Mongolia, Masa yang Berlalu

Patung Genghis Khan [Foto: omf.org - GOOD INDONESIA]

Catatan: Asro Kamal Rokan*

DARI Bandar Udara Internasional Chinggis Khan, menuju Ulan Bator, ibukota Mongolia, lampu-lampu jalan bersinar temaram di antara pepohon pinggir jalan, yang rantingnya menjuntai. Di beberapa tempat, jalan bergelombang yang menimbulkan goncangan.

Mongolia kisah kehebatan masa lalu, menguasai hampir sepertiga dunia, termasuk Eropa. Kini, negara tanpa laut, yang berbatasan dengan China, Rusia, Kazhastan, dan Korea itu, berupaya bangkit dengan semangat Chinggis Khan (Genghis Khan). Gambar dan nama Chinggis Khan –pendiri Kekaisaran Mongolia dan tokoh utama penaklukan– dipajang di berbagai tempat, termasuk tempat kami menginap, Chinggis Khaan Hotel.

Ulan Bator berdiri pada 1639 –dikelilingi pegunungan Bogd Khan Uul, Chingeltei Uul, Bayanzurkh Uul, dan Songino Khairkhan serta padang rumput yang luas– kota ini disebut sebagai terdingin di dunia, bisa mencapai di bawah 30 derajat Celsius. Suhu terpanas sekitar 20 derajat Celsius. Bandingkan dengan Jakarta, rata-rata 32 derajat Celsius.

Pertumbuhan ekonomi Mongolia –negara penghasil batubara, emas, dan tembaga– ini memang meningkat tinggi. Pada 2012, pertumbuhan mencapai mencapai 17 persen. Pada 2018, per kapita 4.097 dolar AS. Namun ketimpangan terjadi. Di luar Ulan Bator, penduduk tinggal di tenda tradisional dan tanpa pekerjaan tetap.

Masyarakat yang dulunya nomaden, pindah ke Ulan Bator –yang berpenduduk 1,4 juta, setengah dari jumlah penduduk Monglia– namun mereka tidak mudah mendapatkan pekerjaan.

Memasuki kota yang dibelah jalan utama Enkh Taivny Orgon Choloo, selain jalan berlobang, kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah sederhana, tenda-tenda, warung, dan toko-toko. Sejumlah bangunan peninggalan Uni Soviet tinggal kerangka karena ketiadaan biaya.

Suasana kontras terlihat ketika memasuki jantung kota, seputar alun-alun Sukhbaatar. Di jalan tanpa separator pembatas, mobil-mobil mewah Cadillac, Hummer, Mercedes Benz, berseliweran di antara angkutan kota dan mobil-mobil tua. Gedung-gedung tinggi, hotel, dan apartemen, muncul di pusat kota dalam balutan polusi dan kebisingan.

Polusi di kota ini terburuk di dunia, menyalip New Delhi dan Beijing, seperti yang dilaporkan Majalah Time (23 Maret 2018). Berada di lembah sungai dan gunung-gunung, Ulan Bator terjebak emisi industri, knalpot otomotif, dan batubara, seperti asap gorengan dalam wajan.

Di alun-alun Sukhbaatar ada patung Damdin Sükhbaatar, pahlawan yang memerdekakan Mongolia dari Tiongkok. Nama alun-alun ini sempat diubah menjadi lapangan Chinggis Khan pada 2013, namun pada 2016 nama Sukhbaatar dikembalikan setelah keluarganya menang di pengadilan.

Bagian utara alun-alun ini, berdiri istana Negara Zasgiin gazriin ordon, sebagai pusat pemerintahan. Di samping tangga, terdapat patung berkuda dua jenderal Chinggis Khan, yakni Muqali dan Bo’orchu. Masuk ke dalam, langsung terlihat patung perunggu besar Chinggis Khan, yang duduk di atas takhta.

Di ujung kiri ada patung putra Chinggis Khan, Ögedei Khan. Sedangkan di ujung kanan patang cucunya, Kublai Khan. Masuk lebih ke dalam, selain kantor resmi Presiden dan Perdana Menteri, juga terdapat kantor parlemen, ruangan museum tempat berbagai peninggalan Chinggis Khan dan bagian sejarah Mongolia.

