Masihkah Indonesia Paru-paru Dunia?

Hutan tropis Indonesia (Foto: greenpeace.org - GOOD INDONESIA)

Alam Indonesia membentang mengikuti Garis Wallacea, Garis Weber, dan Garis Lydekker. Posisi negara kepulauan di tiga bentang alam yang berbeda ini membuat keanekaragaman hayati sangat tinggi.

Sebagian besar kekayaan flora dan fauna itu berada dalam hutan tropis yang sangat luas. Bicara luas, hutan tropis Indonesia berada di peringkat ketiga, di bawah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo (sebelumnya bernama Zaire).

#GOODpeople tidak hanya perlu bangga karena luarnya, isi daratan penuh pepohonan dimaksud menyimpan harta karun hayati yang amat unik.

Tipenya mulai hutan-hutan dipterocarpaceae dataran rendah yang nan hijau di Sumatera dan Kalimantan umumnya hingga hutan-hutan monsun musiman, dan padang savana di Nusa Tenggara. Ada pula hutan nondipterocarpaceae dataran dan kawasan Alpin di Papua.

Negeri dengan sekitar 17 ribu pulau ini menyimpan hutan mangrove terluas di dunia. Luasnya diperkirakan 4,25 juta hektar pada 1990-an.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan keanekaragamanhayati Indonesia sebagai berikut:

– 1.500 jenis alga
– 80.000 jenis tumbuhan berspora berupa jamur (seperti kriptogam)
– 595 jenis lumut gerak
– 2.197 jenis paku-pakuan
– 40.000 jenis flora tumbuhan berbiji (15.5% total flora dunia)
– 8.157 jenis fauna vertebrata (mamalia, burung, herpetofauna, dan ikan)
– 1.900 jenis kupu-kupu (10% total dunia)

Dokumentasi pengetahuan seputar hutan tropis Indonesia disumbang oleh A. F. W. Schimper, ahli tumbuhan Jerman. Hasil riset Schimper tentang hutan tropis masih relevan sebagai referensi hingga saat ini.

Menurutnya, hutan tropis berciri pepohonan setinggi minimal 30 meter, menyerap air, selalu hijau, dan basah. Komunitas tumbuhan dipenuhi liana berbatang dan epifit yang menempel di mana-mana.

Namun hutan tropis ternyata bukan saja yang memiliki curah hujan tinggi, tetapi mencakup pula hutan musim (monsun). Tipe hutan monsun dicirikan dengan gugur daun pada musim panas (Whitmore, 1984). Collins et al. (1991) menyatakan hutan monsun tropis berada di Jawa Timur, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara. Juga hingga Papua bagian Selatan dan Sulawesi sisi Utara dan Selatan.


Pembiaran Deforestasi

Berderet buku dan mengular artikel tentang paru-paru dunia berikut isinya yang duduk di Indonesia. Kekayaan tak terkira ini tentu membuat #GOODpeople sekalian bangga bukan kepalang.

Namun peneliti World Resources Institute (WRI) Indonesia mengingatkan agar kebanggaan atas kekayaan tersebut tak membuat lupa kerusakan hutan oleh tahan jahil dan kebijakan pemerintah yang kurang tepat.

Pembukaan lahan untuk industri (Foto: elshinta.com – GOOD INDONESIA)

Penelitian Charles Victor Barber, Emily Matthews, David Brown, Timothy H. Brown, Lisa Curran dan Catherine Plume yang dibukukan dengan judul “Keadaan Hutan Indonesia” (Desember 2014) menyimpulkan terjadinya deforestasi. Jika keadaan ini tidak dicegah secara super serius maka dapat mengubah Indonesia menjadi negara miskin hutan.

Disimpulkan bahwa tragedi sedang berlangsung. “Keajaiban ekonomi” pada 1980 hingga 1990-an ternyata telah disertai kehancuran ekologis dan penyalahgunaan hak dan adat istiadat masyarakat lokal.

Pendirian industri pulp dan kertas telah membumihanguskan hutan alam. Aktivitas atas nama pertumbuhan ekonomi dipenuhi pelanggaran hukum dan korupsi. Konsep manis aktivitas industri yang diproklamirkan ramah lingkungan cuma menjadi fakta di atas kertas.

