dan Prabowo-Sandiaga 37,4 persen.

Menurut Fahri, saat ini peralihan suara banyak terjadi di kalangan bawah. Dia berpendapat lembaga survei tidak bisa mendapatkan gambaran atas dinamika yang ada akar rumput.

“Penduduk DKI saja dia nggak sanggup tangkap, kok, dinamikanya. Apalagi penduduk republik yang begini besar,” tandas Fahri. []GOOD INDONESIA-BISMA RIZAL


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here