AL-BIRUNI; Nama Diukir di Bulan

Ilustrasi Al Biruni tentang pergerakan bulan [Foto: alamy.com - GOOD INDONESIA]

Abu Rayhan al-Biruni atau Al-Biruni (973-1050) lebih dikenal sebagai legenda astronom dunia. Sumbangsihnya tidak terbatas ilmu atronomi, namun juga geografi dan sejarah. Dia pun penerjemah ulung yang sangat berpengaruh pada kejayaan Islam pada Abad Pertengahan.

Biruni lahir di dekat Kath di Khwarizm (sekarang bagian Uzbekistan, negara bekas Uni Soviet), sebelah utara Iran dan Afghanistan, pada 4 September 973. Menghabiskan masa kecilnya di wilayah selatan Laut Aral.

Kota kelahirannya sekarang menyandang namanya, Birun. Situs ini berada di lingkungan Kath, salah satu kota utama di Khawarizm. Tepatnya di tepi kanan Amu Dar’ya dan timur laut Khiva.

Biruni juga sempat di Jurjaniyya, juga kota utama. Persisnya di seberang sungai dan barat laut Khiva.

Tidak ada informasi detail tentang leluhur dan masa kecil Biruni. Namun, Biruni bocah hingga remaja berada di tengah pengaruh lingkungan multikultural Persia, India, dan kekaisaran Yunani Alexander.

Di sini ajaran Zoroaster dan Manichean berbaur dengan Hindu dan agama Islam yang muncul.

Di bidang astronomi, matematika, dan astrologi, wilayah dunia ini saat iyu –yang melakukan transisi ke Islam– jauh di depan Eropa, baru mulai memulihkan tradisi klasiknya.

Biruni kali pertama bergulat dengan studi ilmiah di bawah gemblengan astronom dan pakar matematika terkemuka Abu Nara Manur. Hasilnya, pada usia tujuh belas, ia menghitung ketinggian matahari di Karh dan menemukan lintang terestrial dengan berbekal cincin meridian.

Empat tahun kemudian, Biruni merancang penelitian lebih serius. Dia menyiapkan cincin berdiameter lima belas hasta, bersama beberapa peralatan tambahan. Waktu pengamatan titik balik matahari pada musim panas 995, di desa di selatan Kath dan di seberang Oxus. Kesempatan ini rusak oleh perang saudara yang pecah.

Serangan terhadap penguasa Khwarizm oleh penguasa Jurjaniya memaksa Biruni ke pengasingan, mungkin ke Rayy.

Di sini, ia berinteraksi dengan astronom Al-Khujandi. Mereka sempat melalukan pengamatan dengan mural sextant. Biruni kemudian menulis risalah tentang instrumen ini. Dia mengupas habis.

Pada 997, Biruni kembali ke Kath. Di sini ia menyasar fenomena gerhana bulan. Sementara di Baghdad oleh Abu Al-Wafa.

Berdasarkan perbedaan waktu, mereka menentukan perbedaan longitudinal antara kedua kota. Rumusan mereka salah satu di antara sejumlah metode dasar yang menjadi tonggak keilmuan astronomi.

Ilmuwan satu ini memberi sumbangan penting bagi pengukuran jenis berat (specific gravity) berbagai zat. Hasil perhitungannya sungguh cermat dan akurat.

Konsep tersebut sesuai dengan prinsip dasar yang Biruni yakini bahwa seluruh benda tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Konsep ini merupakan pintu gerbang menuju hukum Newton 500 tahun lebih kemudian.

Biruni juga melahirkan hipotesa tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya. Belakangan, sekitar 600 tahun lebih kemudian pasca wafatnya Biruni, Galileo Galilei mematangkan rumusan ini.

Beberapa tahun berikutnya, Biruni sibuk di Istana Samanid di Bukhara dan pemerintahan Ispahbad di Gilan. Ia meramu informasi sejarah negara-negara kuno Eropa dan Asia, yang dipersembahkan kepada Pangeran Ziyarid di Gurgan pada 1000.

Kegiatan Biruni dikenal sebagai bidang Kronologi. Karyanya menjadi sumber paling signifikan bagi penyusunan kalender Iran dan sebagian besar sejarah Asia Tengah.

Pada 1004, Biruni berada di Jurjaniya. Dia menjadi tokoh terkemuka di keemiran Jurjaniya, sering mendapat amanat sebagai diplomat dan juru bicara kerajaan.

Pada 1017, Emir Mahmud (Jurjaniya) menaklukkan Khwarizm dan membawa Biruni sebagai hadiah perang. Biruni kemudian dikirim ke wilayah dekat Kabul.

Pada 1022 hingga 1026, Mahmud melakukan ekspedisi yang sangat sukses ke India. Biruni memanfaatkan kesempatan mempelajari bahasa Sanskerta guna menggali referensi astronomi, astrologi, sejarah, dan kebiasaan sosial India.

Abu Rayhan al-Biruni [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]


Ratusan Karya

Sebagian besar karya-karyanya pada 1020-1030-an mencerminkan minatnya pada pengetahuan dalam teks astronomi Sanskerta saat ini di Punjab. Termasuk di dalamnya On Shadows (sekitar 1021), Tahdid (1025), On Chords (1027), On Transits, India (1031), dan Al-Qanun al-Masudi, serta terjemahan Karanatilaka Vijayanandin ke bahasa Arab.

