Mengapa UMKM?

A. Muhajir [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]

Oleh: A. Muhajir*

Ketika membicarakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maka hal yang paling sering dikemukakan, antara lain seputar ketangguhan pranata usaha masyarakat kebanyakan alias kelompok bawah dan menengah ini. Eksistensi UMKM tak diragukan lagi karena terbukti menjadi penggerak roda perekonomian.

Ketika fundamental perekonomian bangsa belum terlalu kokoh, pemerintah secara sadar mengandalkan sektor UMKM sebagai salah satu tiang bersandar. Bukan pilihan yang mengada-ada, UMKM memang andal menjadi pilar perekonomian bangsa.

Krisis ekonomi yang menerpa pada 1997-1998 tak menggoyahkan eksistensi UMKM. Jumlah pebisnis UMKM saat itu tetap saja meningkat. Sektor ini mampu menyerap 85 juta hingga 107 tenaga kerja hingga 2012.

Pada tahun itu, jumlah sektor usaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Sebanyak 99,9% lebih atau 56.534.592 unit merupakan UMKM. Sisanya, hanya sekitar 0,01% atau 4.968 unit masuk kelompok usaha besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah UMKM pada 2013 sebanyak 57 juta unit, tepatnya 57.895.721. Pertumbuhan jumlah 2,41% dibanding 2012. Sedangkan tenaga kerja yang terserap UMKM pada 2013 mencapai 114.144.082 orang, meningkat 6,03% dari setahun sebelumnya.

Sumbangsih UMKM terlihat jelas, misalnya pada 2011. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat UMKM menyumbang penerimaan negara sebesar 61,9% pemasukan Produk Domestik Bruto (PDB) melalui setoran pajak. Uraiannya yakni sektor usaha mikro 36,28% PDB, kecil 10,9%, dan bidang usaha menengah 14,7%.

Bandingkan dengan sektor usaha besar yang hanya berkontribusi 38,1% PDB melalui pajaknya.

UMKM tetap kokoh berdiri saat kondisi perekonomian lesu karena mereka relatif mandiri. Khususnya permodalan. Mereka tetap mampu berproduksi, memanfaatkan modal dan aset yang serba terbatas sekalipun. Berbeda dengan nasib barisan perusahaan besar yang mengandalkan modal besar (capital intensive). UMKM menyelamatkan para pekerja.

Sebelumnya, masih berdasar BPS, sepanjang 2006-2010, UMKM menyumbang 57% PDB. Hal ini ditunjang oleh peningkatan kuantitas kemampuan tenaga kerja yang terserap, besaran modal yang dimiliki, maupun aset yang dikembangkannnya.

Saya setuju, Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bambang Wijanarko menamsilkan ketangguhan UMKM menghadang krisis ekonomi tersebut. Dikatakannya, UMKM adalah lantai rumah dan dinding yang kokoh. Sementara genteng atap rumah, yaitu sektor moneter, bocor di sana-sini.

Dalam situasi gejolak ekonomi dimaksud, menurut Bambang, ekonomi kerakyatan menjadi harapan guna menyelamatkan perekonomian bangsa. Dalam hal ini, tiada lain, perekonomian berbasis UMKM.

Dan, kita tentu sepakat bahwa peran UMKM semakin kuat jika mereka bersatu di bawah naungan koperasi. Keduanya adalah duet dahsyat jika penanganannya tepat, konsisten, dan tanpa henti.

Data semacam di atas boleh jadi mengagetkan sebagian di antara kita. Ternyata si kecil selama ini berperan luar biasa terhadap perekonomian bangsa ketimbang si besar. Padahal sektor bisnis besar lebih heboh diperbicangkan. Media massa memberitakannya gegap-gempita, berbeda dengan UMKM yang disinggung ala kadarnya.

Kehebatan sumbangsih UMKM yang paling menonjol adalah pelakonnya orang-orang kecil, jika tidak ingin menyebutknya kaum pinggiran, namun menghidupi masyarakat kebanyakan. Sektor satu ini jelas berada di tengah masyarakat dan menghidupi lingkungan sekitarnya. Peran UMKM benar-benar riil.

Namun, fakta terang-benderang pula, perkembangan UMKM belum memuaskan. Belum lagi koperasi. Kesanggupan bertahan para mengusaha menengah ke bawah memang tinggi tetapi kemampuan mengembangkan diri sangat rendah. Sungguh disayangkan karena hal ini terjadi di tengah besarnya potensi pasar dan sumber bahan baku di tanah air.

Karena hal-hal yang tersebut di atas, saya mengajak seluruh pihak yang peduli pada kemajuan bangsa, khususnya sektor ekonomi kerakyatan, untuk turut merumuskan berbagai strategi mewujudkan kejayaan UMKM.

UMKM maju, ekonomi kerakyatan tumbuh dan berkembang. Bila hal ini dicapai, maka pertumbuhan ekonomi bangsa sesuai harapan. UMKM jelas bagian integral ekonomi nasional. Dan, otomatis pula keadilan ekonomi terengkuh. []GOOD INDONESIA


*Penulis adalah Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah. Artikel ini dicuplik dari buku “Mengeroyok UMKM: Terobosan 1 Miliar 1 Desa Wirausaha” (2019) karya A. Muhajir dan Ridwan Ewako, yang diterbitkan Yayasan SUN (Solusi Untuk Negeri).


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here