Ferry Kombo Cs Terdakwa Makar Buntut Rasisme Surabaya Dituntut 5-17 Tahun

Ferry Kombo [Foto: twitter.com - GOOD INDONESIA]

Tujuh aktivis mahasiswa yang didakwa melakukan makar dituntut hukuman penjara bervariasi, mulai lima hingga 17 tahun.

Terdakwa dimaksud mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cendrawasih Ferry Kombo (10 tahun), Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Alex Gobay (10), Hengky Hilapok (5), Irwanus Urobmabin (5).

Selanjutnya Wakil Ketua II Badan Legislatif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni (17), Ketua KNPB Mimika Steven Itlay (15), dan Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Agus Kossay (15).

Ketujuh aktivis tersebut menghadap meja hijau atas unjuk rasa di Jayapura, Papua, pada Agustus 2019, buntut tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Kasusnya diadili di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan karena pertimbangan keamanan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan maraton mulai 2-5 Juni 2020 membacakan bahwa para terdakwa dituntut Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang makar.

Ferry dan kawan-kawan (Cs) disebutkan melakukan pembakaran dan pencurian dengan kekerasan secara bersama-sama di muka umum dan melakukan kekerasan terhadap orang atau barang dan kejahatan terhadap penguasa umum.

[Baca juga: Aktivis Papua Merdeka Ferry Kombo Dkk. Segera Disidang di Balikpapan]

Atas tuntutan JPU, Ferry mengaku sangat kecewa karena tuntutan berat JPU tidak sesuai fakta kejadian dan fakta persidangan.

“Kalau betul apa yang kami perbuat lalu dituntut seperti itu kami terima, tapi ini betul-betul tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan pada saat demo maupun dalam persidangan. Sekali lagi saya minta dukungan kepada semua orang di luar, terutama teman-teman mahasiswa, dukung kami dalam doa juga solidaritas menyuarakan pembebasan kami agar pada saat keputusan vonis nanti bisa kami bebas,” kata Ferry.

Ditambahkan, rakyat Papua masih saja didiskriminasi meski sudah berhadapan dengan hukum di pengadilan sekalipun. Bukan cuma dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami sudah korban rasisme. Di dalam persidanganpun kami temukan yang namanya diskriminasi terhadap orang papua, karena itu tidak sesuai dengan fakta persidangan maupun fakta waktu kami demo,” tegasnya. []GOOD INDONESIA-HPG


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here