Ruslan Buton Diciduk Tim Mabes Polri, Kasus Desak Jokowi Lengser

Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara Ruslan Buton ditangkap tim gabungan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra), Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia (POM TNI).

Saat aparat hukum tiba di kediamannya di Desa Wabula 1, Kecamatan Wabula, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (27/5/2020), Ruslan tidak melakukan perlawanan apapun. Petugaspun tidak memborgol.

Polisi menjemput Ruslan berkaitan dengan surat terbukanya kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo atau Jokowi, yang beredar luas di media sosial. Ruslan lalu dilaporkan ke polisi.

Tiba di Markas Kepolisian Resor (Polres) Buton, Ruslan langsung diperiksa di ruangan pidana khusus.

Wakil Kepala Polres (Wakapolres) Buton Komisaris Polisi (Kompol) La Umuri kepada jurnalis mengonfirmasi penangkapan pada sekitar pukul 09.99 WITA.

“Yang memimpin penjemputan adalah Direktur Kriminal Khusus Polda Sultra. Kemudian ada juga dari pihak Mabes Polri, TNI, Brimob, dan POM. Yang masuk ke dalam rumah hanya saya sendiri,” kata Umuri


Pemeriksaan Tertutup

Umuri menjelaskan Ruslan berhubungan dengan polisi gara-gara surat terbuka kepada Jokowi yang ditayangkannya via media sosial. Walaupun mengonfirmasi hal ini, Wakapolres mengaku detail proses kasus ini.

“Belum bisa dipastikan karena pemeriksaannya dilakukan secara tertutup oleh pihak Mabes Polri dan Polda Sultra,” tuturnya.


Surat Terbuka

Ruslan dalam surat terbukanya menyampaikan bahwa tidak tertutup kemungkinan adanya revolusi rakyat jika Presiden Jokowi tidak mengundurkan diri alias lengser.

“Bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” kata Ruslan.

Berikut isi petikan surat terbuka tersebut:

Kepada Yth. Saudara Ir H Joko Widodo.

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini.

Di tengah Pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun.

Kebijakan kebijakan Saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini.

Suka atau tidak suka, di era kepemimpinan Saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal.

Entah karena ketidakmampuan Saudara, atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak Saudara pahami atau mungkin karena Saudara telah tersandera oleh kepentingan elite politik.

Di sini saya tidak akan memaparkan kebijakan kebijakan Saudara yang lebih banyak merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Sebagai bentuk etika berkomunikasi saya terhadap Saudara yang kebetulan menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saudara Joko Widodo yang saya hormati. Semua sistem yang berlaku di negeri ini bagaikan benang kusut yang sangat sulit untuk dirajut kembali.

Oleh karenanya dengan bahasa yang sangat sederhana ini, saya memohon dengan hormat agar Saudara dengan tulus dan ikhlas secara sadar untuk mengundurkan diri dari jabatan saudara sebagai Presiden Republik Indonesia.

Hal ini perlu di lakukan demi kepentingan bangsa untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelum kedaulatan negara benar-benar runtuh dan dikuasai asing, terutama China Komunis.

Saya tahu ini adalah pilihan sulit namun merupakan pilihan terbaik.

Saudara seorang negarawan yang pastinya ingin membangun negeri ini, namun harus jujur saya katakan bahwa Saudara belum memiliki banyak kemampuan untuk membangun bangsa yang besar ini berdasarkan amanat UUD 1945.

Sehingga terjadilah kebijakan-kebijakan yang menjadi blunder politik yang sangat merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Saudara Joko Widodo, sekali lagi saya sampaikan bahwa solusi terbaik menyelamatkan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya ada satu. Saudara harus bersikap KSATRIA dan LEGOWO untuk mundur dari tahta kepresidenan.

Namun bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat.

Seluruh komponen bangsa dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat. Yang akan meluluhlantakkan para penghianat bangsa, akan bermunculan harimau, singa dan serigala lapar untuk memburu dan memangsa para pengkhianat bangsa.

Sesuai amanat UUD 1945 Pasal 1 Ayat 2 yang mengatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.

Saudara Joko Widodo, lengsernya Jenderal Besar Suharto, bisa menjadi sebuah acuan atau referensi untuk Saudara lakukan.

Sebagai seorang negarawan, beliau dengan LEGOWO menyatakan mundur dari tahta kepresidenan demi menghindari pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Dan saya berharap Saudara juga bersikap demikian, sehingga Saudara bisa menghidarkan potensi pertumpahan darah antarsesama anak bangsa.

Ketika pertiwi memanggil, maka kami akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan NKRI.

Kendari, 18 Mei 2020

Ruslan Buton
(Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara)


Profil Singkat

Ruslan, sebelum dipecat sebagai anggota TNI, menjabat Dankipan A di Kompi Banau berpangkat kapten infantri. Hukumannya penjara satu tahun 10 bulan dan pemecatan sebagai tentara.

Mahkamah Militer Ambon memvonis bersalah Kapten Ruslan pada Juni 2018. Dia dinilai terlibat pembunuhan La Gode, gembong kriminalitas di Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.

Masyarakat Lede memprotes vonis tersebut karena Gode selama ini biang kriminalitas yang meresahkan. Sementara Gode seolah tak tersentuh hukum.

Beberapa korban Gode menyampaikan terima kasih langsungnya ke Pos Satgas TNI dua hari pasca tewasnya Gode. []GOOD INDONESIA-AFU


[Update: 28/5/2020, pukul 21.52 WIB]


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here