Selain tempat rekreasi warga, alun-alun yang luas dan halamannya dilapis keramik ini juga digunakan untuk penyambutan tamu negara. Saya di sini Kamis (5 September 2012) ketika meliput kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ada pasukan berkuda dan pasukan kehormatan berseragam biru kombinasi merah, serta topi khas Mongol. Ini mengingatkan sejarah masa-masa kejayaan Mongolia.

Pasukan berkuda di Istana Negara Zosgiin Gazriin Ordon di Ulan Bator [Foto: Asro Kamal Rokan – GOOD INDONESIA]

MONGOLIA memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-13, kekaisaran ini sangat ditakuti. Dipimpin Genghis Khan (nama kecilnya Temujin) mengusai sebagian besar Eropa dan Asia, di antaranya Tiongkok, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Iran, Irak, Afganistan, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, India, Kazakhstan, Polandia, Hungaria, dan Arab Utara.

Lahir di Pegunungan Khentii, sekitar 1162, Tamujin hidup menderita. Sebagai suku nomaden, mereka berpindah-pindah. Pada usia 9 tahun, dia dikeluarkan dari sukunya, Kiyad (Kiyan), karena akan dijodohkan. Dalam tradisi, anak-anak sudah dijodohkan dengan pilihannya.

Ayahnya, Yesügei, ketua suku Kiyad, meninggal karena diracun suku Tartar. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar Temujin membalas dendam. Bersama ibunya, Hoelun, dan adiknya, Temujin kecil berkelana di padang-padang stepa, karena mereka diusir sukunya, yang tidak ingin dia berkuasa.

Ketika remaja, Tamujin tertangkap dan ditawan musuhnya, namun dia berhasil lari dari tahanan. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri. Tapi, saudaranya Jamuka, melawannya. Pertempuran merebut kekuasaan melibatkan banyak tentara berkuda. Tamujin menang. Jamuka menyerah dan bersedia dihukum mati.

Kekuasaan Tamujin semakin besar. Dia menggulingkan para bangsawan Mongol seperti Tayichiud dan Jurkin. Setiap suku dia kalahkan dan membunuh kepala suku dan keturunannya. Dia memerintahkan prajuritnya menikahi perempuan musuh. Ini agar tidak ada lagi suku lain, kecuali suku dan kekuasaannya.

Tamujin melebur tiga suku besar –Tatar, Kereyid, dan Naiman– ke dalam kekuasaannya. Kini, dia menjadi satu-satu penguasa Mongolia dengan nama Genghis Khan –yang berarti Khan dari Segala-galanya.

Nafsu Genghis untuk menjarah dan memperluas wilayah semakin tidak terbendung. Dia menyerang Dinasti Jin di utara Tiongkok. Membawa kekuatan seratus ribu prajurit berkuda, Genghis Khan mengalahkan Dinasti Jin yang diperkuat lebih dari setengah juta prajurit. Dadu –kini Beijing– ibu kota Dinasti Jin dikuasainya.

Genghis Khan kemudian melebarkan kekuasaannya di dunia Islam, menyerang Kerajaan Khwarezmian, yang dipimpin Shah Muhammad (1200-1220). Wilayah kekuasaan kesultanan Suni ini meliputi Iran, Irak, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Sungai Indus, hingga Laut Kaspia.

Serangan dimulai dari perbatasan Mongol-Khwarezmia pada 1219. Bukhara dan Samarkand, ibukota Khwarezmian, jatuh. Seranngan brutal ini memusnahkan ribuan naskah dan buku-buku intelektual peradaban Islam, dibuang ke Sungai Oxus.

Sejarawan menyebutkan, Mongol membantai 1,7 juta orang di Nishapur dan 2 juta lainnya di Herat. Kerajaan Khwarezmian hancur total menjelang 1222. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam kitabnya Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol menulis, Genghis Khan yang sudah tua dan sakit-sakitan, tidak meneruskan serangan. Dia pulang ke Mongolia, jatuh dari kudanya dan tewas keletihan pada 18 Agustus 1227.

