Sejarah Lahir TVRI dan Nasib Media Pemersatu Bangsa

TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah bertugas sebagai "pemersatu bangsa" (Foto: mmc.kalteng.go.id - GOOD INDONESIA)

Televisi Republik Indonesia (TVRI) mengudara kali pertama pada 24 Agustus 1962. Siaran langsung perdana Stasiun televisi pertama di Indonesia ini, yakni pembukaan Asian Games IV/1962 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Reporter Alex Leo melaporkan pesta olahraga tersebut. Siaran langsung yang masih berlayar hitam-putih dilakukan pada pukul 15.17 WIB hingga 16.40 WIB. Kemudian dilanjutkan pada 20.45 WIB. Momentum siaran perdana ini dijadikan tonggak hari jadi TVRI.


Grup Musik Pertama di Layar Kaca

Menarik diketahui, Orkes Kumbang Tjari merupakan grup musik pertama yang tampil di TVRI –sekaligus di layar kaca pertama di Indonesia– ketika stasiun televisi pemerintah itu diresmikan tahun 1962. Orkes ini menampilkan musik Minangkabau bernuansa rock n roll.

Saat dipercaya tampil membuka peresmian TVRI, sebetulnya grup musik ini baru terbentuk setahun sebelumnya. Pendirinya Nuskan Sjarif, sang gitaris.

“Petikan2 gitar Nuskan Sjarif sering mengingatkan orang akan bunji alat2 musik asli Minang seperti talempong, rebab, dan saluang,” tulis Hasmanan dari Orkes Gumarang dalam testimoni di cover piringan hitam Kumbang Tjari.

“Sebagai orkes baru jang masih harus berdjuang memenangkan simpatik dan popularitas, menarik sekali nafas dan penghajatan jang diberikan ’Kumbang Tjari’ terhadap lagu-lagunja. Hidangan2 mereka terasa masih dekat sekali kepada tjara lagu2 rakjat asli Minang dibawakan,” demikian Hasmanan dari Orkes Gumarang.

Bersama bintangnya, Elly Kasim, Kumbang Tjari membesut sejumlah lagu. Antara lain, Mak Tatji, Kumbang Djanti, Kaparinyo, Dayuang Palinggam, Bareh Solok, Main Kim, Lamang Tapai, dan Ayam Den Lapeh.

Kumbang Tjari juga mengisi acara pembukaan Bali Room, Hotel Indonesia, dan kemudian tampil bersama Gumarang serta Taruna Ria dalam pertunjukan bertajuk “Tiga Raksasa” di Istora Senayan.

Sejak tampil meresmikan TVRI, kelompok ini kian naik daun. Mereka mendadak tersohor di seantero penikmat musik Nusantara.

Kumbang Tjari pernah vakum ketika Nuskan Sjarif yang seorang guru SMP Negeri 1 Padang ditempatkan di daerah Sukarnapura (sekarang Jayapura), Papua, pada Juli 1963.

Grafis sejarah TVRI (Foto: youtube.com – GOOD INDONESIA)


Napak Tilas Kelahiran TVRI

Pada 1961, Pemerintah Indonesia berencana memasukkan media massa, khususnya televisi, dalam perencanaan penyelenggaraan Asian Games IV.

Keberadaan televisi dianggap penting untuk menyiarkan pertandingan Asian Games 1962 yang berlangsung di Indonesia. Pemerintah menilai hajat internasional ini penting diketahui rakyat di seluruh penjuru tanah air.

Keluarlah Surat Keputusan (SK) Menteri Penerangan Nomor 20/SK/M/1961 tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T).

SK tersebut diperkuat oleh arahan Presiden Republik Indonesia (RI) Soekarno untuk segera mempersiapkan proyek televisi dengan membangun studio di Senayan, membangun dua pemancar 100 watt dan 10 kw dengan tower 80 meter, dan mempersiapkan program terkait pertelevisian.

Saat itu, 23 Oktober 1961, Presiden Soekarno sedang di Wina. Arahan dikirim via teleks ke Menteri Penerangan Maladi. Waktu persiapan hanya 10 bulan.

“TVRI adalah bagian dari proyek mercusuar pemerintahan Soekarno,” tulis Agus Sudibyo dalam ‘TVRI, Sejarah, dan Kendala Menuju Televisi Publik’ yang termuat dalam buku Ekonomi Politik Media Penyiaran.

“Sebuah proyek yang menempatkan gengsi bangsa di mata dunia luar sebagai prioritas utama,” papar Agus.

Kerja keras persiapan berbuah. Pada 17 Agustus 1962, TVRI mulai mengadakan siaran percobaan. Peringatan milad Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, menjadi target peliputan. Siaran percobaan ini menggunakan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt.

Saat Asian Games berlangsung, TVRI menyiarkan pertandingan berbagai cabang olahraga.

