BAMBANG EKA CAHYANA; Penyebar Virus!

Bambang Eka Cahyana / Foto: docplayer.com - GOOD INDONESIA

PT Pupuk Indonesia (Persero), selaku perusahaan holding pupuk, memilih dan menetapkan Bambang Eka Cahyana sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pupuk Kujang. Keputusan diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, medio Oktober 2019.

Pengangkatan Bambang menjadi dirut baru melengkapi jabatan susunan dewan direksi, yang sebelumnya ditempati Rita Widayati selaku pejabat pelaksana tugas. Siapa Bambang Eka Cahyana?

Kerja keras dan semangat mempelajari sesuatu hal baru boleh dikatakan sebagai kunci sukses Bambang menjalani karirnya. Sebelum didapuk memimpin Pupuk Kujang, ia dipercaya menjabat Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I), meski latar pendidikannya sarjana kehutanan,

Bambang tak ragu menjalani amanah yang diembannya. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bergerak cepat memperkaya pengetahuannya seputar tata laksana pelabuhan dan perkapalan. Di era kepemimpinannya, bisnis Pelindo I semakin berjaya.

Bambang dinilai banyak pihak cukup berhasil mengembangkan Pelindo I menjadi salah satu operator pelabuhan terbesar di Indonesia. Wilayahnya mencakup Selat Malaka, salah satu perairan tersibuk di dunia dengan rata-rata 217 kapal lalu lalang setiap hari.


Karena Sahabat

Pria kelahiran Bantul, 15 Mei 1967, tersebut awalnya bercita-cita membangun karier di perusahaan perhutanan. Karenanya, pasca lulus UGM pada 1991, ia mendaftar ke Perum Perhutani.

[Baca juga: Larangan ASN, TNI/Polri, dan BUMN/BUMD Terlibat Pemenangan Kandidat]

Bambang diterima dan bekerja di Perum Perhutani Unit I di Jawa Timur sebagai staf biro satuan pengawas internal (SPI). Kala itu ia masih berstatus sebagai calon pegawai dengan gaji sebesar Rp 450.000 per bulan. Setelah bekerja kurang lebih satu tahun, ia bertemu seorang temannya yang berkarir di PT Unilever Indonesia Tbk.

Teman lama itu berbagi pengalaman tentang kariernya, termasuk soal besaran gaji. Bambang terkejut ketika mendengar cerita temannya bahwa gajinya Rp5 juta pada 1991.

Bambang Eka Cahyana / Foto: newsindonesiajitu.com – GOOD INDONESIA

Temannya itu mendapatkan gaji besar karena menamatkan pendidikan strata dua (S2) dengan gelar MBA. Bambang sontak terpengaruh mendapatkan gaji sebesar penghasilan temannya. Sejak hari itu, ia berpikir meneruskan kuliah.


Hidup Irit

Bambang lalu meninggalkan Perhutani. Pada 1992, ia melapor ke pimpinannya. Rencana pengunduran diri diutarakan.

Kala itu tidak mudah keluar. Perhutani menyarankan Bambang bertahan dengan iming-iming kenaikan jabatan. Dia juga berhadapan dengan orang tuanya yang menginginkan dirinya tetap bertahan di Perhutani. Posisi karyawan Perhutani merupakan kebanggaan di mata orang, menjadi alasan orang tua. Tapi Bambang bergeming.

Akhirnya, pada 1992, Bambang melanjutkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Manajemen PPM dengan beasiswa penuh. Kondisi ini sangat membantu Bambang. Pasalnya setelah keluar dari Perhutani, orang tuanya tidak lagi mau mengirimkan uang.

Ia mau tidak mau hidup irit. Kondisi serba kekurangan ini justru membawa berkah bagi Bambang karena pada 1994 ia berhasil menjadi lulusan terbaik.

Setelah lulus Bambang melamar ke sejumlah perusahaan ternama. Setelah melakukan wawancara di beberapa perusahaan, ia diterima dengan gaji yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang menawarkan gaji Rp5 juta, ada juga yang menawarkan Rp3,5 juta, dan terakhir ada yang menawarkan Rp1,5 juta. Pada waktu itu rata-rata gaji lulusan S2 di Jakarta sekitar Rp1,5 juta.

Setelah menimbang, Bambang bekerja di PT Samudera Indonesia. Namun ia tidak menerima gaji yang ditawarkan sebesar Rp 1,5 juta. Setelah melakukan negosiasi, ia mendapat gaji Rp2,5 juta.

Sebulan setelah bekerja di Samudera Indonesia, Bambang diberikan pekerjaan yang cukup menantang. Dia dipercaya bekerja di Kantor Pusat Samudera Indonesia di Slipi pada pagi hari. Sorenya, mulai pukul 14.00 WIB, ia bekerja di kantor cabang Samudera Indonesia di Tanjung Priok.


Tugas-tugas Menantang

Perjalanan kariernya Bambang di Samudera Indonesia terbilang cepat. Hanya setahun bekerja, ia diangkat menjadi Manager Terminal di Tanjung Priok. Sebagai manager, ia membawahi seluruh bisnis di pelabuhan Tanjung Priok. Dari sinilah, Bambang menguasai persoalan kepelabuhanan.

Saat Samudera Indonesia membangun pelabuhan di Surabaya. Dalam rangka pembangunan itu, sejumlah ahli pelabuhan dari luar negeri seperti Amerika Serikat (AS) datang ke Indonesia.

Bambang Eka Cahyana / Foto: tabloidmaritim.com – GOOD INDONESIA

Bambang memanfaatkan pertemuan dan kerja samanya dengan para ahli pelabuhan itu untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan. Kemauannya untuk belajar hal yang baru membuat Bambang mendapat segudang pengetahuan.

