PTPN Ngotot Penjarakan Ibu Pencuri Tiga Tandan Sawit, DPRD Meradang

RMS, terdakwa pencuri buah kepala sawit PTPN V Pekanbaru [Foto: riauterkini.com - GOOD INDONESIA]

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau Kelmi Amri mendesak pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V mengupayakan solusi terbaik atas kasus terdakwa RMS (31 tahun), ibu beranak tiga.

Warga Desa Tandun Barat, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, itu menjadi pesakitan di pengadilan akibat didakwa mencuri tiga tandan buah sawit senilai Rp76 ribu milik PTPN V Sei Rokan.

“Pencuri tak kita bela karena mencuri perbuatan tercela, tetapi ada cara lain memberikan sanksi. Tak perlu sampai ke pengadilan. PTPN V harus tahu itu,” kata Kelmi di Pekanbaru, Rabu, 3 Juni 2020.

Politikus Partai Demokrat itu mengatakan RMS yang menghidupi sendiri ketiga anaknya dipastikan mencuri karena terpaksa. Ia harus membeli beras. Memberi teguran atau sanksi lain dapat dilakukan.

Kelmi lalu menyatakan dirinya akan mengganti kerugian PTPN berkali lipat, sebagai rasa sesalnya atas sikap manajemen PTPN V.

Ditambahkan, pimpinan DPRD Riau segera memanggil manajemen PTPN V atas kasus RMS.

Pandangan senada diutarakan Sugianto, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Riau. Ia menyesalkan pimpinan PTPN V yang sungguh bersemangat memenjarakan RMS. Menurutnya, dakwaan kepada RMS termasuk tindak pidana ringan.


Tiga Balita Kelaparan

RMS tampak sangat terpukul saat menghadiri sidang perdana kasus yang membelitnya di Pengadilan Negeri Rokan Hulu, Selasa (2/6/2020).

“Saya terpaksa mengambil buah sawit untuk beli beras, Pak,” tutur terdakwa.

Hari itu, 31 Mei 2020, Sang Ibu menjadikan buah kelapa sawit PTPN V sebagai solusi agar tiga anaknya yang masih di bawah lima tahun tidak kelaparan. Beras di rumah tidak ada lagi.

Saat kejadian, RMS bercerita ditangkap personel satpam PTPN V. Meski telah meminta ampun dan memelas, dia tetap digelandang ke Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Tandun.

Polsek Tandun enteng saja menerima laporan dari perusahaan plat merah tersebut. Laporan langsung diproses hingga RMS menghadap meja hijau.

RMS juga mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk di tengah pandemi covid-19.

Suami RMS beberapa waktu lama meninggalkan rumah untuk bekerja di kebun orang lain. Ternyata, bekal untuk makan telah habis sebelum sang suami kembali atau mengirim kebutuhan.

“Suami mandah (pergi kerja). Saya mengambil buah sawit PTPN V untuk beli beras. Saya tidak tahu akhirnya bisa jadi begini,” lirih RMS.


Polisi Tawarkan Mediasi

Paur Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor (Humas Polres) Rokan Hulu Ipda Fery Fadli mengungkapkan pihaknya sempat mengupayakan mediasi antara PTPN V dengan RMS. Namun pemilik buah kelapa sawit ngotot meneruskan proses hukumnya.

“Polri sudah sangat profesional dan proporsional dalam penanganannya. Sebelum diproses, penyidik memberikan ruang bagi para pihak untuk mediasi. Saat itu dari kepolisian juga melibatkan perangkat desa, seperti Ketua RT,” ujar Fery kepada Merdeka.com.

Perangkat desalah yang menjamin sehingga RMS tidak ditahan selama proses penyidikan.

Dijelaskan, RMS beraksi sambil membawa ketiga anak balitanya. Terdapat dua orang dewasa lainnya. Ia mengambil buah kelapa sawit memakai egrek. Saat petugas keamanan datang, kedua temannya melarikan diri. []GOOD INDONESIA-UKA


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here