Jasad Genghis Khan dimakamkan di wilayah sekitar Sungai Onon, sungai yang membentang dari Mongolia hingga Rusia. Namun, lokasi tepatnya dirahasiakan, karena khawatir diketahui lawan. Hingga kini tidak ada yang tahu jasad penguasa bengis itu dikuburkan.

Kekuasaan Mongol diteruskan putra ketiganya, Ogadai Khan. Pewaris Genghis Khan ini melanjutkan penaklukan, bahkan memperluas kekuasaan ke Polandia, Hungaria, termasuk Jerman yang saat itu dalam Kekaisaran Romawi. Mereka melakukan kekejaman dan teror besar.

Mongol kemudian invasi ke negara-negara Islam. Kekhalifahan Abbasiyah, yang dipimpin Khalifah Al-Mustasim, di Baghdad, diserang Mongol yang ketika itu dipimpin Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, 11 Januari 1258. Penaklukkan brutal ini tidak saja membunuh para khalifah, tapi juga menghancurkan karya intelektual Islam.

Setelah jatuhnya Kesultanan Abbasiyah, 10 Februari 1258, Khalifah Al-Mustasim dan putra sulung ditawan di desa Waqaf. Keluarga istana Baghdad, sisa-sisa keluarga Khalifah, dan ribuan prajuritnya dibunuh di depan mata Al-Mustasim. Tidak hanya tentara, rakyat biasapun mereka bunuh. Masjid dan gereja mereka bakar.

“Diperkirakan sedikitnya 90.000 orang dibantai ketika bangsa Mongol memasuki kota. Perkiraan yang lebih tinggi berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan,” tulis sejarawan Jay Hemmings di War History.

Nasib Khalifah tak kalah buruknya. Dia digantung hingga wafat. Versi lain menyebutkan, Khalifah dijebloskan dalam karung kulit dan dinjak-injak kuda sampai tewas.

Setelah Ogodei Khan meninggal, 1241, imperium Mongol selanjutnya dipimpin Toregene, Gayuk Khan, Mongke Khan, Khubilai Khan (Kubilai Khan), hingga Toghan Temur (1332-1370), kaisar Dinasti Yuan terakhir. Dari sejumlah pewaris itu, nama Kubilai Khan (1215-1294) lebih populer. Dia cucu Genghis Khan, dari anak tertuanya Jochi Khan.

Kublai Khan adalah pendiri Dinasti Yuan di Tiongkok, 1271. Dia bukan saja sebagai Khan dari Kekaisaran Mongolia, namun juga sebagai Kaisar Tiongkok. Ketika memimpin Dinasti Yuan –dinasti yang bukan berasal dari suku asli Tiongkok– Kubilai memindahkan ibu kota Mongol ke Beijing.

Selain Tiongkok, Kubilai Khan memperluas daerah mencapai Korea, Burma, Vietnam, dan Kamboja. Pasukan Mongolia pernah mencoba masuk ke Jepang, namun mereka mendapat perlawanan samurai. Sebagian pasukan Mongol pada 1274 disapu tsunami kamikaze –yang kemudian menjadi kode tempur Jepang pada Perang Dunia ll– sedangkan sisanya dihancurkan Jepang.

Alun-alun Sukhbaatar [Foto: Asro Kamal Rokan – GOOD INDONESIA]

MONGOL juga pernah berusaha menguasai Jawa. Pada 1292, Kubilai Khan mengirim utusan menemui Raja Singosari, Kartanegara, agar tunduk dan membayar upeti ke Mongol. Namun utusan tekanan itu ditolak. Bahkan, Men Shi, nama utusan tersebut, diusir, wajahnya dicap besi panas, dan telinganya dipotong.

Ketika utusan itu kembali, Kubilai Khan yang memimpin Dinasti Yuan di Peking, marah. Pada 1293, dia mengirim pasukan berkekuatan sekitar 20 ribu tentara dari Tiongkok Selatan, yang mendarat di Rembang. Namun saat mereka tiba, kerajaan Singosari porak-poranda dan kalah dalam pertempuran dengan Kerajaan Kediri. Kertanagara bahkan dibunuh Jayakatwang, Adipati Kediri.

Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, mendirikan Kerajaan Majapahit. Kedatangan pasukan Mongol, dimanfaatkan Raden Wijaya untuk bersekutu menyerang Kediri, dengan imbalan Majapahit harus tunduk pada Mongol dan memberi upeti.

Pasukan Mongol berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dan memaksa Jayakatwang menyerah. Raden Wijaya tidak memenuhi janjinya. Sebaliknya, pada 19 April 1293, Raden Wijaya dengan cepat memobilisasi pasukannya dan menyergap pasukan Mongol.

Pertempuran terjadi di darat dan di laut. Ribuan tentara Mongol, yang dipimpin Shi-bi, Gaoxing, dan Ike Mese, tewas. Ribuan lagi ditawan. Sebagian kapal mereka dibakar. Pada Juni 1293, pasukan Mongol pulang ke Tiongkok. Kubilai Khan marah atas kekalahan itu. Tiga panglimanya dihukum.

Kubilai Khan merencanakan melakukan serangan besar-besar setelah kekalahan itu. Namun niat tersebut tidak terlaksana karena Kaisar Dinasti Mongol dan Yuan itu, meninggal 1294. Sedangkan Majapahit semakin besar dan kuat.

Setelah Kubilai Khan meninggal, kepemimpinan Dinasti Yuan silih berganti hingga era terakhir Kaisar Toghan Temur (1332-1370). Jatuhnya Dinasti Yuan menyusul pemberontakan para petani yang dipimpin Zhu Yuanzhong, yang kemudian mendirikan Dinasti Ming.

Berakhirlah kekuasaan Mongol di Tiongkok, sejak berdirinya Dinasti Yuan, 1271. Dinasti Ming berkuasa hingga 1644, digantikan Dinasti Qing hingga 1911, saat komunis berkuasa. Kaisar terakhirnya Puyi.

Asro Kamal Rokan (ke-2 kanan) dan jurnalis lain di depan Istana Negara Zasgiin Gazriin Ordon. Tampak patung Genghis Khan di belakang [Foto: Dok. Asro Kamal Rokan – GOOD INDONESIA]

BERAKHIRNYA era kekaisaran Qing, Mongolia melepaskan diri dan menjadi negara sendiri atas dukungan Uni Soviet, 1921. Awalnya, kemerdekaan ini tidak diakui Tiongkok, namun setelah Tiongkok dipimpin komunis, kemerdekaan Mongolia diakui.

Genghis Khan dan keturunannya penganut Shamanisme –pemujaan terhadap Tenger (Dewa Tertinggi). Dalam agama rakyat Mongolia ini, Genghis Khan dianggap sebagai perwujudan utama dari Tenger.

Ketika komunis Tiongkok berkuasa, agama yang sepat dominan itu ditekan sampai 1990. Saat itu hanya satu vihara yang diizinkan tinggal. Sejak liberalisasi dimulai di Mongolia, 1990, Buddhisme telah mengalami kebangkitan kembali. Budha dianut skitar 53 persen dari populasi, sekitar 909,357 jiwa. Disusul Islam, sekitar 3 % (190 ribu), Shaman (2,9 %), Kristen (2,1 %), dan lainnnya 0,4 %.

Sejarah Mongolia begitu panjang. Dari negara penakluk, kemudian ditaklukkan oleh Tiongkok, dan kemudian merdeka. Kini, Mongolia sedang berbenah. Gedung-gedung pencakar langit, hotel, apartemen, tumbuh seperti jamur, di tengah kemiskinan dan pengangguran masih melilit bangsa ini.

Kami meningalkan Ulan Bator menuju bandar udara Chinggis Khan, melawati rumah-rumah tenda dan jalan bergelombang. Dari dalam pesawat, gunung-gunung dan rumput yang memagari kota ini terlihat kuning.

Saya membayangkan, prajurit-prajurit Mongol begitu gagah mendaki gunung-gunung dengan kudanya untuk menaklukan negara lain. Pesawat semain tinggi terbang, gunung-gunung Mongolia semakin mengecil –bayangan prajurit gagah berkuda pelan-pelan menghilang. []GOOD INDONESIA


Cuplikan dari buku Dari Lima Benua


*Penulis adalah jurnalis senior, mantan Pemimpin Redaksi Harian Republika, dan eks Pemimpin Umum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here