Usai Asian Games pada 4 September 1962, TVRI belum memiliki program siaran, Karenanya pada 5 September 1962, materi siaran yang dipancarkan adalah film produksi Pusat Film Negara (PFN), yang hanya memunculkan suara tanpa gambar. Masih seperti radio.

Durasi siaran 30 menit selama lima kali seminggu, dari Senin hingga Jumat. Pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, tak ada siaran.

Pada 12 November 1962, TVRI mulai menyiarkan program rutin setiap hari dari studio. Selanjutnya, pada 14 November 1962, siaran langsung piano tunggal Supardi.


TVRI Daerah

Pembangunan stasiun penyiaran daerah dirintis pada 1964, dimulai dengan TVRI Stasiun Yogyakarta, yang melakukan siaran percobaan. Tayangannya berupa relay dari Jakarta.

Percobaan teknik kedua adalah percobaan master control. Percobaan awal belum maksimal sehingga gambar sering kabur dan suara tidak terang.

Setelah di Yogyakarta, Stasiun TVRI Medan, Surabaya, Makassar, Manado, Denpasar, dan Balikpapan menyusul dibangun.

Pembangunan Stasiun Produksi Keliling (SPK) mulai pada 1977. Dilaksanakan secara bertahap di beberapa ibu kota provinsi. SPK berfungsi sebagai perwakilan atau koresponden TVRI di daerah. Lokasi SKP:

1. Jayapura
2. Ambon
3. Kupang
4. Malang (1982, diintegrasikan dengan TVRI Stasiun Surabaya)
5. Semarang
6. Bandung
7. Banjarmasin
8. Pontianak
9. Banda Aceh
10. Jambi
11. Padang
12. Lampung

Programa ‘Dunia Dalam Berita’ yang mencuri hari pemirsa (Foto: video.com – GOOD INDONESIA)


Menjadi Televisi Publik

Status pada era Orde Baru pada 1974, TVRI diubah menjadi salah satu bagian dari organisasi dan tata kerja Departemen Penerangan, yang diberi status Direktorat. Pelaksananya bertanggung jawab pada Direktur Jendral Radio, Televisi, dan Film, Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Sebagai media plat merah, TVRI bertugas sebagai corong kebijakan pemerintah. Ada kebijakan two-way traffic (lalu lintas dua arah), informasi dari rakyat untuk pemerintah dibuka, sepanjang tidak mendiskreditkan penguasa.

Kebijaksanaan pemerintah harus dapat diterjemahkan oleh insan TVRI melalui siaran dari studio di ibu kota negara dan daerah secara cepat, tepat, dan terkendali. TVRI memang dirancang menjadi well-integrated mass media dalam garis kebijakan pemerintah.

Pada 1975, diterbitkan SK Menteri Penerangan (Menpen) Nomor 55 Bahan siaran/KEP/Menpen/1975. Dalam hal ini TVRI memiliki status ganda, yaitu bagian Yayasan Televisi RI dan Direktorat Televisi.

Di era Reformasi pada Juni 2000, keluar Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2000 tentang perubahan status TVRI menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), yang secara kelembagaan berada di bawah pembinaan dan bertanggung jawab kepada Departemen Keuangan RI.

Pada Oktober 2001, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 64 tahun 2001 tentang pembinaan Perjan TVRI di bawah kantor Menteri Negara BUMN untuk urusan organisasi dan Departemen Keuangan Republik Indonesia dalam urusan keuangan.

Pada 17 April 2002, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2002. Status TVRI diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) TVRI di bawah pengawasan Departemen Keuangan RI dan Kantor Menteri Negara BUMN.

Selanjutnya melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, TVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara.

Semangat yang mendasari lahirnya TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik adalah menghadirkan informasi untuk kepentingan publik, bersifat netral, mandiri, dan tidak komersial. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2005 menetapkan bahwa tugas TVRI adalah memberikan pelayanan informasi, pendidikan, dan hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa.


Jangkau Seluruh Wilayah RI

TVRI sebagai stasiun televisi tertua di Indonesia dan satu-satunya televisi yang jangkauannya mencapai seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah penonton sekitar 82 persen penduduk Indonesia.

TVRI saat ini memiliki 27 stasiun daerah dan 1 stasiun pusat didukung oleh 376 satuan transmisi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ke-27 stasiun daerah tersebut sebagai berikut:

