The post NETTY PRASETIYANI; ‘Local Hero’ AS di Senayan appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Saat itu, aktivis pemberdayaan kaum perempuan ini, secara lantang berucap akan menyiapkan sendiri peti mati bagi suaminya bila melakukan tindak korupsi. Penegasan ini kontan dikutip ramai media massa nasional dan lokal.
“Saya tidak akan membukakan pintu (rumah) bila Kang Aher pulang dengan (harta) hasil korupsi,” Netty menegaskan sikapnya. Sambungnya, “Saya hanya berharap suami saya tak melakukan kebijakan yang salah, menggulirkan program pembangunan yang keliru dengan tindakan korupsi, karena ini berdampak luar biasa pada anak-anak saya ketika mereka membangun masa depannya.”
Pernyataan tandas di hadapan sekitar 2.000 warga Ciamis tersebut menunjukkan visi dan kapasitas alumnus Universitas Indonesia (UI) ini. Dia berdiri di panggung bukan semata-mata karena berperan sebagai pendamping seorang gubernur. Namun, Netty memang memiliki kemampuan membangun panggungnya sendiri.
Tengoklah kiprahnya menjalankan tugas memimpin beberapa lembaga, sebagai ketua Tim Penggerak PKK Jabar, misalnya. Melalui PKK, dia terus dihantui oleh mimpinya. Keempat mimpi dimaksud menyangkut nasib kaum perempuan dan anak-anak Jabar, bidang yang terus diperjuangkannya.
Pertama, Netty menghendaki tidak seorangpun perempuan Jabar yang melahirkan tanpa tenaga kesehatan. Kedua, tak seorangpun bayi yang tanpa memperoleh lima imunisasi dasar.
Ketiga, terejawantahkannya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah berkembangnya penyakit infeksi. Keempat, terhamparnya kondisi bagi penyiapan generasi di Jabar menjadi pemimpin masa depan. Inilah hantu mimpi sekaligus cita-cita Netty.
Sejak di bangku SMA Negeri 14 Jakarta, Netty remaja telah terbiasa terlibat berbagai kegiatan organisasi. Hal ini berlanjut hingga kuliah, dan sampai sekarang. Putri pasangan tentara-guru ini tenggelam dalam aktivitas sosial. Nilai-nilai kedisiplinan yang ditanamkan kedua orang tuanya membawa Netty mampu mengemban seabrek target perjuangan sosial yang digelutinya.
Perpustakaan Nasional mengganjar wanita kelahiran 15 Oktober 1969 ini dengan penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka pada 2011. Dia dinilai berjasa membangun budaya gemar membaca di Jabar.

Sementara Kedutaan Besar Amerika Serikat menobatkan Netty sebagai Local Hero (Pahlawan Lokal) sebab berjasa memerangi praktik perdagangan manusia (human trafficking). Apresiasi ini diterimanya pada Januari 2013.
Sebagai ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty memang berhadapan dengan tanggung jawab berat menekan angka kasus perdagangan manusia. Peran ini cukup berhasil sebab kejahatan kemanusiaan ini tahun demi tahun berkurang di Jabar.
Netty pun berhasil menempuh jenjang pendidikan tertinggi. Ia diwisuda sebagai doktor Ilmu Pemerintahan, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, pada 5 Mei 2015. Judul disertasinya: “Evaluasi Kebijakan Pemerintah ke Pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan (Studi Kasus Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan)”.
Kesibukan menjalan tanggung jawab sebagai istri gubernur tak membuat peran Netty sebagai ibu atas enam putra-putrinya terabaikan. Setidaknya hal ini tercermin pada keberhasilan anak-anaknya menjalani tahap demi tahap pendidikan formalnya. Keenam anaknya itu: Khobab, Salman, Khodijah, Abdulhalim, Shofia, dan Abdulhadi.
Kunci dalam pendidikan mereka, bagi Netty, adalah keteladanan. Inilah komitmen yang dibangun Netty bersama Aher. Mereka mewajibkan diri masing-masing guna menghadiRkan teladan yang baik.
Selain ini, Netty tetap senantiasa menjalin komunikasi dengan buah hatinya, dalam kondisi sibuk sekalipun. Komunikasi dimaksud dibangun dalam iklim demokrasi. Begitu pun Sang Ayah. Kehidupan keluarga dipupuk, dikawal, dan dibangun bersama sebagai ibu-ayah maupun istri-suami.
Atas visi, komitmen, dan strategi tersebut, pasangan Aher-Netty juga patut menjadi teladan warga Jabar yang dipimpinnya. Aher-Netty siap menjadi teladan dalam mewujudkan keluarga, menjadikan “rumahku (baca: keluargaku) adalah surgaku”.
Wakil Rakyat
Tak lama usai Aher merampungkan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat dua periode, Netty tetap sibuk melanjutkan pengabdian mengurus rakyat. Bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Jabar VIII, yakni Kota/Kabupaten Cirebon dan Indramayu pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Netty menuju Senayan, Jakarta.
Usia dilantik sebagai sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024, Netty kepada jurnalis menegaskan dirinya siap mengawal persoalan kesehatan dan ketenagakerjaan, khususnya. Bidang Komisi IX ini memang salah dua di antara beberapa bidang sosial-kemasyarakatan yang digelutinya.

“Ini tugas penting karena kependudukan menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan sumber daya manusia di negara kita. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas SDM-nya,” ujarnya.
Soal permasalahan buruh, Netty sepenuhnya sadar bahwa ia menghadapi tantangan berat, khususnya menyangkut kesejahteraan. Sejumlah pekerjaan berat di hadapan mata dalam kerangka mewujudkan atau meningkatkan kesejahteraan kaum pekerja, termasuk mereka yang berjuang di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Masalah tak kalah peliknya, yakni soal kesehatan. Selain seputar derajat kesejahteraan masyarakat, adalah sengkarut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
“Ketika kita berbicara masalah kesehatan, masyarakat banyak mengeluh soal kenaikan iuran BPJS yang cukup melilit masyarakat. Sementara itu kualitas pelayanan BPJS bolong di sana-sini. Sering kita dengar tidak kamar buat pasien, dan sebagainya,” ungkap Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini, semangat.
Ada keyakinan mampu memberi sumbangsih pengabdian terbaik buat rakyat. Termasuk di antara tantangan mewakili kepentingan rakyat menghadapi dampak pandemi covid-19 dan persoalan kesehatan dahsyat lainnya ke depan.
Benang kusut pemerintah menghadapi pandemi akibat penularan virus korona harus menjadi pelajaran. Ke depan, perlu sistem mekanisme pencegahan dan penanggulangan wabah maupun pandemi.
“Nyawa satu orang warga tak ternilai. Berapa nilai nyawa puluhan, ratusan, dan terlebih ribuan? Jangan sampai seorangpun warga menjadi korban atas ketidakmampuan pemerintah menangani satu kasus wabah maupun pandemi,” tandas perempuan berjilbab dan berkacamata ini.
Nama: Netty Prasetiyani
Tempat lahir: Jakarta
Tanggal lahir: 15 Oktober 1969
Agama: Islam
Suami: Ahmad Heryawan
Pendidikan:
SMP Negeri 20 Jakarta
SMA negeri 14 Jakarta
S1: Bahasa Inggris, STBA LIA Jakarta
S2: Kajian Wanita, Universitas Indonesia
S3: Ilmu Pemerintahan, Universitas Padjadjaran
Riwayat Pekerjaan:
Kepala Sekolah TKIT (Taman Kanak-kanak Islam Terpadu) Darul Falah, Bekasi (1998-2001)
Konsultan Pendidikan di Perguruan Islam Madina (2005-2007)
Riwayat Organisasi:
Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat (2008-2018)
Ketua Dekranasda Jawa Barat (2008-2018)
Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat (2010-2018)
Ketua Ikatan Bank Mata Jawa Barat (2009-2017)
Pembina Yayasan Bordir Jawa Barat (2010-sekarang, 2019)
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Provinsi (2008-2018)
Penasihat BKOW Jawa Barat (2008-2018)
Dewan Pertimbangan FKPPI (2015-sekarang, 2019)
Dewan Pakar Kaukus Perempuan Politik Indonesia (2016-2021)
Penasihat Ikatan Perancang Busana Muslim (2008-sekarang, 2019)
Ketua II Pengurus Pusat Wanita PUI (Persatuan Umat Islam)
Penghargaan:
Manggala Karya Kencana, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat (2010), dari Kepala BKKBN
Nugra Jasa Darma Pustaloka, sebagai Bunda Literasi Jawa Barat (2011), dari Kepala Perpusnas
Satya Lencana Kebaktian Sosial, sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat (2013), dari Presiden RI
Bhakti Koperasi, sebagai Ketua Dekranasda Jawa Barat (2017), dari Menteri Koperasi
Tokoh Peduli Perlindungan Anak, sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat (2016), dari KPAI
Tokoh Perempuan Inspiratif, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat (2015), dari KNPI Jawa Barat
Tokoh Berinovasi & Berprestasi, sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat (2017), dari RMOL Jawa Barat
Local Hero, sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat (2013), dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS)
Woman Creative Leaders, sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat, dari Sindo Weekly. []GOOD INDONESIA-RE
Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV
[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: [email protected]]
The post NETTY PRASETIYANI; ‘Local Hero’ AS di Senayan appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post SURYA PALOH; Berawal Ikan Asin appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Sebenarnya, sebelum merintis televisi berita pertama di Indonesia, Surya yang kerap disapa SP, telah melahirkan Harian Media Indonesia dan Lampung Post (Media Group).
