Halaman Hutan Bambu Dunia, Indonesia Punya Jenis Purba

Hutan bambu di Nusa Tenggara Timur [Foto: forestsnews.cifor.org - GOOD INDONESIA]

Sebutkan beberapa alat musik tradisional Indonesia yang terkenal di mancanegara! Anda, #GOODpeople, kemungkinan besar langsung menjawab; gamelan, angklung, kolintang, sasando, serune kale, tifa, dan slenthem. Ya, alat musik ini terbuat dari bambu.

Bukan cuma tujuh alat musik khas tersebut. Indonesia memiliki sederet panjang alat musik bambu yang menghiasi khasanah seni-budaya dari Sabang sampai Merauke.

Belum lagi kekayaan permainan tradisional yang juga memanfaatkan bahan bambu. #GOODpeople pasti mengenal egrang, petasan atau meriam bambu, gasing, pletokan, othok-othok, dan bedil jepret. Anda bahkan pernah memainkannya, bukan?

Bukan cuma dimanfaatkan menjadi alat musik dan permainan, bambu sejak lama menjadi bahan utama rumah nenek-moyang. Rumah bambu juga dikenal di Cina, India, Bangladesh, Filipina, hingga Kosta Rika dan Ekuador. Lebih satu miliar oran berlindung di rumah bambu tradisional.

Rumah bambu tak hanya lebih murah, namun tak kalah kuat dibanding konstruksi batu bata dan semen. Ia lebih tahan gempa.

Rumah berbahan bambu hingga kini masih menghiasi pelosok pedesaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bambu menyelamatkan warga miskin sehingga pun punya rumah, setelah tak kuasa memiliki kediaman berbahan kayu atau batu bata yang semakin mahal hari demi hari.

***

Botani Indonesia salah satu yang terkaya di dunia. Pulau-pulaunya menyimpan peninggalan sejarah geologis yang kompleks. Berbagai spesies endemik tumbuh ditopang iklim yang cocok.

Negara berpulau sekitar 17 ribu memiliki daratan seluas 1,8 juta kilometer persegi, 212,6 ribu kilometer persegi dibudidayakan. Area berhutan seluas 1,2 juta kilometer persegi (63 persen), padang rumput 118 ribu kilometer persegi, dan lahan lainnya seluas 284 ribu kilometer persegi.

Iklim di negara kepulauan ini sebagian besar jenis monsun tropis. Suhu dan kelembaban tinggi. Curah hujan 1.500 mm di pulau-pulau timur (Nusa Tenggara) dan 3.000 mm di pulau-pulau barat (iklim basah atau semi basah). Hal ini membentuk formasi hutan yang ada dahulu dan kini.

Nusantara setidaknya 47 ekosistem alami berbeda satu sama lain. Kekayaan tak ternilai ini merupakan kampung besar hutan tropis terbesar ketiga di dunia.

Indonesia punya hutan dari dataran rendah tropis dan hutan hujan dataran tinggi berupa rawa gambut, rawa air tawar, dan hutan bakau.

Hutan dipterocarpaceae dataran rendah ditemukan di Kalimantan dan Sumatera, hutan musiman dan padang rumput savana di Nusa Tenggara, serta hutan dataran rendah dan hutan alpine non dipterocarpaceae di Irian Jaya.

Bangsa lain boleh iri, Merah-Putih mempunyai salah satu spesies dan endemisme generik tertinggi di dunia. Tingkat endemisme yang tinggi berlangsung di Sulawesi, Irian Jaya, dan di Pulau Mentawai –lepas pantai Sumatera bagian Barat.

Prof. Dr. Elizabeth Anita Widjaja, satu-satunya ahli taksonomi bambu di Indonesia sekaligus peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dalam salah satu artikel menyebutkan tanaman bambu di Indonesia meluas dari kawasan rawa gambut hingga dataran tinggi 2.500 meter. Namun, hutan bambu sebagian besar ditemukan di hutan yang terganggu, kecuali Dinochloa spp. yang berkembang di hutan primer dan dipterocarp.