1.TVRI Stasiun DKI Jakarta
2.TVRI Stasiun Nangroe Aceh Darussalam
3.TVRI Stasiun Sumatera Utara
4.TVRI Stasiun Sumatera Selatan
5.TVRI Stasiun Jawa Barat dan Banten
6.TVRI Stasiun Jawa Tengah
7.TVRI Stasiun Jogyakarta
8.TVRI Stasiun Jawa Timur
9.TVRI Stasiun Bali
10.TVRI Stasiun Sulawesi Selatan
11.TVRI Stasiun Kalimantan Timur
12.TVRI Stasiun Sumatera Barat
13.TVRI Stasiun Jambi
14.TVRI Stasiun Riau dan Kepulauan Riau
15.TVRI Stasiun Kalimantan Barat
16.TVRI Stasiun Kalimantan Selatan
17.TVRI Stasiun Kalimantan Tengah
18.TVRI Stasiun Papua
19.TVRI Stasiun Bengkulu
20.TVRI Stasiun Lampung
21.TVRI Stasiun Maluku dan Maluku Utara
22.TVRI Stasiun Nusa Tenggara Timur
23.TVRI Stasiun Nusa Tenggara Barat
24.TVRI Stasiun Gorontalo
25.TVRI Stasiun Sulawesi Utara
26.TVRI Stasiun Sulawesi Tengah
27.TVRI Stasiun Sulawesi Tenggara


Siaran VHF dan UHF

Siaran TVRI menggunakan dua sistem; VHF dan UHF. menyusul berdirinya stasiun pemancar Gunung Tela di Bogor pada 18 Mei 2002. Kekuatannya 80 Kw. Kota-kota yang telah menggunakan UHF, yaitu Jakarta, Bandung dan Medan, selain beberapa kota kecil seperti di Kalimantan dan Jawa Timur.

TVRI dewasa ini, dengan perubahan status TVRI dari perjan ke televisi publik sesuai Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran maka TVRI diberi masa transisi selama tiga tahun. Acuannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2002, bahwa TVRI berbentuk persero atau PT.

Melalui badan persero, pemerintah mengharapkan direksi TVRI melakukan pembenahan bidang manajemen, struktur organisasi, SDM, dan Keuangan. Sehubungan dengan ini direksi melakukan konsolidasi, melalui restrukturisasi, pembenahan di bidang marketing dan programing, mengingat sikap mental karyawan membuat hampir semua acara mengacu status perjan yang kurang memiliki nilai jual.

Bertepatan peringatan hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2003, TVRI mengoperasikan kembali seluruh pemancar stasiun relay TVRI sebanyak 376 buah, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-44 (24 Agustus 2006), TVRI resmi menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Programa 2 TVRI juga memiliki Programa 2 Jakarta, pada saluran/channel 8 VHF.

Programa 2 mulai mengudara pada April 1989 dengan acara tunggal siaran berita bahasa Inggris dengan nama “Six Thirty Report” selama setengah jam pada pukul 18.30 WIB, di bawah tanggung jawab Bagian Pemberitaan. Pada perkembangannya rubrik ini berubah nama menjadi “English News Service” (ENS).

Programa 2 TVRI kini mengudara mulai pukul 16.00-21.00 WIB dengan berbagai jenis sajian berita dan hiburan. Ada negosiasi dengan pihak swasta untuk bekerja sama di bidang manajemen produksi dan siaran Programa 2 TVRI Jakarta dan sekitarnya, dengan adanya rencana perubahan frekuensi dari VHF ke UHF.

Bidang siaran lebih menekankan paket-paket jadi (can product) dengan materi siaran untuk konsumsi masyarakat metropolitan Jakarta.

Peluncuran logo baru TVRI (Foto: lasak.id – GOOD INDONESIA)


Tergusur Televisi Swasta

Pada 1976, satelit Palapa A1 diresmikan sebagai unsur Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Satelit ini memungkinkan TVRI mendistribusikan siarannya menjadi lebih luas. Memasuki 1980, TVRI memperkenalkan sistem dual channel, ada siaran nasional dan lokal.

SKSD juga membuka keran munculnya televisi swasta di Indonesia. Pada 24 Agustus 1989, lahirlah stasiun televisi kedua di Indonesia bernama Rajawali Citra Televisi atau lebih dikenal dengan singkatan RCTI.

RCTI dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, anak Presiden RI Soeharto. Menyusul pada 24 Agustus 1990, lahir stasiun televisi ketiga bernama Surya Citra Televisi atau SCTV. Sebelumnya, SCTV bernama SCTI atau Surabaya Centra Televisi Indonesia. SCTV milik Sudwikatmono.

Setelah RCTI dan SCTV, perkembangan stasiun televisi swasta bertumbuh pesat. Berikut televisi swasta yang mendampingi TVRI:

1. RCTI (1989)
2. SCTV (1990)
3. TPI (1991)
4. Indosiar (1992)
5. ANTV (1992)
6. Trans TV
7. Metro TV
8. Global TV
9. Lativi (tvOne)
10. TV7 (Trans7)

Siaran stasiun televisi swasta yang lebih ngepop mengakibatkan TVRI ditinggalkan pemirsa, khususnya di perkotaan. Hal ini mencuatkan pertanyaan besar akan tanggung jawab TVRI sebagai “kanal pemersatu bangsa”.

Masihkah TVRI menjalankan fungsi “pemersatu” hari ini, saat Indonesia cenderung tercabik oleh gerakan politik sempit? []GOOD INDONESIA-RE


Rujukan
:
Wikipedia.org
Kompas.com
Jpnn.com


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here