Di arena politik, ia adalah mantan Ketua Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Keluar dari Golkar, sekolah bagi sederet politikus nasional, Surya membesut Partai Nasional Demokrat (Nasdem) bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Pada periode awal, Surya dan Sri Sultan duduk di Dewan Pembina Organisasi Masyarakat DPP Nasdem. Kini, Surya memimpin Nasdem sebagai Ketua Umum. Dan, pada Kongres II Partai Nasden 2019 (masih berlangsung saat artikel ini ditayangkan), dia hampir pasti dinobatkan kembali memimpin untuk periode lima tahun ke depan.
Berikut secuplik kisah perjalanan hidup Surya yang dihimpun PemiluUpdate.com dari berbagai sumber.
Pebisnis Sejak Belia
Bersamaan dengan sepak terjangnya di panggung politik, Surya juga malang-melintang di bidang bisnis. Jangan tanya kiprah bisnis. Ia boleh disebutkan sebagai salah seorang pebisnis ulung.
Di luar bisnis media, Surya berkibar di bisnis properti, restoran, hingga penggarapan sumber daya alam. Ia juga memiliki beberapa yayasan yang dimanfaatkan untuk melakukan aksi sosial.
Surya masuk daftar orang terkaya di Indonesia. Di daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia 2018, nama Paloh bertengger di peringkat 77 dengan kekayaan US$ 575 juta atau Rp 8,74 triliun. Lebih besar dari kekayaan yang dimiliki Sandiaga Salahuddin Uno, mantan Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta dan Calon Wakil Presiden pada Pemilihan Umum Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019.
Hal menarik, Surya bukanlah pengusaha yang mewarisi usaha keluarga seperti profil orang kaya lainnya. Kekayaannya kini hasil jerih payahnya sendiri. Dia meraih kesuksesan bisnis melalui perjuangan keras dan panjang.
Anak pasangan Daud Paloh dan Nursiah tersebut lahir di Banda Aceh, 16 Juli 1951. Namun, ia menghabiskan masa kecilnya di Sumatera Utara.
Di provinsi tetangga Aceh itu, Surya menapaki perjalanan suksesnya. Minat menjadi pengusaha mulai terlihat di sini. Remaja satu ini tak peduli soal gengsi saat menjalani usaha. Gambaran anak metropolitan umumnya sama sekali tak menempel pada profilnya.
Bayangkan, saat pikirannya mencari rezeki yang halal, dia pernah berjualan ikan asin hingga karung goni saat masih sekolah. Ia menjelajahi areal Perkebunan Nusantara untuk memasarkan dagangannya.
Menikmati pekerjaan membawa bisnis yang dirintisnya bertahan dan berkembang hari demi hari. Menarik, sebab Surya membangun usaha sendiri.
Masih di usia remaja, Surya sudah menekuni pembuatan karoseri. Sambil menjalankan bisnisnya ini, ia juga membuka agen penjualan mobil.
Surya juga pernah menjadi Manajer Travel Biro Seulawah Air Service dan dipercaya mengelola wisma pariwisata di Padang Bulan, Medan.
Macamnya banyak, ya? Tepat, tetapi Surya tak meninggalkan bangku sekolah. Sementara tak sedikit remaja ketika mampu mengumpulkan uang dari hasil keringat sendiri, sekolah ditinggalkan. Surya tetap menuntaskan pendidikan di SMA Negeri 7 Medan, sejak 1967 hingga selesai.
Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Surya pernah tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Sumatra Utara. Tidak selesai, sosok satu ini melanjutkan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Sumatra Utara.

Aktivis Organisasi
Di samping menggeluti bisnis, Surya menghabiskan masa mudanya di beberapa organisasi. Salah satunya Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Ia sempat menjadi ketua.
Surya juga pernah menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar di Sekretariat Bersama Golkar. Dia juga memelopori berdirinya Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) pada 1968 dan menjadi pemimpin organisasi tersebut se-Sumatra Utara.
Organisasi tersebut menjadi cikal-bakal Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI), salah satu organisasi kepemudaan besar hari ini.
Distributor Mobil ke Katering
Di usia muda, skala usaha yang dirintis tak lagi kecil-kecilan. Nama Surya telah berkibar di Sumatera Utara. Bersama kakak iparnya, Yusuf Gading, ia masuk dalam kompetisi besar. Keduanya menjadi distributor mobil Ford dan Volkswagen pada 1973. Ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Ika Diesel Bros.
Dua tahun kemudian, dia diamanahi posisi Direksi Hotel Ika Darroy di Banda Aceh. Saat yang sama memegang jabatan Direktur Link Up Coy, Singapura, perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan umum.
Sepak terjang Surya sebagai pengusaha berlanjut ke Jakarta. Ia menjabat Presiden Direktur Ika Mataram Coy pada 1975. Perusahaan ini bergerak dalam penyediaan katering.
Tak puas membesarkan perusahaan orang lain, Surya mendirikan perusahaan katering sendiri, bernama Indocater. Perusahaan ini belakangan tampil sebagai perusahaan katering nomor satu se-Asia Tenggara.

Mendirikan ‘Metro TV’
Mencermati peluang bisnis, Surya terjun ke bisnis media. Media pertamanya adalah Harian Prioritas yang berdiri pada 2 Mei 1986. Koran ini oleh penguasa dengan tudingan melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Pers Indonesia.
Tentu Surya tidak kapok. Ia tetap di arena bisnis media. Dia menghidupkan Majalah Vista. Setelah itu, menjalankan Harian Media Indonesia pada 1986, yang tetap bertahan hingga kini.
Keputusannya mengelola Media Indonesia berbuah kesuksesan. Dia pun membangun media lainnya di beberapa daerah, seperti Harian Atjeh Post, Mimbar Umum, Lampung Post, Gala, Bali News, Dinamika Berita, hingga Cahaya Siang.
Yang fenomenal , yakni keputusannya mendirikan stasiun televisi berita Metro TV. Stasiun televisi ini resmi mengudara pada 25 November 2000.
Satu catatan penting, kesuksesan Surya menapaki perjalanan bisnisnya berkat keberaniannya menangkap peluang. Rasa takut disisihkan, lalu kerja keras menghadapi setiap tahap tantangan di depan mata. Kini, sosok pria brewok ini menjadi salah seorang berpengaruh di republik ini.
Nama lengkap: Surya Paloh
Alias: Surya Dharma Paloh
Tempat lahir: Kutaraja, Banda Aceh
Tanggal lahir: Senin, 16 Juli 1951
Zodiak: Cancer
Pendidikan
1958-1963: Sekolah Dasar Negeri Serbelawan, Simalungun
1964-1966: Sekolah Menengah Pertama Negeri Serbelawan, Simalungun
1967-1969: Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Medan
1970-1972: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
1972-1975: Menyelesaikan Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan
Karir
1968: Manajer Travel Biro Seulawah, Air Service, Medan
1972-1975: Pimpinan ‘Wisma Pariwisata’, Medan
1973: Presiden Direktur PT Ika Diesel Bros Medan
1975: Kuasa Direksi Hotel Ika Daroy, Banda Aceh
1975: Presiden Direktur PT Ika Mataram Coy, Jakarta
1976-1977: Direktur Link Up Coy, Singapore
1979-Sekarang: Presiden Direktur PT Indocater, Jakarta
1985-1986: Pimpinan Umum Harian Pagi Prioritas, Jakarta
1988-Sekarang: Direktur Utama PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta
1989-1991: Direktur Utama PT Vista Yama
1989-Sekarang: Direktur Utama PT Surya Persindo
1989-Sekarang: Komisaris PT Pusaka Marmer Indah Raya
1989-1994: Direktur Utama PT Mimbar Umum
1989-1994: Komisaris Utama PT Galamedia Bandung Perkasa
1989-1999: Direktur Utama PT Karya Banjar Sejahtera
1989-Sekarang: Pemegang Saham PT Masa Kini Mandiri
1989-1991: Direktur Utama PT Citra Bumi Sumatera
1990-Sekarang: Komisaris PT Bakti Citra Daya
1990-Sekarang: Direksi PT Sekotong Indah Persada
1990-Sekarang: Komisaris Utama PT Vista Yama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Masa Kini
1991-Sekarang: Pemilik PT Grahasari Surayajaya
1991-Sekarang: Komisaris PT Citragraha Nugratama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Bumi Sumatera
1991-1994: Direktur Utama PT Karya Mapulus
1992-1993: Direktur Utama PT Atjeh Post
1992-1995: Komisaris Utama PT Detik Bangun Media Prestasi
1992-Sekarang: Pemimpin Umum Harian Umum Media Indonesia
1994-Sekarang: Direksi PT Citra Nusa Persada
1994-Sekarang: Pemilik Sheraton Media Hotel & Towers
1994-1998: Komisaris Utama PT TVM Indonesia
1995-Sekarang: Komisaris Utama PT Inti Marmer Indah Raya
1995-Sekarang: Komisaris PT Satria Chandra Plastikindo
1995-Sekarang: Pemilik Papandayan Hotel
1999-Sekarang: Pemilik Bali Intercontinental Hotel
1999-Sekarang: Direktur Utama PT Media Televisi Indonesia (Metro TV)
Penghargaan
Sebagai Warga Tatar Sunda dari Sesepuh Sunda dalam Festival Budaya Tatar Sunda di Alam Santosa, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Anggota kehormatan Perguruan Pencak Silat Merpati Putih. []GOOD INDONESIA-HDN
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
Baca berita viral nan seru di media grup kami: Bening.Media
The post SURYA PALOH; Berawal Ikan Asin appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post BANG DASCO; yang Saya Kenal appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>SAYA lupa awal mengenal Bang Dasco. Pada 2002, mungkin. Kami kerap nongkrong berdua, bahkan beliau pernah mengajak saya nonton film Bollywood (yang mungkin kegemarannya saat itu). Bang Dasco tetap ingat kebiasaan saya membawa air mineral botol besar hingga saat ini.