Menurut satu laporan yang diterbitkan pada 1990, hutan bambu terdapat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), sekitar 26 ribu hektar. Sedangkan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) terdapat area budidaya bambu untuk pabrik kertas seluas sekitar 24 ribu hektar. Belakangan, tanaman kedua area diganti pinus atau pohon albizzia, tanpa sisa.

Program inventarisasi bambu, mencatat sekitar 3.925,9 hektar di Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar). Sekitar 1.972,77 hektar di Kabupaten Garut, juga di Jabar. Hutan bambu di Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) IV mencapai 7.569,75 hektar. Bali juga punya sekitar 125 hektar.

Sumber lain mengemukakan hutan bambu di Sulsel mencapai 46.035,47 hektar, sebagian besar di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Maros. Sementara Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), disebutkan memiliki tak kurang 25 ribu hektar.

Hutan bambu juga mengisi area Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera), Taman Nasional Alas Purwo (Jawa), Taman Nasional Meru Betiri (Jawa), Kabupaten Langkat (Sumatera), dan Loksado (Kalimantan Tengah).

Juga taman nasional di Sumbawa Barat (Pulau Sunda Kecil), Maros (Sulawesi Selatan), serta Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Sumatra).

Data parsial dari berbagai institusi tersebut menyebabkan belum ada angka total luas hutan bambu yang dapat menjadi pegangan. Pada saat yang sama invasi pengembangan kawasan perumahan dan industri memakan habitat bambu.

Bambu pun dipanen untuk diambil kemanfaatannya yang luar bisa, namun tidak ada upaya menanam kembali. Wajar jika beberapa spesies bambu terancam menghilang. Sayangnya, lagi-lagi, tidak ada data fiksnya.


Rumput Menjulang

Bambu adalah anggota keluarga rumput (Poaceae). Seperti rerumputan lainnya, bambu memiliki batang yang bersendi, bunga-bunga kecil menempel dalam struktur yang dikenal sebagai spikelet, embrio yang dimodifikasi khusus di dalam biji, dan buah seperti biji-bijian.

Bambu satu-satunya kelompok besar rumput yang beradaptasi dengan habitat hutan. Berbeda dengan rumput lain yang memiliki sel fotosintesis sangat kuat di daunnya. Banyak bambu memiliki batang yang tinggi dan agak melengkung, tetapi ada pula yang lebat, atau ramping dan melilit, dan beberapa menyerupai pakis.

Bambu terbesar menjulang hingga 30-40 meter dan diameter 30 sentimeter. Saking tinggi dan besarnya batang, kadang-kadang masyarakat awam menyebutnya “pohon bambu”.

Bambu terkecil memiliki batang halus yang tingginya tidak lebih 10 sentimeter.

Meskipun bambu adalah rumput, banyak bambu yang lebih besar sangat mirip pohon dan kadang-kadang disebut “pohon bambu”.

Spesies bambu di Indonesia bagian Barat berdiameter lebih besar ketimbang yang tumbuh di Timur. Bambusa, Dendrocalamus dan Gigantochloa hidup luas di Barat daripada Timur. Genus Schizostachyum tumbuh lebih subur di Indonesia bagian Timur. Dinochloa, bambu pendakian, dominan di Kalimantan dan Sulawesi.

Setidaknya terdapat kurang-lebih 1.200 spesies bambu di seluruh dunia, yang tumbuh mulai dari Pulau Sakhalin, Rusia hingga Chili. Sebagian besar di wilayah tropis atau hangat.

Bambu berkayu (suku Bambuseae), setidaknya 1.100 spesies, merupakan bagian terbesar keanekaragaman bambu. Jenis inilah yang biasanya dianggap sebagai bambu. Kayu batangnya berasal dari pertumbuhan primer. Meskipun ada rumput kayu lainnya, Bambuseae satu-satunya kelompok rumput utama yang ditandai oleh kayu.

Terdapat pula sekitar 100 spesies rumput tropis, herba berdaun lebar (suku Olyreae), sebut saja sepupu Bambuseae, yang sekarang diklasifikasikan sebagai bambu.

