‘Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada’

Ilustrasi: Surga dan neraka [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]

Judul lagu satu ini “Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada”. Karya Ahmad Dhani. Di album “Senyawa” (2004), penyanyi legenda Chrisye tampil berduet dengan Dhani. Wow…. pasti, dua seniman senior Indonesia sepanggung.

Sebelum melangkah jauh, mari bernyanyi bersama. GOOD INDONESIA telah menyiapkan lirik dan audio persembahan Chrisye-Dhani, sebagai berikut:


Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya?
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga?

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepada-Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati?
Karena sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepada-Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?
Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya?
Ataukah mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan hanya…

Selain alunan lagu ini asyik dinikmati, liriknya sungguh sarat makna. Tampaknya, persentuhan Dhani dengan sufisme Tarekat Naqsyabandiyah menjiwai Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada.

Cara Dhani membawakan lagu ini menghadirkan nuansa “seram”. Kemudian bercampur dengan suara khas Chrisye. Lengkap. Lagu ini membawa pendengar merenung.

Sejumlah mahasiswa menjadikan Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada sebagai objek penelitian skripsi karena “nilai” yang diusungnya. Sebut saja M. Mudlofar, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri.

Hasil penelitian Mudlofar diberi judul “Nilai Dakwah dalam Nada dan Lirik Lagu Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada dari Ahmad Dhani feat Chrisye”.


Syair Sufi

Tak sekadar mengajak kita berkontemplasi, Chrisye-Dhani mulus membawa penikmat lagunya “mempertanyakan hakikat sujud insan kepada Sang Khalik selama ini”.

Adalah syair-syair sufi wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah, yang menunjukkan pembebasan diri dari kekuatan pengaruh spritualitas surga dan neraka.

Terdapat syair Rabi’ah yang memohon kepada Allah Subhana Wa Ta’ala jika ibadahnya karena takut kepada neraka maka jebloskan saja dirinya ke dalamnya. Sebaliknya, bila sebab berharap surga maka tutuplah kesempatan kepada dirinya menjejakkan kaki di sana.

Rabi’ah bermohon ibadah didirikannya semata-mata karena kecintaan tulus kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Tidak ada faktor lain apapun.

“Aku sama sekali tidak mengharap surga dan takut pada neraka (sebagai balasan ibadah). Dan aku tidak mengharap rasa cintaku ini sebagai pengganti,” salah satu bait syair Rabi’ah.

Begitulah mereka yang berada di tataran Rabi’ah. Juga Imam Al Ghozali dan Syaikhul Islam Ismail al Harowi, serta ulama besar lainnya.

Namun, ulama menjelaskan “pamrih” kepada Allah Subhana Wa Ta’ala atas ibadah yang didirikan bukan sesuatu yang nista atau keliru. Berharap pahala dan takut dosa bukanlah berarti tidak ikhlas. Sejumlah ayat Al Quran menjelaskan hal ini.

Di titik manakah kita berada sekarang? Di saf Rabi’ah atau barisan kebanyakan yang “pamrih surga atau takut neraka”?

Pastinya, lagu “Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada” mengajak pendengarnya menjadi insan yang lebih baik hari demi hari di hadapan Sang Pencipta, satu-satunya zat yang berhak disembah. []GOOD INDONESIA-RE


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here