Pada 2004, kami dengan Pendeta Nathan Setiabudi (mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/ PGI), serta para aktivis dan tokoh agama membicarakan suksesi pemerintahan. Kami sepakat agar Gus Sholah (K.H. Salahuddin Wahid) dapat maju menjadi cawapres. Bersama Bang Dasco, kami pergi membujuk Gus Sholah agar mau menjadi cawapresnya Pak Wiranto.
Sebenarnya saya adalah bagian kecil dari aktivis cum politisi yang tak senang tampil di media massa dan sosial. Pun tak gemar membuat tulisan puja-puji dan atau memamerkan kedekatan dengan para tokoh nasional karena tak mau dianggap menjilat dan cari muka. Apalagi mengkapitalisasinya menjadi keuntungan pribadi, yang bisa jadi dianggap naif banyak orang.
Saya lebih senang bekerja dalam keheningan dan menjauh dari keramaian seremonial hingar-bingar pentas politik. Baru belakangan ini saja, saya mulai main media sosial, untuk menyebarkan gagasan dan berkomunikasi dengan jejaring aktivis dan politisi.
Mungkin ini jadi salah satu latar yang membuat ada persamaan gaya kerja dengan senior saya yang bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad tersebut, yang lebih senang di belakang layar dan sulit diwawancarai media massa (bahkan postingan akun media sosialnya tak di-maintain rutin seperti gaya kekinian politisi papan atas). Hal yang langka bila tiba-tiba Bang Dasco mem-posting foto dan kegiatannya, apalagi sampai muncul komentarnya di media massa, yang sangat menyemangati dan mengobati rasa rindu jejaringnya.
Kami terkadang bersama, tetapi pernah beberapa kali bertahun-tahun tak bertemu. Walau kerapkali rasa kangen itu muncul dan di beberapa momentum pasti kami bertemu lagi.
Saya pernah diundang Bang Dasco saat beliau membuka kantor hukumnya (kalau tak salah ingat di daerah Kramat Raya, Jakarta Pusat), puluhan tahun lalu. Juga beberapa kali diminta membereskan beberapa pekerjaan. Selebihnya saya berkelana mencari pengalaman, memperluas jaringan sambil menyelami kerasnya kehidupan di luar dunia politik.
***
Bang Dasco dahulu dan sekarang tak banyak berubah. Perbedaannya adalah status anggota DPR RI dan jabatan wakil ketua umum DPP Partai Gerindra yang kini melekat di pundaknya. Dalam hal keseharian, beliau tetap seorang senior yang peduli dan sayang dengan para juniornya, walau berbeda organisasi dan kepentingan politik. Tanpa pamrih.
Saat pernah menyepi jauh di Lampung, saya kerap mendapatkan kabar positif bahwa Bang Dasco sehat selalu dan senantiasa menjaga persahabatan dengan banyak aktivis dan politisi yang merupakan sahabat-sahabat lama saya. Hal ini menyenangkan karena seorang tokoh ketika semakin hebat biasanya lebih senang bergaul dengan para “pesohor politik” dan cenderung melupakan teman-teman lamanya.
Bang Dasco bukan tipe orang yang mengekang teman dan juniornya, terlebih yang pernah merasakan kebaikan hatinya.
Beliau sepertinya suka dengan orang yang mampu bergerak cepat dan mandiri. Juga senang pada orang yang tegas dalam prinsip dan luwes pergaulan. Jarang saya dengar beliau bermusuhan, berkata negatif atau benci pada seseorang. Sepertinya dari Sabang sampai Merauke selalu ada yang merasa menjadi bagian dari “Pasukan Komandan SDC”, inisial favorit baginya.
Bang Dasco yang saya kenal, orangnya tegas dan teliti. Cenderung perfectionist, dan tak suka bila ada yang menyerah di awal mendapatkan sebuah tugas. Baru pada 2017 akhirnya saya berada di gerbong yang sama yakni di Partai Gerindra, walau 2008-2009 saya pernah nongkrong di Brawijaya dan Bidakara, hingga ikut deklarasi akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.
Konsistensi seruan kebangsaan Pak PS08, juga keberadaan Bang Dasco dan Bang Habiburokhman di Partai Gerindra-lah yang membuat saya kepincut melanjutkan perjuangan kerakyatan dengan menjadi kader aktif sebuah partai politik.
Saya kembali ke dunia politik Jakarta dengan merajut ulang berbagai jaringan serta sowan silaturahim ke para sahabat lama dan para senior selama setahun lebih sejak 2017. Tiba-tiba, Agustus 2018, saya mendapat telepon dari Bang Dasco untuk memperkuat barisan Gerakan Nasional Prabowo Presiden (GNPP) serta mulai September 2018 diperintah menjadi Kepala Sekretariat Direktorat Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang dinakhodai Bang Dasco dan Bang Habiburokhman (caleg DPR RI terpilih 2019 dari Partai Gerindra dapil Jakarta Timur/ ACTA).
Awalnya saya agak khawatir karena tahu tingkat komitmen dan dedikasi standar kerja Bang Dasco, tetapi setahun ini saya justru mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu baru berkat meningkatnya frekuensi berkomunikasi dengan beliau. Alhamdulillah.
Bang Dasco adalah militan garis keras Pak PS08 (inisial favorit saya untuk Ketua Umum Partai Gerindra Pak Prabowo Subianto). Saya tak pernah bertanya, tetapi yang saya tahu Bang Dasco sudah kenal Pak PS08 sejak 1990-an, sehingga tak mengherankan bagi saya bila masukannya sangat dipercaya Pak PS08. Beliau kerapkali mendapatkan tugas khusus yang bisa jadi dianggap rumit bagi orang lain. Hal inilah kelebihan lain Bang Dasco, yakni mampu menyelesaikan masalah (problem solver) tanpa melukai hati orang lain yang mungkin sedang berseteru. Bahkan akhirnya “lawan” dapat menjadi sahabatnya.
Makanya saya heran, apabila belakangan ini banyak suara sumbang, nyinyir, dan cenderung berkampanye hitam (black propaganda) terhadap figur Bang Dasco. Bahkan berani melontarkan fitnah ke Bang Dasco dengan mengklaim nama beberapa tokoh nasional yang sangat dihormati beliau. Menyedihkan, ini pathetic, istilah baratnya.
Padahal, sejak awal Sekretariat BPN Advokasi Hukum berjalan, Bang Dasco selalu mengajarkan kepada kami untuk bergerak dalam koridor hukum, senantiasa hormat kepada para relawan dan pendukung Prabowo-Sandi, mengutamakan kampanye positif berbasis visi-misi pasangan calon, serta selalu menjaga suasana kebatinan partai koalisi 02 dan pihak kompetitor.
Dalam berbagai peristiwa penangkapan ulama, relawan 02, dan simpatisan Gerindra, Bang Dasco selalu memerintahkan agar membantu dan melakukan upaya advokasi hukum serius. Tak boleh ada yang neko-neko mengambil keuntungan apapun karena merupakan kewajiban kader Gerindra.
Yang menakjubkan adalah saat Bang Dasco pasang badan untuk Pak PS08 dengan menjadi penjamin ratusan ulama, relawan 02, dan simpatisan Gerindra yang ditangkap dan ditahan. Saat banyak yang bersuara nyaring di media sosial tak pernah muncul. Belakangan ratusan orang dalam insiden Bawaslu 21-22 Mei, menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dll.
Oleh Bang Dasco, rekan-rekan tetap diminta mengadvokasi walaupun BPN sudah dibubarkan. Bahkan dari awal terbentuk, kekuatan BPN Advokasi Hukum bergerak dengan biaya dari kocek pribadi Bang Dasco sampai sekarang, termasuk sewa posko di Jalan Cokroaminoto, Menteng, agar dekat dengan KPU dan Bawaslu.

***
Kemarin saya mendapat perkembangan opini di media massa dan media sosial pasca pertemuan MRT Pak PS08 dengan Pak Jokowi, pertemuan Teuku Umar antara Pak PS08 dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, kehadiran Pak PS08 ke Kongres V PDI Perjuangan, hingga pro-kontra atas pernyataan penumpang gelap di Pilpres 2019, juga adanya tuduhan miring bahwa Bang Dasco mengincar jabatan menteri.
Beliau berkata tegas dan dengan gaya guyonan bilang, “Biarin-lah. Fitnah jadi pahala buat gue. Usaha dan duit gue sudah cukup, belum lagi sibuk urus partai, nggak sempat lagi gue jadi menteri. Tawaran jadi menteri sudah ada, tetapi gue tolak. Lu, tahu nggak, jadi menteri diawasi anggota DPR, turun pangkat. Yang pasti kita berjuang saja bantu Pak Prabowo.”
Itulah Bang Dasco yang saya kenal. Bang Dasco yang selalu patuh pada perintah Pak PS08, berdiri membela kaum ulama, para relawan dan simpatisan, serta senantiasa bekerja tanpa butuh popularitas dan sanjungan. Sebuah pribadi unik yang menjadi salah satu mentor politik terdekat saya, tempat saya menyerap banyak ilmu dan pengalamannya.
Bagaimana arah perjuangan kebangsaan ke depan? Bagi kami, Gerindra tegak lurus satu komando. Penumpang gelap enyahlah. Mari stop politik kebencian, saling fitnah, dan berbagai upaya adu domba yang merugikan bangsa Indonesia. Ayo, kita bersama berjuang untuk kejayaan Merah Putih, NKRI, dan Pancasila. Demi Indonesia Raya tercinta. []GOOD INDONESIA
*Penulis adalah aktivis ’98 dan kader Partai Gerindra
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post BANG DASCO; yang Saya Kenal appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post HANAFIE ZAIN, Pengabdian Tiada Henti appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Pasca menamatkan pendidikan S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjajaran, Kota Bandung, ia langsung melamar ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 1985. Mengawali tugasnya, langsung terjun ke Kabupaten Sukabumi.
