Kerusuhan Buntut Tewas Floyd Makin Parah, Polisi Disidang Senin

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperpanjang pemberlakuan jam malam di 25 kota di 16 negara bagian. Langkah ini diambil sebagai antisipasi meluasnya George Floyd (46 tahun), warga berdarah Afrika-Amerika, di tangan seorang polisi di Minneapolis, Minnesota, AS.

Kebijakan jam malam diterapkan mulai di Kalifornia, Beverly Hills, Los Angeles, Kolorado, Denver, Florida, dan Miami.

Selanjutnya di Georgia, Atlanta, Illinois, Chicago, Kentucky, Louisville, Minnesota, Minneapolis, St. Paul, New York, dan Rochester,

Kemudian di Ohio, Cincinnati, Cleveland, Kolumbus, Dayton, Toledo, Oregon, Eugene, Portland, Pennsylvania, dan Philadephia.

Selanjutnya, di Pittsburgh, South Carolina, Charleston, Kolumbia, Tennessee, Nashville, Utah, Salt Lake City, Washington, Seattle, Wisconsin, dan Milwaukee.

Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti mengatakan kebijakan jam malam memang mulanya diberlakukan di pusat kota. Mencermati perkembangan tindakan anarkis yang meluas, pemerintah setempat memperluas ke seluruh bagian kota.

Pemerintah Los Angeles mewajibkan masyarakat untuk berada di dalam rumah, setidaknya mulai pukul 20.00 hingga 05.30 waktu setempat. Kebijakan ini mulai berlaku pada Minggu, 31 Mei 2020.

“Jam malam untuk melindungi keselamatan semua orang yang tinggal dan bekerja di kota kami,” ungkap Garcetti, lansir CNN.

Kendati memberlakukan kebijakan jam malam, Garcetti memastikan pemerintah tetap menghormati hak masyarakat menggelar aksi solidaritas antirasisme.

Wali Kota Philadelphia Jim Kenney juga menandatangani memo instruksi kepada aparat keamanan memperpanjang kebijakan jam malam.

Rencananya, kebijakan jam malam akan dilangsungkan di seluruh bagian kota mulai malam ini sampai Senin pagi (1/6/2020). Jam malam diberlakukan mulai pukul 20.00 sampai 06.00 waktu setempat.

“Warga dapat meninggalkan rumah hanya untuk bekerja atau keperluan medis atau bantuan polisi,” kata Kenney.


Polisi Terdakwa Pembunuh

Demonstrasi antirasisme yang berujung bentrok dengan aparat kepolisian dan perusakan fasilitas umum berawal kematian George Floyd, saat ditangkap polisi di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota.

Gubernur Negara Bagian Minnesota mengatakan peristiwa kematian Floyd terjadi dalam penangkapan oleh polisi, Sabtu (30/5/2020).

Media BBC memberitakan seorang polisi telah didakwa sebagai pembunuh Floyd. Dia bernama Derek Chauvin, polisi berkulit putih, menginjak leher korban.

Polisi berusia 44 tahun itu dijadwalkan hadir di depan meja hijau pada Senin besok (1/6/2020).


Trump Sebut Demonstran Preman

Kematian Floyd memicu kemarahan warga AS. Floyd menjadi sosok korban setelah sebelumnya terjadi kasus serupa terhadap Michael Brown, Eric Garner, dan lainnya.

Rangkaian peristiwa rasisme sebelumnya memunculkan Gerakan Black Lives Matter. Tepatnya setelah kematian Trayvon Martin pada 2012.

Presiden AS Donald Trump mengatakan mempertimbangkan untuk mengirim pasukan Garda Nasional untuk mengatasi kerusuhan di sejumlah kota dan negara bagian.

Trump menyebut para pengunjuk rasa dengan sebutan “preman”. Mereka seharusnya ditembak.

“Kesulitan apapun, kami akan mengambil alih kendali ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Terima kasih!” kicaunya di Twitter.

Twitter kemudian menandai kicauan tersebut dan menyembunyikan teksnya. Kicauan Presiden AS itu dinilai melanggar aturan platform media sosial, yakni bernada mendukung tindakan kekerasan. []GOOD INDONESIA-RUT


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here