Bambu belakangan dikaitkan dengan Asia, walaupun hampir setengah keanekaragamannya asli Amerika bagian Tengah dan Selatan. Bahkan ada satu spesies (tongkat raksasa, atau tongkat tebu) asli dari Amerika Serikat bagian Tenggara.

Hutan bambu di Purwakarta, Jabar (Foto: Ridwan Ewako – GOOD INDONESIA)

Bambu berkayu secara ekologis penting di hutan tropis dan sedang. Perpanjangan cepat rebung, tinggi, batang keras, dan percabangan vegetatif yang banyak memungkinkan bambu kayu bersaing dengan pohon untuk mendapatkan cahaya.

Bambu berkayu mudah menguasai tepi dan celah hutan berkat reproduksi vegetatifnya melalui batang bawah tanahnya yang telah berkembang baik (rimpang). Sementara bambu herba merupakan ciri khas lantai hutan yang teduh. Biomassa besar batang dan daun bambu menyediakan habitat yang sangat baik untuk berbagai macam hewan, termasuk kumbang dan serangga lainnya; burung, monyet, katak, tikus, dan panda.

Bambu kayu terkenal karena perilaku berbunga yang tidak biasa. Tumbuh hingga delapan puluh tahun lebih dalam kondisi vegetatif, kemudian berbunga pada saat yang sama dan mati setelah berbuah.

Sebagian besar tanaman bambu mati, menyediakan celah rekolonisasi oleh hutan, sementara benih bambu bertunas dan memulai generasi berikutnya.

***

Di Asia, budaya bambu telah hidup sejak beberapa ribu tahun lalu. Ia simbol kekuatan yang fleksibel, bagian keseharian warga.

Rebung muda yang lembut adalah sayuran yang enak, sedangkan batang yang sudah matang digunakan dalam konstruksi, perancah, pagar, dan keranjang atau untuk bubur kertas.

Batang dewasa juga dimanfaatkan sebagai peralatan, pipa air, alat musik, dan banyak item lainnya.

Bambu adalah material super penting dalam karya seni Asia. Dia bahan utama alat musik dan karya seni. Bambu juga ditanam sebagai tanaman hias di beberapa belahan dunia. Kegunaan bambu terus dieksploitasi, hasil budidaya maupun tumbuh alami.

Terdapat peningkatan pengakuan terhadap potensi bambu sebagai sumber daya terbarukan, terutama untuk reboisasi dan perumahan.


Kebutuhan Dunia

Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BPPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pasar internasional membutuhkan pasokan bambu hingga US$93 miliar atau sekitar Rp1.312 triliun pada 2025. Cina memasok 60 persen permintaan dunia selama ini.

Sumberdaya bambu Indonesia tak terlalu jauh dibanding Cina. Jauh di bawa ada India, Filipina, dan Thailand.

Guna memperkenalkan potensi bambu Indonesia, BPPI menjadi tanaman sebagai tema paviliun dalam konferensi perubahan iklim COP25 di Madrid, Spanyol, Desember lalu.

Menurut data International Bamboo and Rattan Organisation (INBAR), bambu memiliki kemampuan menyimpan atau menyerap karbondioksida yang sangat tinggi dibanding tumbuhan lain.

Bambu menyerap 100-400 ton karbon per hektar per tahun. Tumbuhan lain 90-420 ton per hektar per tahun. Ditambah fungsinya sebagai pengganti kayu, kemampuan bambu menurunkan emisi lebih tinggi.

[Baca juga: Petani Bambu Jatiluhur Tersingkir di Kampung Sendiri]

Material bambu juga bisa dijadikan pengganti semen, plastik, dan bahan-bahan yang menghasilkan emisi tinggi. Sejumlah bangunan bertingkat kini telah menggunakan bambu. Papan dan balok bambu tak kalah kuat dibanding kayu.

Yayasan Bambu Lestari menekankan potensi bambu menutup lahan kritis yang luasnya cenderung bertambah. Data 2015, terdapat sekitar 25 juta dari total 88 juta hektar lahan kritis berada di wilayah hutan. Bambu cocok menjadi penambal lahan kritis tersebut.