Perjalanan karier terbilang cepat. Lima tahun pasca ditugaskan di Sukabumi, Hanafie mendapat kepercayaan menempati posisi Camat Gegerbitung pada 1990 dan Camat Cicurug 1993.
Baru pada 1995, pria bernama lengkap H. Muhammad Noor Hanafie Zain tersebut mengawali karirnya di Pemerintah Kota Sukabumi sebagai Camat Baros.
Selama mengabdi di Kota Sukabumi, banyak jabatan strategis yang diamanahi negara kepada Hanafie, hingga terakhir menjadi Sekretaris Daerah –enam tahun sejak kepemimpinan Wali Kota Sukabumi (alm.) Mokhamad Muslikh Abdussyukur sampai Mohamad Muraz sekarang.
Kesuksesan Hanafie meniti jenjang karier merupakan perjalanan berliku sebagai aparatur pemerintah. Semua dijalani di bawah inspirasi orang tua, khususnya sang ayah yang juga pamong asli sebagai camat, wadana hingga asisten di pemerintah provinsi.
“Ada kesan mendalam terhadap figur orang tua yang mengabdi untuk masyarakat,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 18 Mei 1958, kepada GOOD INDONESIA di Balai Kota Sukabumi.
Bekerja produktif sebagai pamong dan jangan mengejar kekuasaan berlebihan merupakan pesan orang tua yang selalu diingat Hanafie sampai kini. Bagaimanapun kekuasaan itu akan datang melalui sebuah proses dan Allah SWT sudah menentukan takdir seorang sehingga tinggal menjalaninya.
“Ambisius hal yang kurang baik, cita-cita boleh tetapi paling penting tunjukkan kemauan untuk bekerja. Jangan lupa, pendidikan sangat penting karena semakin tinggi jenjangnya membuat kita semakin bijak seperti ilmu padi. Artinya, semakin tinggi jabatan jangan sombong karena semua hanya titipan Allah SWT,” tukasnya.

Dirinya mengaku sangat berterima kasih atas kepercayaan hingga posisi sekda yang diberikan (alm.) Mokhamad Muslikh Abdussyukur (Wali Kota Sukabumi periode 2003 sampai 2013) dan Mohammad Muraz (Wali Kota Sukabumi 2013-2018).
“Kepercayaan luar biasa yang diberikan saya menjadi pelecut untuk bekerja lebih profesional dan menjalin hubungan baik dengan seluruh pihak termasuk masyarakat,” katanya.
Keinginan kuat terus belajar dan mendengar masukan dari berbagai pihak, khususnya dari staf, menjadi hal penting bagi Hanafie untuk mengeluarkan sebuah kebijakan.
Dia mencontohkan saat menjabat Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi, meski tidak mengerti soal perhubungan tetapi banyak staf yang memiliki kualitas dan paham sehingga ia banyak mendengar masukan dari mereka.
“Saya tidak pernah berhenti untuk belajar dari teman dan staf untuk selalu banyak mendengar,” katanya.
Suara Rakyat
Pengalaman menjabat sebagai camat di wilayah yang berhadapan langsung dengan masyarakat, menjadi bekal Hanafie untuk lebih banyak mendengar suara rakyat karena mereka yang dilayani.
Terbiasa dengan lingkungan kampus dan aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan juga membentuk rasa sosial Hanafie untuk bisa bersoasialisasi dan menjalin komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat. Pasalnya, seseorang akan terbentuk karakternya jika semakin banyak pergaulan dan bersosialisasi.
Tidak bisa menjustifikasi seorang yang pendiam dan pasti karena kurang gaul. “Konsepnya kita saling menghargai dan kerja bareng,” katanya.
Begitupun saat menjalani jabatan Sekda, sebagai seorang koki ketika berhadapan dengan kebijakan wali kota harus dilaksanakan secara baik. Bentuk dukungannya dengan melakukan inovasi yang ditopang sisi anggaran, pelaksanaan, serta evaluasinya.
“Selama 32 tahun, saya berusaha senantiasa bekerja normatif, persuasif, dan profesional. Masalah dianggap kaku-tidaknya tergantung karateristik seseorang. Banyak faktor yang membuat orang itu berkarakter tertentu,” jelas Hanafie.

Maju di Pilkada
Jelang pensiun sebagai aparatur pemerintah yang tinggal hitungan bulan, tidak terlintas di benak Hanafie untuk maju mencalonkan di Pilkada Kota Sukabumi 2018. Dorongan kuat masyarakat, ulama, kalangan birokrat, serta dunia pendidikan untuk tetap mengabdikan diri yang membuat Hanafie turun gunung ke arena pilkada.
“Lima bulan terakhir saya tidak terlintas untuk mencalonkan, terlebih masyarakat Kota Sukabumi sudah cerdas karena apapun yang dilalukan pejabat pasti dilihat. Misalnya bagaimana kepala dinas, sekda, dan wali kota bekerja akan dilihat langsung,” katanya.
Hanafie menilai Sekda selalu menjabat sebagai Wali Kota Sukabumi bukan mitos dan itu lebih kepada kecerdikan serta kejelian masyarakat yang memahami benar soal ilmu tata kelola pemerintahan.
“Akhirnya dari dulu sampai sekarang, sekda selalu jadi wali kota dan artinya ada kecerdasan masyarakat dalam memilih. Kalau salah pilih, akan rugi selama lima tahun mendatang,” ujarnya.
Dukungan keluarga, khususnya istri dan anak, juga berpengaruh bagi Hanafie untuk memutuskan ikut kontestasi Pilkada 2018.
“Istri dan anak-anak mengerti alasan saya untuk maju mencalonkan. Sisa waktu yang masih ada, kenapa tidak tetap membaktikan diri untuk rakyat. Apalagi selama ini menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat dan baru tiga bulan terakhir dipinang berbagai partai. Saya ikuti normatif,” papar Hanafie.
Semua perlu proses, termasuk di politik, berjalan seperti air mengalir. Bagi saya pribadi politik harus santun. Tidak boleh mendiskreditkan orang atau melakukan kampanye hitam yang akhirnya tidak memberikan kedewasaan dalam berpolitik,” Hanafie mengingatkan.
Ijabah
Rabu, 10 Januari 2018, sekitar pukul 21.30 WIB, menjadi momen penting dalam perjalanan hidup Hanafie Zain. Malam itu, dirinya terjun ke panggung Pilkada Kota Sukabumi dengan mendaftar diri sebagai calon wakil wali kota mendamping calon wali kota Jona Arizona ke kantor Komisi Pemilihan Umum.
Pasangan dengan jargon Insyallah Jona-Hanafie Barokah (Ijabah) ini diusung Partai Golkar, PDIP dan PKB.
Keputusan Hanafie mencalonkan wakil wali kota bukan tanpa perdebatan dan pertanyaan berbagai pihak. Pasalnya sebelum pendaftaran, Hanafie menanggapi keras penempatan dirinya dalam duet Jona-Hanafie oleh Golkar dan PKB tanpa pembahasan sedikitpun.
Sejak awal, Hanafie beserta PDIP sebagai partai pengusung tetap bersikeras menduduki posisi F1. Komunikasi alotpun terjadi antara PDIP, Partai Golkar. dan PKB. Akhirnya posisi calon wali kota ditempati Jona Arizona dan wakil wali kota Hanafie Zain.
Usai mendaftar, di hadapan puluhan awak media, Hanafie mengungkapkan alasannya mau menjadi nomor dua karena sudah 32 tahun berada di puncak karir birokrat. Ia menjabat sekda selama enam tahun dan sudah melayani dua wali kota.
“Saya tidak mencari kekuasaan. Saya ingin ada orang muda yang nanti kita siapkan menjadi pemimpin masa depan. Pilihan saya jatuh kepada adik saya, Jona,” tandas Hanafie, mantap.
Bio Data
Nama lengkap: DR. H. Muhamad Noor Hanafie Zain, MSi
Jabatan: Sekretaris Daerah Kota Sukabumi
Tempat Tanggal Lahir: Banjarmasin, 18 Mei 1958
Alamat: Jl. Pasir Berkah No. 133, Kelurahan Nanggeleng, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi
Istri: Dra. Nanita Singawinata
Anak: M. Manggala Putra Pratama dan M. Hanggara Abirawa. []GOOD INDONESIA-HERRY FEBRIANTO
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post HANAFIE ZAIN, Pengabdian Tiada Henti appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post SUDRAJAT, Tentara USA appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Bertahun-tahun tak muncul di hadapan publik, mantan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI ini menjadi buah bibir setelah didapuk Partai Gerindra sebagai calon pengganti Ahmad Heryawan sebagai gubernur Jabar.
Siapa Sudrajat?
Sudrajat pensiun sebagai personel TNI aktif pada 2005. Jabatan terakhirnya sebagai Direktur Jenderal Strategi Pertahanan.
Pria kelahiran Balikpapan pada 4 Februari 1949 ini lulusan Akademi Militer 1971. Sebagai prajurit TNI, ia kemudian mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan khusus –kemiliteran maupun umum.
Peningkatan kapasitas dimaksud, antara lain, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), Lemhanas, beberapa pendidikan militer di Australia dan USA. Sudrajat juga menyelesaikan kuliah Master of Public Administration (MPA) di Harvard University, USA.
Perjalanan karier panjang di TNI menunjukkan kapasitas Sudrajat. Penugasan negara itu di dalam maupun di luar negeri. Di lingkungan TNI AD, setelah menjabat Kepala Pusat Penerangan (Puspen) TNI, ia dipercaya menjadi Penasihat Khusus Panglima TNI, dan anggota Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) yang berada di bawah Menkopolkam.
