BPIP ‘Nge-Prank’ NKRI

Garuda lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia [Grafis: Dok. GOOD INDONESIA]

Oleh: Ridwan Ewako*

Konser penggalangan dana untuk korban covid-19 bertajuk “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” sesungguhnya barang cakep. Aksi kemanusian tentu positif.

Namun, kegiatan amal pada Minggu malam (17/5/2020) itu mengundang polemik cukup hangat sebelum berlangsung. Sorotan negatif didasari penilaian bahwa timing-nya tidak tepat.

Sesungguhnya, sorotan tajam semata-mata dipicu keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu lembaga pelaksana acara.

Terdapat tiga lembaga di balik konser yang mengusung tagline “Bersatu Melawan Corona” itu, yakni Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) yang menggandeng BPIP dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ternyata, ketegangan antara umat beragama dengan BPIP masih berlangsung. Kasus terakhir meledak pada Februari 2020. Belum terlalu lama.

Masih segar dalam ingatan, Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. yang baru dilantik diberitakan menyebutkan “agama adalah musuh Pancasila”.


Faktor BPIP

Jadi, kelemahan konser yang digelar secara daring (online) tersebut semata-mata faktor BPIP. Padahal, konser amal yang disiarkan live oleh TVRI, INews, dan Net ini luar biasa (MetroTV siaran tunda) ini melibatkan sederet artis dan seniman kondang, selain Bimbo dan Eros Djarot.

Belum lagi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden Ma’ruf Amin, dan Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri turut terlibat dalam rangkaian acara berdurasi dua jam lebih.

Sementara di panggung penggalangan dana tampil presenter Andy F. Noya dan Cocky Sihotang, serta Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet.

Di sisi lain panggung, beberapa perempuan artis bertugas menerima telepon buat pelelangan sejumlah benda, yang hasilnya buat penanggulangan covid-19.

Barang lelang yang paling istimewa adalah satu unit sepeda motor listrik Gesits bertanda tangan Presiden Jokowi. Kendaraan roda dua berwarna merah ini pernah dipakainya berkeliling di komplek Istana, Jakarta.

Proses lelang si Gesits tampak seru. Wanda Hamida, Dewi Persik, Iis Dahlia dan kawan-kawan terlihat sangat sibuk menerima penelepon. Gesits awalnya dihargai Rp500 juta oleh Asuransi Cakrawala Proteksi. Kemudian naik Rp700 juta oleh penelepon bernama Andi.

“Minimal Rp1 miliarlah,” ujar Ketua MPR Bamsoet memancing peserta lelang.

Berkejaran dengan waktu terbatas, harga yang dipasang cepat naik. Politikus PDIP Maruarar Sirait turut memasang minat diangka Rp1,4 miliar. Namun, melalui Wanda Hamida seorang bernama Muhammad Nuh memenangi persaingan memperebutkan sepeda motor Jokowi.

“M. Nuh, seorang pengusaha asal Jambi, Kampung Manggis, pasang minat sebesar Rp2,5 miliar ditambah Rp50 juta. Kami sudah verifikasi melalui telepon dua kali. Di akhir acara mau video call,” sebut Wanda, seraya memegang gagang telepon fix line.

Bamsoet “mengetuk palu” tanda Nuh resmi memiliki Gesits yang pernah ditunggangi Presiden RI. Uang pembelian sebesar Rp2,5 juta lebih akan disumbangkan untuk kegiatan perang melawan covid-19, melalui BNPB.

Total donasi yang masuk melalui konser yang digelar MPR, BPIP, dan BNPB sebesar Rp4 miliar, tepatnya Rp4.003.357.815.

“Tak ada sepeserpun uang negara yang terpakai dalam penyelenggaraan konser ini. Sepenuhnya berasal dari gotong royong para seniman dan dukungan pribadi-pribadi berbagai pihak. Partisipasi masyarakat bergotong-royong patut dibanggakan,” ujar Bamsoet.


Nuh Versus Jokowi

Kamis (21/5/2020), Kepolisian Daerah (Polda) Jambi bersuara setelah mencuat isu bahwa Nuh dicokok aparat. Kepala Polda Jambi Inspektur Jenderal Polisi Firman Santyabudi menjelaskan Nuh bukanlah seorang pengusaha, melainkan buruh.

Nuh menelepon konser amal sebab mengira acara berhadiah sepeda motor. “Dia tidak paham acara yang diikuti tersebut adalah lelang. Karena ketakutan ditagih, dia minta perlindungan,” ujar Firman.

Pasca penjelasan polisi ramai diberitakan, di jagat media sosial ramai komentar bahwa melalui konser amal MPR, BPIP, dan BNPB, “kali ini giliran rakyat yang nge-prank Presiden Jokowi”. Oleh seorang buruh harian lepas saja.

Namun, bagi saya, kasus Nuh kembang-kembang saja. Ia mencuat karena ada stempel BPIP di acara konser amal tersebut. Perlu upaya serius agar BPIP diterima masyarakat. Jika tidak, ya, sia-sia saja anggaran negara ratusan miliar untuk badan satu ini.

Dan, BPIP bakal tak berhenti nge-prank NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Seharusnya menghadirkan kesejukan, yang datang malah sebaliknya. Ih… ngeri. []GOOD INDONESIA


*Penulis adalah jurnalis


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here