Warga Irak Usir Tentara AS Pakai Batu, Pemerintah Tak Berdaya

Baghdad – Gedung Putih menegaskan tidak mau tunduk pada tekanan Irak agar menarik tentaranya. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) hanya berbicara dengan Baghdad terbatas soal struktur keberadaan pasukannya di Irak.

Penegasan itu kembali digaungkan seiring pemungutan suara di parlemen Irak soal bertahan atau keluarnya tentara AS dari Irak. Hasilnya voting; keberadaan militer AS tidak dikehendaki lagi di Irak.

Parlemen menggelar sidang tersebut pekan lalu pasca pembunuhan Jenderal Iran Qassem Suleimani oleh pasukan AS, melalui serangan pesawat tak berawak (drone) di Baghdad.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan AS hanya mau membahas rekonfigurasi Irak. Mereka cuma akan bicara menyangkut kontribusi pasukan NATO yang lebih besar di Irak.

Pompeo menegaskan pembunuhan Suleimani bukan “tak berdasar”, bukan pula bentuk pelanggaran kedaulatan Irak. AS, menurutnya, memiliki bukti kuat Suleimani “telah merencanakan serangan besar-besaran dalam waktu dekat terhadap fasilitas AS di seluruh wilayah, termasuk Kedutaan Besar AS”.


Demonstrasi Besar-besaran

Puluhan ribu warga Irak melakukan demonstrasi di Baghdad dan kota-kota lainnya di Irak bagian Selatan pada Jumat (10/1/2020).

Aspirasi yang diusung demonstran, yakni protes atas maraknya korupsi kalangan birokrat dan penentangan segala upaya menyeret Irak ke dalam arena perang regional.

“Kami mengutuk ayatollah Iran dan Amerika,” teriak pengunjuk rasa di alun-alun Baghdad.

Seorang pengunjuk rasa meneriakkan protesnya kepada politisi Irak. “Partai-partai ini semuanya adalah ekor tuan mereka di Iran,” kata seorang pengunjuk rasa wanita yang menutupi wajahnya dengan bendera Irak.

Demonstrasi kali ini sungguh dramatis. Massa pada siang tumpah-ruah hingga hanya beberapa ratus meter saja dari Tahrir Square di pusat kota.

Unjuk rasa berlangsung hingga malam hari. Kaum ibu bersama anak-anak mereka serta remaja perempuan dan laki-laki menyatu dengan demonstran dewasa menyesaki alun-alun hingga tumpah ke jalan-jalan sekitarnya.

Sementara di pinggiran kota, warga yang terdiri atas lelaki dewasa bersama kaum ibu dan anak-anak melempari konvoi tentara AS. Aksi ini sebagai bentuk dukungan atas desakan penarikan militer AS dari negaranya.


Sanksi Ekonomi Baru

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Irak menolak klaim bahwa AS sedang berdiskusi dengan Perdana Menteri sementara Irak Adel Abdul Mahdi, tentang syarat-syarat penarikan AS.

Sang Juru Bicara mengatakan, “Setiap delegasi AS yang dikirim ke Irak akan berkomitmen khusus membahas kemitraan strategis dengan Irak. Bukan untuk membahas penarikan pasukan.”

Awal pekan ini, Presiden AS Donald J. Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Irak jika menolak mengusir pasukan AS. Irak dipastikan “membayar mahal” jika terjadi penarikan tentara AS.

Memang ada pertanyaan besar tentang dasar hukum pasukan AS berada di Irak, yang sejauh ini tak sepenuhnya dapat dijawab pihak AS.


Uni Eropa Bahas Nuklir Iran

Sebanyak 5.500 tentara AS berada di Irak. AS terus mempengaruhi para pejabat NATO agar peningkatan kontribusi non-AS NATO di Irak. Kekuatan multinasional sebagian besar selama ini diarahkan untuk melatih tentara Irak dalam perang melawan ISIS.

AS berpendapat keputusan parlemen Irak tidak mengikat. Legitimasinya cacat karena faksi Kurdi atau Sunni tidak berpartisipasi.

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa bertemu di Brussels untuk membahas keputusan Iran membatalkan semua komitmennya terhadap perjanjian kesepakatan nuklir.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan kesepakatan itu “masuk akal” karena mengikat Iran tidak mengembangkan senjata nuklir: []GOOD INDONESIA-RUT


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here