Hama Grayak Serang Jagung se-NTT, Stok Pestisida Dinas Pertanian Kosong

Hama grayak pada tanaman jagung [Foto: kampustani.com - GOOD INDONESIA]

Kupang – Hama ulat grayak menyerang tanaman jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak November 2019. Tercatat hingga kini tak kurang 7.888 hektar tanaman jagung milik petani rusak serangan hama ini. Ulat grayak merusak titik tumbuh tanaman jagung.

Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura NTT Mikdon Abola mengungkapkan hal tersebut kepada GOOD INDONESIA di kantornya, Jalan Polisi Militer, Kupang, Selasa, 11 Februari 2020.

Mikdon mengungkapkan hama grayak telah menyerang tanaman jagung warga di 18 kabupaten di NTT. Tanaman jagung yang rusak terluas di Kabupaten Flores Timur, mencapai 4000 hektar.

Dijelaskan, hama grayak muncul ketika curah hujan tidak menentu. Hama menyerang tanaman jagung yang baru saja tumbuh dan hingga menjelang panen.

“Ulat grayak ini sudah lama. Hama jenis ini muncul di Indonesia pada pertengahan tahun lalu. Di NTT muncul pada November 2019, pertama kali di Sumba Timur,” kata Mikdon.

Penyebaran hama grayak sangat cepat karena siklus hidupnya hanya 40 hari dengan jangkauan terbang mencapai 100 km. Ulat ini cepat tumbuh dan berkembang biak saat fase kupu-kupu.

Mikdon, yang saat diwawancarai GOOD INDONESIA didampingi Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Gabriel Gara Beni, menjelaskan sejauh ini hama grayak di NTT hanya menyerang tanaman jagung. “Semoga tidak menyerang tanaman lain,” tuturnya.

Ditambahkan, sepanjang cuaca dan curah hujan masih seperti sekarang maka hama grayak masih tetap berkembang. Semua daratan Sumba, Flores, Timor, dan Alor saat ini sudah terserang. Di Sabu dan Rote belum.

Mikdon Abola [Foto: Laurensius Leba Tukan – GOOD INDONESIA]


Langkah Basmi Hama

Pemerintah daerah menempuh dua langkah guna mengatasi hama grayak, yaitu cara manual dan penyemprotan.

“Kami minta masyarakat periksa tanaman pada pagi dan sore. Pungut lalu dimusnahkan. Tetapi dalam populasi besar, tidak bisa manual. Perlu penyemprotan bahan kimia dengan tetap mengedepankan pengendalian hama terpadu,” papar Mikdon lagi.

[Baca juga: Petani Bambu Jatiluhur Tersingkir di Kampung Sendiri]

Penyemprotan bahan kimia atau pestisida, menurut Mikdon, alternatif terakhir setelah upaya lain tidak memungkinkan.

Ditambahkan, Dinas Pertanian memiliki gudang brikade untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Gudang brigade di Lewa untuk wilayah Sumba, di daratan Flores ada di Magepanda, Lembor, dan Mbai. Untuk wilayah Timor ada di Kupang. Peralatan dan bahan-bahan kebutuhan petani disiapkan di sini.

Disayangkan karena pestisida untuk membasmi hama grayak dalam posisi kosong alias tidak tersedia. Dinas Pertanian sudah melaporkan kosongnya persediaan bahan kimia pembasmi hama di NTT kepada pemerintah pusat.

Inche D.P. Sayuna [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]


Keseimbangan Alam Rusak

Wakil Ketua DPRD NTT Inche D.P. Sayuna yang dihubungi GOOD INDONESIA terpisah mengatakan serangan hama grayak di daerahnya sebagai fenomena baru yang harus ditangani serius oleh pemerintah.

“Jika penyebarannya sudah merata maka ini bencana serius yang mengancam kehidupan petani NTT. Pemerintah harus segera menetapkan kondisi ini sebagai darurat agar bisa mendapatkan perhatian segera dari pemerintah pusat,” tegas Inche, juga Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar NTT.

[Baca juga: Petani Madiun Harap Pemerintah Atasi Kelangkaan Pupuk Subsidi]

Menurut Inche, dinas teknis seharusnya melakukan tindakan pengendalian awal sebelum menyebar secara merata. Mereka selaiknya proaktif melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat, bukan pasif.

“Seharusnya Dinas Pertanian NTT segera melakukan bimbingan teknis pengendalian hama kepada semua petugas lapangan dan petani untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas,” Inche berargumen.

Politisi asal Kabupaten Timor Tengah Selatan ini menilai serangan hama ulat ini lantaran pemerintah dan warga tidak mengusahakan keseimbangan lingkungan hidup. Predator alami tak ada lagi.

Jajaran pemerintah daerah, menurut Inche, memiliki kewajiban mendidik masyarakat untuk senantiasa mengupayakan keseimbangan lingkungan hidup. []GOOD INDONESIA-LAURENSIUS LEBA TUKAN


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here