Penugasan di luar negeri, antara lain, sebagai atase Pertahanan di London dan Washington DC. Selain itu, berbagai peran dalam misi internasional seperti UN Emerging Force di Mesir, ketua/wakil ketua dalam sejumlah dialog/forum internasional, baik mewakili TNI maupun Kementerian Pertahanan RI.
Belakangan, Sudrajat bertugas sebagai Dura Besar Indonesia untuk China yang berakhir pada 2009. Sekembalinya dari China, ia aktif dalam berbagai organisasi yang mempromosikan hubungan Indonesia dan China. Hingga kini masih menjabat Ketua LIC (Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China).
Sunda Asli
Penasihat DPD Partai Gerindra Jabar Sodik Mudjahid mengungkapkan penetapan Sudrajat sebagai jagoan partai garuda pada Pilgub Jabar 2018 melalui proses alot.
Pembahasannya berdasar berbagai informasi, data, survei, kajian, dan analisis. Melalui diskusi dan musyawarah dengan seluruh elemen Gerindra dari tingkat kecamatan hingga pusat, akhirnya DPP mengambil keputusan. DPP sebelumnya juga mendengar petuah sejumlah tokoh dan elemen strategis masyarakat Jabar.
Mengabaikan faktor popularitas, Gerindra mempertimbangkan sosok Sudrajat yang dinilai memenuhi kriteria yang dituntut masyarakat Sunda. Hal dimaksud yakni nyunda, nyakola, nyantri, nyantika, dan nyinatria.
“Kang Ajat (Sudrajat) nyunda karena USA, urang Sunda asli. Ia keturunan Cianjur dan Sumedang. Beliau menghormati tatakrama, unggah-ungguh, dan bahasanya Sunda asli,” kata Sodik.

Sudrajat jelas nyantri karena setelah pensiun dari TNI bergelut di lingkungan pesantren di tanah leluhurnya di perbatasan Cianjur dan Sukabumi selatan. Dia berakhlak santri yang tawadlu, rendah hati, hormat kepada yang tua dan senior, serta sayang dan nyaah kepada junior.
Ia juga memenuhi syarat nyakola (intelek). Setelah tamat SR, SMP dan SLTA, lanjut ke Akademi Militer di Magelang. Di sini salah seorang lulusan terbaik. Dia pun berhasil meraih gelar master di salah satu universitas terbaik di dunia yakni Harvard University
Sudrajat juga nyantika alias terampil dan profesional. Pengalaman kerja di instansi militer dan sipil, di dalam dan luar negeri, sebagai buktinya.
Tak kalah pentingnya, menurut Sodik, Sudrajat merupakan sosok harapan orang Sunda sebab nyinatria atau bersikap ksatria. Gemblengan di TNI memupuk jiwa ksatria seperti jiwa sportif dan fair, teguh dalam membela kebenaran dan melawan ketidakadilan.
Ia membela rakyat kecil, setia kepada rakyat dan bangsa, bukan kepada asing dalam berbagai bentuk. “Sudrajat itu ulet dan pantang menyerah, disiplin, dan amanah,” tandasnya.
“Selain 5N kriteria paripurna masyarakat Sunda, keunggulan Kang Ajat adalah memiliki kepemimpinan kuat hasil didikan TNI yang dipadukan dengan sifat bijaksana orang Sunda,” Sodik menambahkan.
DATA PRIBADI
Nama: Sudrajat
Pangkat: Major General (Retired)
Tempat, tanggal Lahir: Balikpapan, 4 Februari 1949
Agama: Islam
Kebangsaan/Suku: Indonesia /Sunda
Status Perkawinan: Kawin (2 anak)
Istri: drg. Sally Salziah, Sp.OM
Anak: Angki Arrihan, Pasha Prakasa
PENDIDIKAN UMUM
Setelah menamatkan Sekolah Teknik Menengah, lulus seleksi memasuki Akademi Militer di
Magelang, ketika berpangkat letnan kolonel, mendapat beasiswa Pemerintah Indonesia untuk mengikuti program master bidang Administrasi Publik di Harvard University, USA.
1. Sekolah Dasar, 1961, Bandung
2. Sekolah Menengah Pertama, 1964, Bandung
3. Sekolah Teknik Menengah, 1967, Bandung
4. Master in Public Administration, 1993, Harvard University, USA
PENDIDIKAN MILITER
Selain berbagai pelatihan militer di Indonesia, juga mengikuti program international di luar negeri, seperti Australia dan USA.
1. Akademi Militer, Magelang, 1971
2. Officer Basic Course, 1973, Australia
3. Pelatihan Promosi Perwira Komunikasi, 1976
4. Pelatihan Komandan Kompi, 1977
5. Officer Advance Course, 1979, USA
6. SESKOAD (Army General Staff College), 1989
7. Lemhanas, 2001
PANGKAT KEMILITERAN
Lulus Akademi Militer, Magelang, 1971, sebagai letnan dua, dan pensiun dengan pangkat mayor jenderal (mayjen) pada 2005.
1. Letnan Dua, 1 Desember 1971
2. Letnan Satu, 1 April 1974
3. Kapten, 1 April 1977
4. Mayor, 1 April 1982
5. Letnan Kolonel, 1 Oktober 1986
6. Kolonel, 1 April 1995
7. Brigadir Jenderal, 1 April 1997
8. Mayor Jenderal, 1 September 1999
9. Pensiun, 1 Maret 2004
KARIR PENUGASAN
Selain berbagai penugasan di TNI, beberapa kali dikirim ke luar negeri. Dua kali ke USA, pertama sebagai Pembantu Atase Pertahanan, dan kedua sebagai Atase Pertahanan. Di Inggris sebagai Atase Pertahanan. Penugasan terakhir adalah Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia, berkedudukan di Beijing.
1. Pimpinan Platon, 1 Desember 1971
2. Komandan Kompi, 1 Januari 1973
3. Perwira Teknik, Batalion Indonesia, UNEF, Mesir 1974 -1975
4. Komandan Kompi Brigade Udara, 1 April 1976
5. Pbu. Atase Pertahanan, Washington, USA, 1 Agustus 1980
6. Kepala Biro Amerikan, Departemen Pertahanan, 1 Agustus 1983
7. Sekretaris Penglima TNI, 1 September 1983
8. Perwira Menengah Perencanaan Strategis, 1 Januari 1988
9. Staff Pimpinan Perencanaan Strategis, 1 September 1988
10. Atase Pertahanan, KBRI London, 1 Juni 1994
11. Atase Pertahanan, KBRI Washington, 1 Maret 1997
12. Kapuspen TNI, Departemen Pertahanan, 1 Januari 1999
13. Staf Ahli Panglima TNI, 1 Januari 2000
14. Dirjen Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan, 1 Februari 2001
15. Duta Besar untuk China & Mongolia (credential: 15 Maret 2006), 11 November 2005
16. Wakil Ketua, LIC, Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, Budaya Indonesia-China, 10 Juli 2012
PENUGASAN KARIR
Pada saat menjabat Dirjen Strategi Pertahanan, juga ditugaskan memimpin beberapa
konferensi internasional kerja sama Indonesia dengan beberapa
negara sahabat: Australia, Amerika, ASEAN, China.
1. Wakil Ketua Forum Strategis Tahunan Indonesia-Australia, Jakarta-Canberra, 2001-2004
2. Wakil Ketua Dialog Pertahanan Tahunan Indonesia-USA, Jakarta dan Washington DC, 2002-2004
3. Ketua Forum Strategi Pertahanan Regional ASEAN, Jakarta, 2004
4. Ketua Konferensi Kebijakan Strategis ASEAN Regional Forum, Beijing, China, 2004
PENGHARGAAN
1. Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun
2. Satya Lencana Kesetiaan XVI tahun
3. Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun
4. Santi Dharma Garuda VIII (untuk 1 tahun penugasan di Mesin sebagai Penjaga
Perdamaian PBB)
5. Medali PBB untuk Penjaga Perdamaian di Mesir
6. Satya Lencana Yudha Dharma Naraya
7. Legion Merit, USA (untuk peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan USA)
8. Bintang Yudha Dharma Pratama
9. Bintang Kartika Eka Paksi Pratama. []GOOD INDONESIA-RE
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post SUDRAJAT, Tentara USA appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post SETYA NOVANTO, Kisah Penjual Beras Hingga Politikus ‘Licin’ appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Walaupun penuh kontroversi, namun pria yang sering dipanggil Setnov ini ternyata mampu menjaga kestabilan politik di internal Golkar. Hingga namanya terseret dalam korupsi skandal proyek KTP elektronik yang disidik KPK. Bagaimanapun itu, Setnov terbukti selalu lolos dari incaran KPK. Sehingga ia sering digelar politikus ‘licin.’
Sayangnya sedikit orang tahu bahwa perjalanan Setnov merintis perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Semasa muda, Setnov mengaku dirinya bukanlah anak yang beruntung sehingga perlu kerja keras untuk sekolah dan merasakan bangku kuliah. Dalam salah satu kesempatan di STIE Pariaman, Sumatra Barat, 25 Maret 2017, Setnov sempat bercerita bagaimana perjalanannya berjuang sangat ulet hidup dan mendapatkan pendidikan yang layak.
“Waktu zaman saya muda sangat sulit sekali, saya pernah menjadi supir, saya menjadi pembantu rumah tangga. Itu tidak lain supaya saya bisa mengumpulkan uang. Kalau jam 4 pagi, saya bangun pagi saya harus jual beli beras di Surabaya, Pasar Wonokromo. Setelah itu hasilnya untuk kuliah. Kalau pagi jam enam saya ngantar anak-anak pemilik kos, agar saya gak bayar kos. Jadi setelah itu saya biasakan nyuci sambil ngepel jadi pembantu, pokoknya bagaimana saya bisa bayar kuliah dan sekolah dengan baik,” ungkap Setnov saat itu.
