Asal Nama ‘Karawang’, Kabupaten Bak Anyaman Indah

Curug Cigentis berada di sekitar 40 km dari pusat Karawang (Foto: maszaladventure.com - GOOD INDONESIA)

Hari jadi Kabupaten Karawang yang diperingati saban 14 September berdasar pelantikan Bupati Karawang pertama. Hari itu, 14 September 1633 Masehi/10 Maulid 1043 Hijriah, Raden Adipati Singaperbangsa dilantik sebagai nakhoda salah satu kabupaten di Jawa Barat (Jabar) ini oleh Sultan Agung.

Sulit dipungkiri, nama “Karawang” dikenal di seantero Indonesia, bahkan dunia, berkat puisi Chairul Anwar –penyair legendaris pada 1948. Puisi berjudul “Karawang-Bekasi” maestro Sastra ini merupakan ungkapan kesaksiannya Sang Penyair atas perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ya, menilik lembar sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, Karawang menorehkan nilai kejuangan tersendiri pada masa awal kemerdekaan. Tak heran bila kabupaten ini berjuluk “kota pangkal perjuangan”, selain sebagai lumbung beras di Jabar.

Chairil Anwar (Foto: wikipedia.org – GOOD INDONESIA)

Namun, GOOD INDONESIA kali ini tidak menguraikan sejarah panjang kelahiran Karawang, melainkan membahas secara singkat seputar asal-usul penamaan “Karawang”.

Informasi seputar munculnya nama “Karawang” sedikit-banyak membantu generasi hari ini memahami daerah yang kini terus menggeliat –kegiatan ekonomi dan sosial-kemasyarakatannya.


Krawang, Kerawang, atau Karawang?

Pertanyaan di atas cukup menggelitik, namun menarik. Mana yang benar, ya? Mengapa dinamai seperti yang dipakai sekarang? Bagaimana asal-usulnya dan apa maknanya?

Lafal “Krawang” atau “Kerawang” sering diucapkan warga di lingkungan Sunda dan Jawa ketika menyebut “Karawang”.

Sejarah dan makna di balik kata tersebut telah dikaji oleh beberapa tokoh dan maupun sejarawan. Menurut Prof. A. Sobana Hardjasaputra, guru besar sejarah di Universitas Padjajaran (buku Sejarah Purwakarta), Karawang merupakan salah satu wilayah Tatar Ukur, yaitu Ukur Karawang.

Tatar Ukur merupakan suatu wilayah kecil di wilayah atau di bawah Kerajaan Prabu Pandan Ukur, sehingga disebut Tatar Ukur atau Bumi Ukur.

Prabu Pandan Ukur kemudian diganti oleh Dipati Agung, yang pada masanya pemerintahannya terdapat delapan Ukur.

Karawang disebut Ukur Karawang, dengan tujuh wilayah lainnya; Ukur Maraja, Ukur Pasirpanjang, Ukur Biru (dua daerah), Ukur Curug Agung Kuripan, Ukur Manabaya, Ukur Sagaraherang.

Belakangan, Dipati Agung digantikan oleh menantunya, yakni Dipati Ukur (Raden Wangsanata) yang di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang (1580-1620).

Pada masa Dipati Ukur, ia merestrukturisasi wilayah menjadi sembilan wilayah Ukur, sehingga disebut “Ukur Sasanga”. Ukur Karawang tidak lagi menjadi nama Ukur karena Karawang-Wanayasa masuk Ukur Aranon –di samping Adiarsa, Ciampel, dan Tegalwaru yang masuk dalam Ukur Nagara Agung.

Raden Adipati Singaperbangsa (Foto: bogorkab.go.id – GOOD INDONESIA)

Kata “Karawang” ditemukan dalan naskah Sunda Kuna, yaitu Bujangga Manik. Dalam baris ke-365 tertulis, “Ditalian ra(m)bu tapih, diletengan leteng karang, leteng karang ti Karawang, leteng susun ti Malayu, pamuat aki puhuwang“.

Naskah Bujangga Manik saat ini menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian di Oxford, Inggris. Perpustakaan ini menerima naskah dimaksud dari seorang saudagar Newport bernama Andrew James, yang diperkirakan pada 1627 atau 1629.

Naskah ditulis dalam bahasa Sunda Kuna pada daun lontar, yang beberapa lembarnya telah rusak atau hilang.

Kata “Karawang” selanjutnya disebutkan berdasar kisah Cornelis de Houtman. Disebutkan bahwa de Houtman melakukan penyerangan terhadap pantai Utaranya Jawa, yaitu Jakarta dan “Krawang” pada 1596. Hal ini terdapat dalam karya Douwes Teenstra.

Berbeda dengan lidah orang Belanda, Portugis menyebut “Caravan” dalam arsip-arsip abad ke-16. Disebutkan bahwa pelabuhan-pelabuhan penting Kerajaan Padjadjaran adalah “Caravan” di sekitar muara Sungai Citarum, antara lain.

Dalam catatan perjalanan Cornelis Buijsero ke Banten pada abad ke-17 terdapat kata “Karawang”, namun penulisannya unik sebab beragam, yakni “Crauwan”, “Crawang”, dan “Krawang”. Soal ini dibahas dalam buku Cornelis Buijsero te Banten (1616-1618), yang dihimpun Jan Willem Ijzerman pada 1923.

Penyebutan “Krawang” terdapat dalam bagian “De lotgevallen der expeditie van de Comp. van St. Malo zijn ook door Buysero voldoende geschildern. Haar ‘generael’ Hans de Decker verliet bij Krawang de St. Michel in een boot en werd door Reael gevangen geno men op de reede v. Bantam“.

Dalam laporan tersebut dijelaskan Karawang salah satu pelabuhan internasional karena pernah disinggahi kapal besar dari Saint Malo, Perancis. Bahkan disebutkan sebagai saksi pertarungan hegemoni angkatan laut Benda dan Perancis.


Adalah Anyaman Indah

Kata “Karawang” pun terdapat dalam lembar sejarah Kolonial, literatur berbahasa Belanda maupun Inggris. Dalam bahasa Inggris berupa kamus A Dictionary of Sunda Language of Java yang diterbitkan di Batavia pada 1862.

Penulisnya Jonathan Rigg, anggota Batavian Society of Art and Sciences, yang juga pengusaha teh berkebangsaan Inggris yang tinggal di Buitenzorg (Bogor) bagian Selatan.

Rigg mendeskripsikan kata “Karawang” sebagai sebuah lattice work alias karya desain hias yang terbuat dari potongan kayu yang membentuk sebuah pola yang saling berhubungan serupa anyaman.

Dari sisi geografis, ia menyebut “Karawang” sebagai nama sebuah distrik di wilayah utama Batavia sisi Timur. Wilayah ini berada di mulut Citarum yang mengalir terpisah, namun semua berujung di laut.

Rigg juga merekomendasi untuk membaca definisi “Rawang” yang menggambarkan keadaan seperti kertas yang ujungnya robek atau terbelah.

Singkatnya, berdasar penelusuran nama, dapat disimpulkan bahwa “Karawang” bukan cuma daerah sarat sejarah, namun juga kota indah bak hiasan anyaman. Berbanggalah warga Karawang. []GOOD INDONESIA-RE


Dicuplik dari
:
Menelusuri Kata ‘Karawang’ dalam Lembar Sejarah” (Faisal Arifin, dosen Universitas Singaperbangsa, Karawang)
Jabarprov.go.id


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here