Netty: Hati-hati Euforia Menuju ‘New Normal’, Kebijakan masih Gegabah

Ilustrasi: Kebijakan kebiasaan baru [Grafis: harmony.co.id - GOOD INDONESIA]

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Netty Prasetiyani lagi-lagi mengkritisi kebijakan pemerintah pusat, khususnya, dalam penanggulangan pandemi covid-19. Pengambil kebijakan masih saja cenderung gegabah.

Seiring rencana penerapan kebiasaan baru di tengah pandemi covid-19 tanpa pembatasan sosial apapun –diistilahkan “new normal“, pemerintah menghentikan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akses keluar masuk ke beberapa kota metropolitanpun dibuka.

New normal tidak bisa dimaknai sebagai kebebasan kembali beraktivitas seperti sebelum pandemi terjadi. Gunakan pendekatan keilmuan dalam membuat kebijakan. Jangan pakai perasaan. Pemerintah daerah juga jangan sekadar ikut kebijakan (pusat),” tegas Netty, usai kunjungan resesnya di Cirebon, dalam keterangan pers tertulisnya kepada GOOD INDONESIA, Selasa, 9 Juni 2020.

Netty Prasetiyani (ke-2 kanan) kunjungi Puskesmas di Cirebon, Jawa Barat [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]

Netty, yang juga ketua Tim Tanggap Covid-19 Fraksi PKS DPR RI, mengingatkan agar pemerintah tidak serampangan menerapkan new normal. Perlu perencanaan pentahapan yang terukur, kuantitatif maupun kualitatif. Program pemerintah pusat hingga daerah harus clear.

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI itu lalu memaparkan beberapa data kasus paparan virus korona di Indonesia –yang menunjukkan pemerintah sama sekali belum mampu mengendalikan serangan covid-19.

Pada 6 Juni, misalnya, kasus baru positif covid-19 di seluruh Indonesia masih tinggi, 993. Urutan terbanyak di Jawa Timur (Jatim), DKI Jakarta, Papua. Jatim menyalip Jakarta yang sebelumnya di posisi teratas. Sementara kondisi Papua dimaksud mengejutkan.

Terakhir, pada 8 Juni, terdapat penambahan kasus 847. Turun, namun masih cukup tinggi. Total keseluruhan menjadi 32.033 kasus.

Penambahan pasien meninggal dunia sebanyak 32 orang. Total nyawa yang melayang akibat covid-19 menjadi 1.883 –menuju angka 2.000.

[Baca juga: Rencana Sekolah Saat Pandemi, Netty: Pemerintah Gadai Nyawa Anak-anak]

Lima provinsi yang mengalami kenaikan cukup tinggi; Jatim, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jakarta, Kalimantan Timur (Kaltim), dan Maluku.

“Badai pandemi masih mengintai kita. Apa kurang jelas indikator yang tampak untuk membuat kebijakan yang benar-benar menyelamatkan rakyat?” tegas Netty.


Selamatkan Santri

Meninjau langsung kondisi terkini penanggulangan covid-19 di Kabupaten dan Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat VIII itu mengungkapkan dirinya menemukan kasus bayi berusia 50 hari terkondirmasi positif covid-19.

Sang bayi terpapar virus korona saat dibawa orang tuanya ke pesta pernikahan. Di tempat resepsi, mereka berinteraksi dengan saudara dari wilayah episenter covid-19. Kejadian ini dapat disimpulkan akibat PSBB dilonggarkan atau tidak diperpanjang.

Serupa, mencermati dapilnya yang memiliki banyak pondok pesantren dan boarding school yang santrinya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mendorong Netty mengingatkan pemerintah dan manajemen lembaga pendidikan Islam tersebut agar tak memutuskan anak didik masuk.

“Jangan sampai santri menjadi korban akibat kelalaian pengambil keputusan. Kelalaian membuat kita kerja dua kali dan kembali ke kondisi awal pandemi,” papar Netty. []GOOD INDONESIA-HDN


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here