The post Nasionalisme Agnez Mo appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Pikiran Sukarno itu senantiasa diingat segenap komponen bangsa. Maklum, selain karena muatannya mendasar, juga disampaikan dalam pidatonya yang membakar semangat rakyat.
Pernyataan salah seorang di antara tokoh Dwi Tunggal yang membawa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 tersebut dirangkum dalam buku Sukarno, di Bawah Bendera Revolusi. Apa nasionalisme versi Bapak Bangsa?
Nasionalisme itu jalah suatu itikad; suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu “bangsa”!
Kita memiliki nasionalisme jika memiliki kesadaran bahwa kita satu di bawah Merah-Putih. Punya nasionalisme bila tidak mudah dicerai-berai, diadu domba, dibenturkan sesama putra bangsa. Nasionalisme kita ada kalau tak lagi hobi mencaci sesama dan saling menjatuhkan.
Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.
Warga di pinggiran kota yang mengais sampah mencari rezeki memiliki nasionalisme karena mandiri, tidak mengemis. Terlebih generasi bangsa yang berdiaspora atau merantau dan sukses mengharumkan nama Indonesia di luar sana.
Sebaliknya seorang elite yang membawa Indonesia terbelit utang sehingga rakyat menderita berkepanjangan, jelas-jelas nol nasionalismenya.
Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
Berjuang melawan penjajah sejatinya lebih mudah karena fisik musuh jelas terlihat. Perjuangan hari ini sangat sulit sebab banyak sosok di sekeliling kita sebenarnya tengah berusaha menghancurkan Indonesia.
Mereka hendak mengoyak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena ketamakan untuk kepentingan ekonomi diri dan kelompok sendiri. Mereka tidak pernah mau peduli saudara di lingkungannya yang menderita karena kemiskinan akut.
Orang-orang ini sama sekali tidak memiliki nasionalisme. []GOOD INDONESIA
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post Nasionalisme Agnez Mo appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post Sepak Bola Pemersatu appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Betapa tidak, riuh soal pemukulan sejumlah suporter Timnas Malaysia terhadap beberapa pendukung skuat Garuda sudah melibatkan kedutaan hingga menteri kedua negara. Demonstrasipun terjadi. Belum lagi perang kata di jagad media sosial.
Hal yang masih memanas hingga hari ini seputar tuntutan Jakarta agar Kuala Lumpur meminta maaf secara resmi atas insiden kekerasan dimaksud. Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali menyatakan Indonesia telah melayangkan nota protes resmi ke Jiran. Sebelumnya, pihak Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kuala Lumpur bersuara lantang.
Menpora Malaysia Syed Saddiq sebenarnya telah mengutarakan permohonan maaf. Petinggi milenial ini meminta maaf memakai video singkat yang diunggah via akun media sosial pribadinya; @SyedSaddiq. Permohonan maaf ala Syed ini empat hari pasca kejadian. Sementara desakan agar Malaysia meminta maaf sudah menggema pada hari keributan terjadi.
Menyertai pernyataan maafnya, Syed menegaskan pengeroyokan fans Timnas Merah Putih –seperti terlihat dalam video yang beredar luas– terjadi pukul sekitar 03.00 waktu setempat usai pertandingan. Lokasinya bukan di sekitar stadion, melainkan kurang-lebih 20 kilometer dari Bukit Jalil.
Menpora Malaysia juga meminta agar pendukung Timnas Indonesia yang dikeroyok suporter skuat nasional Malaysia melapor ke aparat berwajib setempat guna pengusutan kasus. Ia berjanji keadilan akan ditegakkan.
Pernyataan tersebut mengesankan permohonan maaf Malaysia sama sekali tidak sungguh-sungguh. Terlebih “cuma” melalui media sosial pribadi. Apalagi, sebelumnya, Syed kukuh menyebutkan video berisi tindak brutal pendukung Timnas Malaysia sebagai hoaks alias kebohongan.
“Maaf” memang sekadar satu kata. Namun, perlu kearifan agar ikhlas dan cepat meminta maaf. Tanpa itu berat bagi siapapun melakukannya, karena ia salah satu aspek dasar peradaban.
Walaupun cuma “satu kata”, kesigapan dan ketulusan meminta maaf dapat berdampak besar. Bukan cuma dalam koridor hubungan personal, namun pun berkaitan persahabatan antarnegara. “Perang” bisa tidak terjadi atau berhenti hanya dengan saling memaafkan.
Pada kasus kericuhan pada event yang serupa sebelumnya, yakni kualifikasi Piala Dunia 2022 antara kedua timnas di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Jakarta (5/9/2019), Indonesia tidak membutuhkan 24 jam menyatakan permintaan maaf.
Imam Nahrawi, yang menjabat Menpora RI saat itu, menemui langsung Syed guna menyampaikan langsung permohonan maaf pemerintah. Surat resmi pemerintah langsung dilayangkan.
Padahal tidak terjadi pengeroyokan saat itu. Suporter Timnas Indonesia “hanya” melemparkan sejumlah botol minuman dan beberapa suar (flare) ke arah tamunya di dalam stadion. Atas kericuhan ini, aparat keamanan mengevakuasi kelompok suporter Malaysia ke satu ruangan. Menpora Syed juga di antaranya.
Terlepas hal-hal tersebut, GOOD INDONESIA mengingatkan kita semua bahwa hakikat olah raga –khususnya sepak bola– sesungguhnya buat persatuan. Olah raga merupakan sarana memupuk salah sisi terbaik manusia, yakni sportivitas, yang menjadi pilar persatuan.
Khusus di Indonesia, Pekan Olah Raga Nasional (PON) pertama di Solo pada 1948 digelar sungguh dengan kesadaran penuh untuk menggalang persatuan bangsa.
Pada gelaran internasional, bukan rahasia lagi soal sihir pemain sepak bola legendaris Edson Arantes Do Nascimento alias Pele. Pada 1967, sebagian wilayah Nigeria memberontak untuk merdeka. Perang saudara berkepanjangan menelan demikian banyak nyawa manusia.
Pele melalui klub Santos saat menjalani eksebisi di Lagos dan Benin pada 1969 mampu menghentikan perang bakubunuh di Nigeria. Walaupun cuma 48 jam. Fakta serupa pun terjadi di beberapa negara pecahan Rusia saat masih bergolak.
Lalu, haruskah persaudaraan sesama kelompok suporter retak gara-gara sepak bola? Perlukah hubungan bilateral antarnegara memanas akibat perhelatan sepak bola?
Bukankah kita mencintai sepak bola karena setuju menjunjung sportivitas? Agar kita “semakin menjadi manusia” dalam kondisi menang atau sedang kalah. []GOOD INDONESIA
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post Sepak Bola Pemersatu appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>