Selama di Surabaya, Setnov mulai dari berjualan beras dan madu modal Rp 82.500 dan memulai dengan kulakan tiga kuintal beras hingga bisa berjualan beras sampai dua truk yang langsung diambil dari pusatnya di Lamongan. Saat itu ia juga punya kios di Pasar Keputran, Surabaya namun usaha tersebut tak bertahan lama dan predikat juragan beras ditinggalkannya karena mitra usahanya mulai tidak jujur.
Masuk Dunia Politik
Novanto juga sempat mendirikan CV Mandar Teguh bersama putra Direktur Bank BRI Surabaya, Hartawan. Dan pada saat yang sama ia ditawari bekerja menjual mobil salesman Suzuki untuk Indonesia Bagian Timur. Ia mengiyakannya dan memilih membubarkan CV yang didirikannya. Di usia 22 tahun ia menjadi Kepala Penjualan Mobil untuk wilayah Indonesia Bagian Timur. Di masa-masa ini Setya Novanto dikenal sebagai orang yang ulet dan banyak sahabat.
Di dunia politik, perjalanan Setnov di Golkar mulai ketika ia semakin akrab dengan Hayono Isman. Perjalanan politiknya di mulai sejak 1990-an. Setelah akrab dengan Kosgoro dan lingkungan Partai Golkar, Setnov menjabat bendahara di partai beringin ini. Pada 1999 akhirnya Setnov menjadi anggota DPR dari Fraksi Golkar. Tercatat ia enam periode berturut-turut selalu terpilih menjadi anggota legislatif dari partai Golkar hingga saat ini. Di Golkar pun ia beberapa kali menjabat sebagai bendahara Golkar.
[Baca juga: Setnov Ditahan KPK, Dedi Mulyadi Usulkan Rekomendasi Pilkada Dievaluasi]
Setya Novanto terpilih dalam pencalonan Ketua DPR RI Periode 2014 – 2019. Saat terjadi dualisme kepemimpinan di Golkar antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, partai lantas menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk mengakhiri ini pada 2016. Setnov pun mencalonkan sebagai ketua. Ia mengalahkan Ade Komaruddin, dan dipercaya melanjutkan kepemimpinan Golkar periode 2016-2019.
Selama kepemimpinannya di partai Golkar dan DPR Setnov diterpa berbagai rumor dan persoalan korupsi. Pada 2015 namanya terseret pada kasus rekaman PT Freeport. Setya Novanto pun mengundurkan diri tepat saat Mahkamah Kehormatan Dewan DPR akan memutuskan pelanggaran kode etik. Setya Novanto digantikan oleh Ade Komarudin. Namun tidak lama, Setnov pun kembali menjabat sebagai Ketua DPR setelah persoalan etiknya di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) selesai.
Terseret Skandal Korupsi
Nama Setnov memang dikenal sering menjadi kontroversi karena terseret pada beberapa kasus skandal korupsi. Namun ia selalu lolos dari jeratan hukum pengadilan. Bahkan kepiawaiannya menghindar dari jerat hukum ini, membuat publik menggelarnya politisi ‘licin’ dari penegakkan hukum.
Beberapa kasus yang menyeret Setnov di antaranya, pada 2001 misalnya ia terseret pada kasus hak piutang Bank Bali ke Bank Dagang Nasional Indonesia. Pada 2003 ia juga terseret pada kasus beras impor Vietnam ilegal. Kemudian pada 2013 Setnov terseret dua kasus, pertama pada kasus korupsi yang menyeret mantan Ketua MK Akil Mochtar dan Perkara Suap Pembagunan arean PON XVIII di Riau pada 2012.
Kini sejak 2017, ketika KPK mengungkap kasus korupsi KTP elektronik, nama Setnov kembali terseret. KPK lantas menetapkan Setnov sebagai tersangka pada 17 Juli 2017, karena merugikan negara Rp 2,3 triliun. Namun kemudian status tersangka itu digugurkan oleh pengadilan di praperadilan. Selain status tersangka yang dibatalkan, selama pemanggilan dan pemeriksaan Setnov oleh KPK juga penuh drama yang membuatnya selalu lolos dari KPK.
Kini untuk kedua kalinya KPK menetapkan Setnov tersangka pada 10 November 2017 lalu. Dan drama menghindari KPKnya tetap berlanjut, KPK menjemput paksa dan berakhir buron pada Rabu 15 November 2017 lalu. Sehari setelah itu cerita pencarian Setnov berakhir dengan terjadinya kecelakaan oleh kendaraan yang ditumpanginya, dan dengan dirawatnya Setnov kini ia menjadi tahanan KPK setelah sekian lama menghindari pemeriksaan. []GOOD INDONESIA-AMRI AMRULLAH/KARTA RAHARJA UCU
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post SETYA NOVANTO, Kisah Penjual Beras Hingga Politikus ‘Licin’ appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post Ada Sinyal, Mantan Panglima TNI Moeldoko Bersiap Terjun ke Politik appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Dia memang belakangan ini kerap muncul di tengah publik, setelah sekian lama “menghilang”. Jenderal TNI Angkatan Darat inipun belakangan rutin update status via akun Twitter pribadinya.
“Saya belum menekuni dunia politik secara serius. Ada sisi lain yang saya lihat untuk berpolitik tetapi bukan politik praktis,” kata Moeldoko pada kuliah umum Forum Syndicate di Jakarta, Rabu, 4 Oktober 2017.
Pernyataan tersebut memberi sinyal ke publik bahwa Moeldoko memang pelan-pelan memasuki arena politik. Mungkin saja tinggal menunggu waktu saja ia resmi aktif melalui salah satu parpol. “Semua jalur terbuka lebar. Saya nggak pernah berharap,” tuturnya.
Ditanya apakah benar sudah ada parpol yang menggadang-gadangnya menjadi kandidat calon presiden atau wakil presiden, Moeldoko menghindar. “Saya nggak mau jawab,” tandasnya.
Meski demikian, Moeldoko menyatakan dirinya sebagai salah seorang anak bangsa tentu ingin tetap mengabdi kepada republik ini. Di masa pensiunnya, akunya, ia ingin mendedikasikan diri aktif membangun sektor pertanian yang merupakan latar belakang dari keluarganya. Hal inilah yang membawanya memimpin sebuah organisasi.
[Baca juga: Gerindra Optimistis Elektabilitas Prabowo Terus Naik, Salip Jokowi]
“Saya sama sekali tidak pernah berharap menjadi ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) tetapi diberikan kepercayaan untuk memimpin,” ungkapnya.
Moeldoko percaya ketahanan pangan sebagai benteng dan pertahanan bangsa ini dari berbagai serangan. Menurutnya, saat ini sektor pangan Indonesia masih sangat tergantung pada impor.
“Kita ini seperti sedang diinfus. Bila infusnya dicabut, kondisi kita akan memburuk. Kita harus mengubah itu karena pertanian adalah bagian budaya kita,” Moeldoko menambahkan.
Menurutnya, perubahan memang tidaklah mudah sebab banyak hal yang menjadi permasalahan petani. Contohnya, urai Moeldoko, lahan yang sempit, modal, manajemen, dan teknologi. “Kita harus ubah itu agar pendapatan petani naik dan menjadi sejahtera,” kata mantan Panglima TNI. []Madi Cakra
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post Ada Sinyal, Mantan Panglima TNI Moeldoko Bersiap Terjun ke Politik appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post HAMDAN ZOELVA, Gerbang Konstitusi Pemilu Serentak appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Jelang akhir periode jabatannya, Hamdan memimpin MK mengeluarkan putusan yang sangat penting dalam bidang kepemiluan: membuka gerbang konstitusi penggabungan pemilu eksekutif dan legislatif yang dimulai 2019.
Di era Reformasi 1998-1999, Hamdan bersama pegiat pergerakan Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB). Sebagai Wakil Sekretaris Jendral PBB, Sarjana Hukum penjurusan Hukum Internasional Universitas Hasanuddin ini menjadi calon anggota DPR di Pemilihan Umum 1999 dan terpilih mewakili daerah pemilihan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Dalam periode menjabat sebagai dewan, Hamdan menjadi Sekretaris Fraksi PBB di DPR lalu duduk di Badan Musyawarah DPR, sekaligus menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR bidang Hukum dan Politik.
Kuat terlibat di DPR, Hamdan merupakan bagian dari perumusan berbagai kebijakan strategis. Terutama pemilihan presiden dan wakil presiden, sekaligus selanjutnya pemakzulan Presiden “Gus Dur” Abdurrahman Wahid.
Selain itu, di rentang 1999-2002, Hamdan menjadi satu-satunya wakil Fraksi PBB di Panitia Ad Hoc (PAH) I MPR yang membidani perubahan Undang-Undang Dasar 1945.
Sebagai anggota Panitia Khusus Penyusun Rancangan Undang-Undang MK, Hamdan berkontribusi melahirkan MK lewat perannya. Ia langsung terlibat merumuskan MK secara organisasi maupun hukum beracara.
Posisinya sebagai anggota DPR menjadikan ia sebagai salah seorang wakil rakyat yang terlibat dalam uji kelayakan dan kepatutan calon hakim konstitusi periode pertama dari unsur DPR.
Karier
Karier Hamdan sebagai hakim Mahkamah Konstitusi dimulai 2010. Lelaki kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1962. ini menjadi hakim MK melalui satu dari tiga pilihan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
[Baca juga: Pasal Ambang Batas Pencalonan Presiden kembali Digugat ke MK]
Peraih gelar master dan doktor bidang hukum dari Universitas Padjadjaran ini diangkat menjadi ketua MK periode 2013-2016 menggantikan Akil melalui pemungutan suara dua putaran oleh delapan hakim MK.