Karya-karya tersebut menjadi teks fundamental sejarah astronomi Islam dan India abad ke-8 hingga ke-10. Bukan cuma berkat kompilasinya, tetapi juga hasil penelitian murni Biruni.

Hingga menjelang akhir hayat pada 1050 di Afghanistan, Biruni terus menulis. Tema gravitasi disikatnya, selain gemologi, farmakologi, dan filsafat India (Patanjali). Juga terdapat Tarikh Al-Hindi (sejarah India) sebagai karya pertama dan terbaik yang pernah ditulis sarjana muslim tentang India.

Karya lainnya, yakni Tafhim li awal Al-Sina’atu Al-Tanjim mengupas pondasi ilmu geometri, aritmatika, dan astrologi hari ini.

Tafhim yang dimaksud adalah semacam buku pengantar bagi ilmuwan muda yang mulai menggeluti ilmu matematika, geografi, sejarah, dan astronomi. Biruni sendiri mengambil pembelajaran dari Tetrabiblos, dasar Ptolemeus, yang menjadi pondasi astrologi dibangun. Ia meramunya dengan astrologi Persia dengan mitra Hindu.

Tafhim direproduksi dan diedarkan secara luas di Asia Selatan dan menemukan jalannya ke Eropa. Ia dibaca tiga abad kemudian oleh Guido Bonati. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dilakukan pada 1934 oleh R. Ramsey Wright.

Sedangkan karya khusus astronomi, Biruni melahirkan Al-Qanon al-Mas’udi fi al-Hai’ah wa al-Nujum (teori tentang perbintangan).

Di samping itu, ia juga menulis seputar pengetahuan umum, antara lain buku Al-Jamahir fi Ma’rifati al-Juwahir (ilmu pertambangan), As-Syadala fi al-Thib (farmasi dalam ilmu Kedokteran), Al-Maqallid Ilm Al-Hai’ah (tentang perbintangan), serta kitab Al-Kusuf wa Al-Hunud (kitab tentang pandangan orang India mengenai peristiwa gerhana bulan).

Secara keseluruhan, kepustakaan hasil buah tangan Biruni mencakup 113 judul. Daftar ini dapat diperluas setidaknya menjadi 146 judul, yang wujud buku 22 judul di antaranya masih ada hari ini.

Biruni tak pelak seorang ilmuwan penulis yang produktif. Tidak mudah menulis penelitian yang dilakukan sebab “sangat teknis”. Dan, ilmuwan muslim ini menjalankan seluruh proses pengabdiannya kepada ilmu pengetahuan dengan menerapkan standar kompetensi tertinggi.

Wajar jika orang-orang sezamannya menjuluki dan menyapanya; “Tuan”. Sebuah ungkapan penghargaan dan kekaguman yang tinggi kepada Biruni.

Dapat diyakini bahwa paparan tentang buah pemikiran Biruni tersebut masih sebagian kecil saja. Masih banyak buku lain yang dapat dijadikan rujukan dasar ilmu pengetahuan.


Di Mata Barat

Dengan sederet panjang karya monumental, Biruni pantas menyandang gelar sebagai salah seorang ilmuwan muslim terbesar sepanjang masa. Sebagian ahli di Barat sepakat menyebut Biruni sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia.

Penghargaan diberikan bukan karena berbagai penelitiannya yang sangat cermat dan akurat, namun juga sebab penguasaannya yang sangat mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu secara komprehensif. Dia meletakkan dasar bagi metode penelitian ilmiah yang digunakan hingga lebih seribu tahun kemudian.

Kalangan Barat menyimpulkan bahwa karya ilmiah Biruni melampaui Copernicus, Isaac Newton, dan para ahli Indologi yang berada ratusan tahun di depannya. Kalangan ulama maupun orientalis sama-sama memujinya.

Meskipun dipuji sebagai ahli perbandingan agama yang sangat objektif oleh Montgomery Watt dan Arthur Jeffery memuji Biruni sangat objektif dalam perbandingan agama. Apresiasi seperti ini tak sedikitpun memengaruhi keimanan Islam-nya.

Pantas bila George Sarton dalam bukunya yang berjudul Introduction to the History of Science menyebut masa Biruni sebagai “Era Al-Biruni” (The Time of Al-Biruni). Julukan ini menunjukkan betapa besar dominasi Biruni dalam khazanah keilmuan dunia pada masa itu.

Lebih dahsyat lagi, International Astronomical Union (IAU) pada 1970 menyematkan nama “Al-Biruni” kepada salah satu kawah di bulan. Kawah berdiameter 77,05 km itu diberi nama “Kawah Al-Biruni” (The Al-Biruni Crater).

Biruni wafat pada 3 Rajab 448 H atau 13 Desember 1048 M di Kota Ghazna. Beliau saat itu memasuki usia 75. Jelas, ilmuwan di seluruh belahan dunia hari ini senantiasa mengenang jasa besar Biruni bagi perkembangan sains. Dia adalah guru segala ilmu. []GOOD INDONESIA-RE


Sumber
:
1. Encyclopedia.com
2. Gomuslim.co.id


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here