Penebangan liar yang menggila sema bertahun-tahun diyakini paling tidak 10 juta hektar hutan. Industri kayu beroperasi di tengah ketidakjelasan dan pelanggaran hukum. Kayu diselundupkan melintasi perbatasan berlangsung di depan hidung aparat berwajib.

Soal yang #GOODpeople perlu prihatinkan, yakni walaupun bukti-bukti kehancuran dipresentasikan demikian banyak, pihak-pihak tidak bertanggung jawab di pemerintahan secara masif menyajikan informasi tandingan yang tidak sesuai fakta di lapangan.

Sulit rasanya memperoleh data luasan hutan Indonesia yang sebenarnya. Di tengah data manis seputar kekayaan hutan Indonesia, berikut isinya, buku tersebut justru menyuguhkan terjadi deforestasi yang tidak main-main.

Bila kebijakan resmi dan “tidak resmi” pemerintah terus melanggengkan perambahan hutan alam yang tersisa maka Indonesia tinggal menunggu waktu kehancurannya. Demi profit besar kalangan pebisnis tak bertanggung jawab dan kelompok pihak yang mementingkan kantong pribadi, keping demi keping tubuh hutan dipreteli.

Indonesia pada seratus tahun lalu masih memiliki hutan yang benar-benar perawan. Pepohonan menutupi 80 sampai 95 persen luas lahan. Tutupan hutan total pada waktu itu diperkirakan sekitar 170 juta hektar.

Saat ini, tutupan hutan sekitar 98 juta hektar, dan paling sedikit setengahnya diyakini sudah mengalami degradasi akibat kegiatan manusia dan industri.

Tingkat deforestasi makin meningkat, Indonesia kehilangan sekitar 17 persen hutannya pada 1985 hingga 1997. Rata-rata, negara kehilangan sekitar satu juta hektar hutan setiap tahun pada tahun 1980-an, dan sekitar 1,7 juta hektar per tahun pada 1990-an.

Sejak 1996, deforestasi malah meningkat, yakni sampai sekitar dua juta hektar per tahun. Pada tingkat ini, seluruh hutan dataran rendah Indonesia –bagian yang paling kaya akan keanekaragaman hayati dan berbagai sumber kayu– akan raib dalam dekade mendatang (Holmes, 2000). Mau?

Kebakaran atau pembakaran hutan dan lahan? (Foto: brilio.net – GOOD INDONESIA)

WRI menyimpulkan jalan satu-satunya guna menyelamatkan sumber kehidupan puluhan juta warga yang bergantung langsung pada hutan –meskipun sulit, yakni “merebut kembali” lahan yang saat menganggur dan melestarikan hutan primer yang masih tersisa.

“Enam puluh empat juta hektar hutan telah ditebang selama 50 tahun terakhir. Tidak ada pembenaran ekonomi maupun etika untuk membiarkan 64 juta hektar lagi hilang selama 50 tahun ke depan,” tegas Togu Manurung, direktur Forest Watch Indonesia, dan Presiden World Resources Institute Jonathan Lash dalam buku tersebut.


Membakar Lahan Gambut

Greenpeace juga menangis akan kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia. Disebutkannya, hutan tropis dan lahan gambut kaya karbon telah dirusak oleh kegiatan industri minyak sawit dan pulp. Situasi inilah yang menempatkan Indonesia salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Lembaga peduli lingkungan itu mengingatkan kehancuran hutan Indonesia jelas mengancam dunia. Lahan gambut menyimpan karbon paling kritis di dunia. Lahan gambut di Indonesia diperkirakan menyimpan 35 miliar ton karbon.

Dan, pembakaran lahan gambut di Indonesia masih saja berlangsung, tanpa penindakan signifikan terhadap pemilik perusahaan raksasa. Sejauh ini aparat hukum cuma warga lokal yang sebatas mencari makan sehari-hari. []GOOD INDONESIA-RE


Rujukan
:
Mongabay.co.id
Keadaan Hutan Indonesia, 2014
Indonesia.go.id
Greenpeace.org.au


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here