Pada saat memimpin MK, Hamdan mengeluarkan putusan penting dalam cita perbaikan presidensialisme Indonesia. MK melalui Putusan No.14/PUU-XI/2013 menitah penyelenggaraan pemilu serentak pada 2019. Mulai pemilu kelima pasca-Reformasi, pemilu eksklusif digabung penyelenggaraannya dengan pemilu legislatif.
Konstitusionalitas pemilu serentak menurut Hamdan adalah Pasal 22E UUD 1945. Jika pasal itu dibaca sekaligus, keserentakan pemilu dan regulasi kepemiluan merupakan kepastian. Sehingga, harus dibuat undang-undang baru untuk pemilu serentak yang menyatukan undang-undang kepemiluan yang berserak.

Tersesat di Gerbang yang Benar
Berkah pemilu serentak buah putusan MK yang dipimpin Hamdan pun mengandung masalah. Berkah karena pemilu serentak yang menggabungkan pemilu presiden dengan pemilu DPR merupakan bentuk sesuai pemilu serentak nasional. Membawa masalah karena pilkada kuat dimaknai bukan bagian dari rezim pemilu.
“Saya sejak awal menempatkan pemilihan kepala daerah adalah pilkada bukan pemilukada. Pilkada bukanlah rezim pemilu,” kata Hamdan sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional Kodifikasi UU Pemilu.
Ada dua konsekuensi buruk dari pemahaman Hamdan terhadap pilkada yang bukan rezim pemilu. Pertama, jika pilkada bukan rezim pemilu, pilkada keluar dari desain pemilu serentak nasional dan lokal. Jelas ini kehilangan setengah nyawa cita perbaikan presidensialisme Indonesia.
Artinya, pilkada serentak tanpa pemilu DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang juga serentak menghilangkan kebutuhan evaluasi tengah periode jabatan presiden-wakil presiden terpilih hasil pemilu serentak nasional.
Dalam ketatanegaraan kita ketahui bahwa pemilu presiden langsung merupakan jawaban dari pemerintahan parlementer yang labil berganti pemerintahan. Tapi, kekurangan sistem presidensial adalah terkuncinya periode menjabat presiden-wakil presiden. Pemilu serentak lokal sebagai bagian dari desain pemilu serentak.
Jika pilkada diserentakkan dengan pemilu DPRD provinsi dan kabupaten/kota lalu diselenggarakan di tengah periode menjabat presiden-wakil presiden, maka rakyat sebagai pemilih punya kedaulatan yang evaluatif.
[Baca juga: KPU Harap Keputusan MK Terkait UU Pemilu Tak Bebani Penyelenggara]
Jika kepemimpinan nasional dinilai baik, maka dilanjutkan dan diperluas di pemerintahan lokal. Sebaliknya, jika kepemimpinan nasional dinilai buruk, maka dihukum dengan memilih kekuatan politik oposisi di pemilu lokal untuk mengisi pemimpin dan parlemen daerah.
Antiklimaks
Masalah kedua pemahaman Hamdan soal pilkada bukan rezim pemilu adalah menghilangkan kewenangan MK menangani sengketa pilkada. Pemahaman ini terkonfirmasi sebelum putusan pemilu serentak.
Putusan No.9/PUU-XI/2013 yang diketok Hamdan pada 19 Maret 2013, menghapus kewenangan MK sebagai lembaga yang menangani sengketa pilkada. MK membatalkan dua Pasal 236 Huruf c UU No 12/2008 tentang Pemerintahan Daerah dan Pasal 29 Ayat (1) Huruf e UU No. 48/2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menjadi dasar kewenangan MK mengadili sengketa pilkada.
Putusan ini menjadi antiklimaks Hamdan sebagai sosok yang ikut membangun penguatan poros yudikatif demokrasi melalui kelembagaan MK. Pertama, MK melalui kewenangan putusannya telah menghapus kewenangannya sendiri.
Kedua, putusan MK itu berarti menyerahkan kewenangan pengadil hasil pilkada kepada pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung (MA) yang sulit diakses keterbukaannya.
Hamdan Zoelva merangkum dinamika politik Indonesia yang tak pendek. Sosoknya mengingatkan, perbaikan tatanan negara tak bisa dilepas dari partai politik dan baiknya sumber daya manusia politik.
Semoga upaya perbaikan pemilu dan demokrasi Indonesia yang terus-menurus ini tak ikut mutlak menjadi antiklimaks. []Usep Hasan Sadikin
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post HAMDAN ZOELVA, Gerbang Konstitusi Pemilu Serentak appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post Suatu Pagi di Jonggol, Sisi Lain Bos Gerindra Jawa Barat appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Di musala, pantauan PemiluUpdate.com, tampak jemaah menunaikan salat sunat. Yang usai salat sunat, terlihat berzikir. Semuanya khusyuk.
Tak lama kemudian, anggota Polsek Jonggol masuk ke musala. Terdepan Kepala Polsek Jonggol Kompol Agus Supriyanto. Di belakang, anak buahnya 10 orang. Mereka sebagian di antara personel Polsek yang berjumlah 38 orang.
Bukan seluruhnya polisi. Di tengah mereka ada KH Jajang Gozali, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jonggol.
Apa gerangan yang terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Saung Santri yang terletak di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu? Terjadi tindak pidana kriminal?
Sama sekali bukan. Rombongan polisi tengah menggelar program polisi salat subuh berjemaah di masjid. Program yang dimulai Polsek Jonggol sejak Agustus 2017 lalu ini keliling dari masjid atau musala milik warga.
Masuk waktu salat subuh, salah seorang santri berdiri lalu mengumandangkan azan. Tajwid dan suara bagus sang muadzin menambah suasana khikmad dalam musala subuh hari itu.
“Assalatu khairum minan naum; lebih baik salat daripada tidur…,” seru muadzin. Seiring seruan ini, seorang pria dari dalam rumah di samping musala bergegas bergabung dengan jemaah salat subuh.
Ia, perintis Ponpes Saung Santri yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi, mengenakan gamis dan peci putih, serta sorban berwarna sama. Sama dengan lainnya, ia langsung mendirikan salat sunat rawatib sesaat mengambil saf.
Tiba waktu salat, salah seorang pembina pondok maju ke mihrab. Dia mengimami salat. Usai salat, sang imam memimpin doa. Jemaah mengamini khusyuk, penuh harap doa dikabulkan Sang Khalik.
Produk Gagal
Usai seluruh prosesi salat subuh, saatnya kegiatan silaturahim. Mulyadi yang berada di saf paling belakang maju lalu mengambil tempat terdepan, menghadap ke jemaah. Di sampingnya Kepala Polsek Jonggol.
Menyinggung latar belakang berdirinya Saung Santri yang kini berusia 12 tahun, Mulyadi bercerita niat dasarnya.
“Saya ingin berada dalam suasana yang baik setiap saat. Berada di tengah santri sedikit-banyak membawa saya tetap on the track. Saya tidak mau menjadi produk gagal,” tutur politikus berlatar belakang pebisnis ini.
Menjelaskan maksud produk gagal yang disebutkan, Mulyadi mengatakan sesuatu yang berfungsi tidak sesuai peruntukannya.
Contoh, rincinya, sebuah ponsel yang dimanfaatkan untuk berkomunikasi jarak jauh maka alat ini bukan termasuk produk gagal. Si ponsel dipakai sesuai tujuan pembuatannya. Berbeda bila dimanfaatkan buat memukul orang lain, ia menjadi produk gagal.
“Saya jika tidak dalam jalur senantiasa beribadah maka Mulyadi adalah produk gagal. Tujuan penciptaan Mulyadi jelas hanya untuk beribadah kepada Allah SWT,” tutur sosok pemimpin Gerindra Jawa Barat, yang dijebloskan oleh Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto ke dunia politik.
[Baca juga: Mulyadi, Politikus Gerindra Jabar Berjargon ‘Aneh’]
Begitu cara mantan anggota DPR RI itu menjaga imannya. Menciptakan lingkungan yang kondusif, yang otomatis dirinya turut pula menyumbangkan peran memajukan pendidikan Islam. Santrinya terus bertambah hingga hampir mencapai 100 orang kini.
Oleh karena dasar itu pula, Saung Santri tidak memungut biaya apapun kepada anak didik. Berasal dari berbagai provinsi, seluruh santri yang ditampung berasal dari keluarga tidak mampu.
Di Saung Santri yang berada dalam komplek Bumi Sultan tersebut, anak didik dari berbagai kelompok usia juga diberi keilmuan usaha, selain ilmu agama.
“Umat harus berdaya dari sisi ekonomi. Misalnya, perlu punya toko, tetapi yang ketika waktu salat ditutup sehingga mau tidak mau karyawan dan pelanggan pun ikut ke masjid. Kira-kira begitu konsep kami mengajak umat ke masjid,” papar Mulyadi.
Giliran Kepala Polsek Jonggol menyampaikan sambutan, Kompol Agus menyatakan keberadaan Saung Santri dengan berbagai kegiatannya sejalan dengan salah satu target kepolisian. Personel Polri yang sangat sedikit dibanding jumlah warga yang harus diayomi mengharuskan kepolisian menggelar Program Perpolisian Masyarakat (Polmas).
Agus mengatakan jika suasana relijius seperti di Saung Santri ada di mana-mana, maka angka kriminalitas pasti minim. Keberadaan dai dan para santri yang mengajarkan nilai-nilai positif, katanya, pada dasarnya bagian bentuk polmas.
“Kita yang ada di sini telah menjadi polisi bagi diri sendiri dan polisi bagi warga lain. Dai dan santri di sini pasti mengajak siapapun untuk mencegah kriminalitas, kemungkaran,” ujar Kepala Polsek.

