Tak Sesuai Kontrak, Pembeli Gas Bumi Klaim ‘Force Majeure’ Covid-19

Konsumen mengisi bahan bakar gas di SPBG [Foto: batamnews.co.id - GOOD INDONESIA] batamnews_co_id

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi) Arief S. Handoko mengemukakan beberapa pembeli gas bumi mengajukan klaim keadaan kahar (force majeure) atas realisasi pembelian yang tidak sesuai dengan kontrak. Kondisi kahar dikaitkan dengan dampak pandemi covid-19

Atas keadaan tersebut, sebut Arief, pihaknya tengah berkoordinasi dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) guna memastikan fakta sesungguhnya.

“Kami sedang melakukan analisis atas penurunan serapan ini terhadap kesesuaian kontrak,” kata Arief dalam keterangan persnya yang diterima GOOD INDONESIA, Senin, 18 Mei 2020.

Dalam rangka melakukan analisis tersebut, SKK Migas melakukan mitigasi keadaan yang dialami para pembeli, termasuk melihat usaha-usaha yang sudah dilakukan terkait dampak pandemi covid-19.

Juga melihat kondisi aktual sehubungan kegiatan-kegiatan usaha pembeli akhir memang menghentikan kegiatan operasi karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Dari diskusi dan analisa yang dilakukan tersebut, mudah-mudahan didapatkan solusi terbaik untuk industri hulu migas maupun pembeli gas bumi,” tutur Arief.

SKK Migas mencatat pasokan gas di beberapa area telah mengalami penurunan permintaan oleh konsumen pada Mei 2020. Sejauh ini, total volume gas yang tidak terserap lebih 350 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).

Area yang mengalami penurunan penyerapan pada Mei ini, di antaranya Provinsi Riau sebesar 10 MMSCFD, area Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, dan Jawa Barat 267 MMSCFD, Jawa Timur 40 MMSCFD, dan Kalimantan Timur 40 MMSCFD.

Menurut Arief, penurunan permintaan pasokan gas oleh konsumen tidak sepenuhnya dikarenakan pandemi covid-19. Penyebabnya adalah kegiatan perawatan fasilitas yang dilakukan oleh Pembeli. Contohnya, permintaan memajukan jadwal perbaikan tahunan (turn around) Pupuk Kalimantan Timur (PKT) untuk PKT 3 sebanyak 40 MMSCFD pada Mei 2020 dan PKT 1A sebesar 60 MMSCFD pada Juni 2020.

Selain itu, pertengahan hingga akhir Mei 2020 adalah periodisasi Hari Raya Lebaran yang biasanya ditandai pengurangan kegiatan di pabrik-pabrik dan kawasan industri.

“Menurunnya aktivitas membuat banyak pembeli juga mengurangi serapan gas. Ini berpengaruh pada realisasi lifting gas bumi,” ungkap Arief.

Per 15 Mei 2020, SKK Migas mencatat angka serapan gas rata-rata pada Mei 2020 adalah 5.336 MMSCFD atau sekitar 80 persen target APBN 2020 yang ditetapkan sebesar 6.670 MMSCFD. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan rata-rata serapan gas periode Januari-Mei 2020 yang sebesar 5.715 MMSCFD atau sekitar 86 persen target APBN 2020. []GOOD INDONESIA-HDN


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here