Selain dapat mengganti posisi kayu, bambu dapat diolah menjadi bahan dasar tekstil, bangunan, furnitur, juga bahan bioenergi.

Yayasan Bambu Lestari menggelar gerakan Seribu Desa Bambu. Gerakan ini berdimensi pelestarian lingkungan dan memacu roda perekonomian pedesaan.

Indonesia menargetkan memiliki dua juta hektar area bambu pada 2030.

Bambu pun menjadi salah satu alternatif dalam pemberantasan kemiskinan di desa. Keunggulannya sebagai sumber penghasilan, bambu bisa dipanen sepanjang tahun dengan teknik tebang pilih.


Bambu Purba

Bambusa Cornua Munro atau dikenal dengan nama pring embong (bambu embong) masuk spesies langka. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Jenis bambu ini bahkan disebut-sebut tidak ditemukan di belahan dunia manapun alias punah, kecuali di Kabupaten Malang, Jatim.

Tumbuh sejak 50.000-25.000 sebelum Masehi (SM), Bambusa Cornua Munro tergolong bambu purba. Spesies ini termasuk salah satu generasi awal spesies bambu-bambu yang ada di dunia atau awal evolusi bambu dunia.

Tim ekspedisi pring embong di lokasi penelitian [Foto: Dok. Krismawan Nur Dianto – GOOD INDONESIA]

Embong ditemukan kali pertama oleh Dr. Thomas Horsfiel bersama Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafles pada 1810-1815. Kemudian Sijfert Hendrik Koorders pada 1896 menemukan kembali tanaman ini di Sumbertangkil, Tirtoyudo. Koorders menuliskannya dalam buku berjudul Teysmannia, tepatnya halaman 615 yang dipublikasikan pada 1910.

Ditulis; “Den 27 Juni 1896 bloeiend, bij Soember tangkil, district Toeren, res. Pasoeroean, op ± 400500 M. zeehoogte, in licht, altijdgroen gemengd woud; wild. -Pring-embong, Jav. (Kds. 23693 β,).”

Terjemahan bebasnya; “Pada tanggal 27 Juni 1896 tumbuh berbunga di Sumbertangkil, Distrik Turen, Karesidenan Pasuruan, pada ketinggian ± 400-500 meter di atas permukaan air laut, pada daerah terang, menghutan hijau; tumbuh liar. Orang Jawa menyebutnya: pring embong/bambu embong (Kds. 23693 β,).”

Pada 2015, tim Ekspedisi Bambusa Cornuta Munro yang dipimpin Besar Edy Santoso –berbekal informasi dari buku berusia seabad itu– menemukan kembali barang berharga dimaksud di Dusun Sumbertangkil, Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo.

Cuma ditemukan di delapan titik, penemuan ini sangatlah dahsyat nilainya bagi perkembangan ilmu pengetahuan flora dunia.

Pemerintah Kabupaten Malang merespons positif penemuan bambu purba di wilayahnya. Upaya mengembangkan pring embong dilakukan.

Lokasi yang dipilih, yakni Boon Pring Andeman, Turen. Kawasannya memang destinasi wisata hutan bambu. Embong melengkapi jenis bambu yang telah ada, seperti petung, petung hitam, apus, tutul, ampel, wulung, kuning, pagar, Budha, amplex, dan bambu angus tifolis.

Pring embong memiliki sifat berbeda dibanding bambu lainnya. Perkembangbiakannya tidak merumpun ke atas, melainkan ke samping, menjalar, dan mengikat satu sama lainnya.

Masyarakat lokal selama ini memandang embong sebagai tanaman yang tidak menarik. Bahkan cenderung mengganggu dan merusak keindahan sekitarnya. Masyarakat tidak melihat manfaatnya karena karena batangnya kecil.

Setidaknya, masyarakat cuma menjadikan batang embong sebagai bahan ludi dupa kualitas tinggi. []GOOD INDONESIA-LMC


Referensi
:
1. Tempo.co
2. Encyclopedia.com
3. Bioversityinternational.org


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here