Keramahan Nasi Kuning
Usai gelaran silaturahim dimaksud, Mulyadi –yang berpeluang menjadi salah seorang calon gubernur atau wakil gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018– mengajak rombongan tamunya sarapan bersama. Termasuk Ketua MUI Kecamatan Jonggol.
[Baca juga: DPP Gerindra: Kang Mulyadi Pemegang Mandat Calon Gubernur Jabar]
Diskusi tentang berbagai soal kemasyarakatan di Jonggol berlangsung antara politikus, tokoh agama, dan aparat hukum sambil menikmati menu nasi kuning. Suasana akrab terlihat. Tidak ada sekat. Obrolan sesekali diselingi canda. Mulyadi sendiri adalah putra Jonggol karena lahir dan besar di sini.
Sekitar sejam setelah melepas tamu, Mulyadi menuju Jakarta. Tugas sebagai bos Gerindra Jawa Barat dan selaku pebisnis yang memimpin sederet perusahaan nasional dan multinasional menanti di Ibu Kota. []GOOD INDONESIA-EWA
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post Suatu Pagi di Jonggol, Sisi Lain Bos Gerindra Jawa Barat appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post GANJAR PRANOWO; Piawai Manfaatkan Media Sosial Serap Aspirasi appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Tweet dari @ganjarpranowo, “cb kamu ngobrol sini den” memantul kepada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Juliyatmono, @juliyatmonokra dan Rohadi Widodo, @RohadiWidodo.
Sebelumnya seorang netizen memberi masukan soal berkurangnya jalur hijau dan median jalan raya. “Bar ngene median jalan dr Palur-Karanganyar Kota juga mau diilangi. Kamu juga setuju boss?!,” mention @Karanganyarmu kepada @ganjarpranowo.
Begitulah sepenggal komunikasi dengan masyarakat yang dilakukan pemimpin daerah. Meskipun terbatas hanya 140 karakter kata, media sosial (medsos) adalah alternatif pilihan menjembatani kebuntuan informasi dan komunikasi. Siapa netizen tak mengenal @ganjarpranowo di twitter. Pemilik akun ini Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, lebih 600 ratusan ribu tweeps telah menjadi pengikut.
Sejak dilantik sebagai Gubernur Jateng pada 23 Agustus 2013, Ganjar gencar memanfaatkan medsos, terutama twitter, untuk lebih dekat dengan rakyat dan berkoordinasi dengan jajaran di lingkup Pemerintah Provinsi Jateng. Menurut politikus PDIP itu, medsos dapat mengefektifkan waktu sehingga waktu tidak banyak terbuang dalam kunjungan ke daerah-daerah.
“Saya akan aktif di sosial media, twitter, e-informasi. Jadi, bila kita bisa memanfaatkan teleconference dalam koordinasi, kenapa tidak? Itu akan menghemat biaya,” ujar Ganjar, tribunnews.com melansir.
Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada periode 2014-2019 ini serius mengajak jajarannya di lingkungan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih “melek” teknologi informasi.
Seperti dijelaskan praktisi medsos A. Sudibyo, berbagai medsos yang ada saat ini bisa dimanfaatkan untuk saling bertukar pendapat ataupun menyampaikan keluhan guna menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di Jateng.
“Pemanfaatan media sosial ini dalam berkomunikasi dengan masyarakat dinilai lebih cepat daripada penyampaian keluhan secara konvensional, apalagi dengan wilayah Jateng yang begitu luas dan hal ini juga banyak dilakukan pimpinan daerah di berbagai kota besar di Indonesia, dan nyatanya cukup berhasil,” kata praktisi medsos A. Sudibyo kepada bisnis.com.
Pemanfaatan medsos, jelas Sudibyo, memberi banyak keuntungan untuk mengungkap sejumlah permasalahan yang ada dan orang-orang yang ingin menyampaikan keluhannya merasa tidak sungkan atau lebih blak-blakan lewat media sosial.
“Justru kalau bertemu langsung kadang malah minder. Kalau lewat media sosial, apa yang disampaikan lebih apa adanya, baik itu akun asli maupun akun anonim, setidaknya Pak Ganjar bisa mendapat suatu informasi. Pak Ganjar juga membuka pengaduan masyarakat melalui e-mail dan website dengan programnya ‘Lapor Gub’,” ujarnya.
Bukan hanya dalam penyampaian, dilihat dari respons jajaran pemerintah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota juga dinilai lebih cepat melalui media sosial ini, dan Ganjar sudah merangkul pemilik akun-akun di daerah untuk bersama membangun Jawa Tengah.
Dalam Pemilu Gubernur (Pilgub) Jateng 2013, Ganjar berpasangan dengan Heru Sudjatmoko yang diusung oleh PDIP. Ganjar-Heru dikenal dengan jargon “mboten korupsi mboten ngapusi” (tidak korupsi tidak menipu) keluar sebagai pemenang dengan total perolehan suara mencapai 48,82 persen.
Suami Siti Atikoh Suryani ini berkoordinasi dengan dinas dan instansi terkait di wilayah Jateng tidak hanya mengandalkan medsos. Ganjar juga tak segan-segan blusukan melakukan pengawasan dan inspeksi mendadak (sidak). Ia pernah sidak dan menangkap basah pungutan liar di Jembatan Timbang Subah, Kabupaten Batang, pada 27 April 2014.
Ganjar Pranowo sosok pemimpin daerah yang berasal dari keluarga sederhana. Tempaan kesulitan ekonomi semasa sekolah hingga bangku kuliah sudah biasa ia lakoni.
Kondisi itu justru membuatnya ingin selalu memahami suara masyarakat kecil. Saat sang ayah sudah pensiun, Ganjar pernah berjualan bensin eceran untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Kami sekeluarga sudah khatam dengan kesulitan ekonomi seperti ini. Untuk membiayai kuliah saya pernah mengajar soal pecinta alam dengan bayaran hanya enam ribu rupiah. Saya pergi kuliah naik sepeda onthel dan pernah menunggak uang kuliah hingga empat semester,” kata Ganjar kepada Kompas TV. []Pram
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post GANJAR PRANOWO; Piawai Manfaatkan Media Sosial Serap Aspirasi appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>The post MAS PRAM; Tak Bercita-cita Politikus appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>Pramono Anung, putra Kediri, mengasah kepiawaiannya berpolitik dari jenjang bawah (1997). Jadi bukan karbitan.
Berprinsip bekerja serius pada posisi apapun, Pramono menancapkan kukunya pada 2000, ketika dipercaya menjabat wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP (2000-2005). Lima tahun berikut, dia naik kelas menjadi Sekjen PDIP (2005-2010). Ini membuktikan Pramono dinilai bekerja baik.
Mengemban posisi sebagai sekretaris jenderal (sekjen), Mas Pram –begitu sapaannya– bertanggung jawab atas bergerak atau loyonya gerak roda mesin partai dari pusat hingga tingkat desa di seluruh Indonesia. Dan, Pramono berhasil membawa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memenangi Pemilu 2009.
Partai mempercayakan kepada politikus murah senyum ini menjadi wakil rakyat di DPR pada 1999-2004. Menjadi narasumber utama media massa, elektronik maupun cetak, membuktikan Pram memang politisi mumpuni. Sejak 2009, ia dipercaya mendampingi Marzuki Alie (Partai Demokrat) sebagai wakil ketua DPR (2009-2004).
Seperti banyak bocah, Pram junior sebenarnya bercita-cita menjadi dokter. Dia kagum pada pakaian putih bersih yang dikenakan para dokter dan kemampuannya menyembuhkan penyakit pasiennya.
Namun, setamat SMA, Pram justru memilih kuliah di ITB jurusan Teknik Pertambangan. Di sini bakat kepemimpinannya bertunas. Pram menjadi aktivis organisasi fakultas, hingga dipercaya rekan-rekannya menempati kursi ketua Himpunan Mahasiswa Pertambangan ITB (1985-1986) hingga menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB (1986-1987).
Tempaan itulah yang membawanya menjadi Direktur Operasi PT Tanito Harum dan PT Vietmindo Energitama, perusahaan yang bergerak di sektor tambang batubara.
Belakangan Pram mendirikan perusahaan sendiri, PT Yudhistira Group, yang memiliki lima perusahaan yang masih bergerak di bidang pertambangan, perminyakan serta pengadaan barang dan jasa. Jabatannya sebagai Presiden Direktur dan Komisaris Utama.
Eksis memimpin perusahaan dan partai politik (parpol), serta terakhir DPR, tidak mengubah penampilannya. Pram hingga hari ini tetap tampil sederhana.
Kesederhanaannya juga tampil pada caranya bertutur sapa dan komentar-komentarnya di media. Sejuk.
Kesederhanaan juga terlihat pada hobinya. Pram yang berulang tahun saban 11 Juni gemar bersepeda, bukan motor besar atau golf. Setiap libur, dia berusaha membawa sepedanya bermain di daerah pegunungan.
Sejak 12 Agustus 2015, Pramono Anung dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, menggantikan Andi Widjojanto.
BIO DATA
Nama lengkap: Pramono Anung Wibowo
Tempat lahir: Kediri, Jawa Timur
Tanggal lahir: 11 Juni 1963
Agama: Islam
Istri: Endang Nugrahani
Partai: PDIP
Almamater:
– Institur Teknologi Bandung
– Universitas Gadjah Mada
– Universitas Padjadjaran
Jabatan:
– Wakil Ketua DPR RI bidang Industri dan Pembangunan (2 Oktober 2009 – 1 Oktober 2014
– Sekretaris Kabinet (12 Agustus 2015 – sekarang). []GOOD INDONESIA-RMK
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]
The post MAS PRAM; Tak Bercita-cita Politikus appeared first on GOOD INDONESIA.
]]>