Dua tahun kemudian, tepatnya 1997, Bambang naik jabatan menjadi Deputy General Manager (GM) Terminal. Tak berselang lama, tepatnya pada 1999, ia menduduki jabatan GM Terminal di Samudera Indonesia.

Kemudian pada 2003, ia juga diminta merangkap jabatan sebagai GM Shipping di Samudera Indonesia sampai 2008. Di sini, Bambang belajar soal perkapalan. Kemudian pada 2007, ia terlibat dalam tender yang diadakan PT Pelindo IV.

Waktu itu, Samudera Indonesia memenangi tender pembangunan terminal di Samarinda. Terminal ini harus dipindahkan karena sudah berada di tengah kota.

Pelindo IV yang tidak punya uang cukup membutuh mitra untuk Operate and Transfer (BOT) selama 50 tahun. Hal ini membawa Bambang mulai berkenalan dengan pemerintah. Ia mempresentasikan programnya ke Menteri BUMN yang saat itu dijabat Sofyan A. Djalil.

Bambang merinci potensi pasar di Kota Samarinda dalam beberapa tahun ke depan. Mengingat kota ini tidak memiliki banyak industri makanan. Praktis, semua makanan di datangkan dari Jawa. Kondisi ini berarti Samarinda membutuhkan pelabuhan besar.

Gagasan ini membuat Bambang dilirik untuk memimpin Pelindo I. Ia dinilai cakap dalam mengelola pelabuhan. Apalagi, ia kemudian diminta membuat business plan, dan business focus Pelindo di masa depan. Ia pun memfokuskan Pelindo sebagai operator dan bukan sekedar regulator agar pendapatannya bisa meningkat drastis.

Pada 2009, Bambang diminta Sofyan ikut tes masuk ke Pelindo, dan menjabat sebagai Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Pelindo I di Medan. Awalnya, Bambang enggan menerima jabatan ini karena berada di luar Pulau Jawa. Tapi karena diimingi-iming jabatan direktur utama kalau berhasil, ia luluh juga.

Sebelum masuk ia diminta membereskan permasalahan Pelindo I, antara lain, soal investasi yang lambat, produktivitas rendah sehingga banyak kapal yang mengantre, kaderisasi tidak berjalan bagus, dan cara berpikir yang sangat birokratis.

Bambang minta waktu tiga tahun untuk membereskan ini. Bambang lalu mulai mengubah peta bisnis Pelindo I. Ia meningkatkan investasi. Salah satu sumber dananya adalah utang bank. Bisnis Pelindo I pelan-pelan bangkit. Meskipun sempat mendapat penolakan dari karyawan perusahaan, tetapi ia berhasil meyakinkan mereka. Akhirnya bisnis perusahaan pelat merah ini pun mulai bangkit.

Baru masuk Pelindo I, pendapatan perusahaan ini Rp1 triliun dan laba Rp138 miliar. Pada 2015, pendapatan Pelindo naik jadi Rp2,3 triliun dengan laba Rp 700 miliar. Ini peningkatan yang sangat signifikan, tentunya.

Ke depan, jika semua lini usaha sudah beroperasi, kinerja Pelindo bakal meningkat lagi. Tahun ini, Bambang menargetkan laba Rp 1 triliun, lebih tinggi dari angka di tahun 2016, yaitu Rp750 miliar.

Salah satu kunci sukses Bambang adalah menunjukkan visi yang jelas kepada para bawahannya. Ia juga bertindak tegas pada pelanggaran dan memberikan penghargaan pada karyawan berprestasi. Ia juga selalu memberikan contoh, tidak cuma memberi perintah, apalagi berteori.


Energi Positif

Hari ini, sekitar sebulan di Pupuk Kujang, Bambang berusaha membangun semangat seluruh komponen perusahaan yang berpusat di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Dalam beberapa kesempatan, ia justru menyatakan bahwa dirinya memperoleh energi positif dari segenap karyawannya.

“Dengan energi positif akan lebih mudah bagi saya sebagai pimpinan baru mengajak teman-teman bisa berubah untuk maju ke yang lebih baik. Kita berada di tengah persoalan strategis yang dihadapi Pupuk Kujang, yaitu tingginya pasokan gas,” ungkap Bambang pada sebuah kesempatan bersama karyawan.

Menurutnya, energi positif seluruh karyawan merupakan modal penting dalam mendukung produktivitas perusahaan. Soal ini berlaku di aspek produksi, pengembangan, dan pemasaran.

Ya, Sang Dirut berusaha memberikan semangat kepada bawahannya, tetapi dikatakan dirinya memiliki tekad kuat karena menerima energi positif yang luar biasa dari segenap karyawan. Ia penyebar virus (positif). Begitulah Bambang!


Wafat

Sektor industri Indonesia berduka. Pada Jumat, 3 April 2020, Bambang mengembuskan napas terakhir.

“Kabar duka menyelimuti keluarga besar PT Pupuk Kujang. Telah berpulang ke Tuhan Yang Maha Esa, Direktur Utama PT Pupuk Kujang Bambang Eka Cahyana, pada hari ini, Jumat 03 April 2020. Mohon doa terbaik semoga Tuhan YME memberikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan,” ucap Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Kujang melalui rilis persnya.

Disampaikan pula bahwa rumah duka berada di Cibubur, Bogor, Jawa Barat, dan di Kelurahan Palbapang, Bantul, Yogjakarta. []GOOD INDONESIA-RMK/LMC


[Update: 3/4/2020, pukul 15.41 WIB]


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here