Lukisan Gua di Maros Tertua di Dunia, Bukan yang di Eropa

Situs arkeologi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Foto: youtube.com - GOOD INDONESIA)

Jakarta – Tim peneliti Griffith University, Australia, menyimpulkan lukisan gua batu kapur di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia, sebagai hasil seni figuratif tertua di dunia.

Memakai teknologi penanggalan, lukisan yang menggambarkan adegan perburuan prasejarah ini berusia paling tidak 40.000 tahun, periode Paleolitik Muda.

Lukisan gua itu menggambarkan binatang buas yang dikejar pemburu (setengah badan) menggunakan tombak dan tali. Karya figuratif selebar 4,5 meter ini menunjukkan budaya seni tinggi waktu itu. Bukan cuma di Sulawesi, hal yang sama dengan lukisan gua di Kalimantan.

Hasil riset itu dilansir situs web Aljazeera baru-baru ini, mengutip jurnal ilmiah Nature. “Adegan berburu ini setahu kami merupakan rekaman bergambar tertua dari cerita dan karya seni figuratif paling awal di dunia,” kata salah seorang anggota tim peneliti Griffith.

Selama ini, selama bertahun-tahun, seni lukis gua tertua berada di Eropa. Namun, penelitian terhadap lukisan sejenis di beberapa daerah di Indonesia melemahkan teori yang selama ini ditulis kalangan peneliti kepurbaan.

Diberitakan, setidaknya terdapat 242 gua atau tempat perlindungan dengan citra kuno di Sulawesi saja. Penemuan menyimpulkan budaya artistik yang sangat maju pada 44.000 tahun lalu. Lukisan ini diselingi cerita rakyat, mitos, agama, dan kepercayaan spiritual.

“Dapat dianggap tidak hanya sebagai seni figuratif paling awal di dunia, tetapi juga sebagai bukti tertua komunikasi narasi dalam seni Paleolitik,” kata peneliti Australia lagi.

Tim Griffith University juga menyatakan temuannya menggarisbawahi bahwa kemampuan manusia purba di Indonesia menciptakan cerita fiksi merupakan tahap terakhir yang paling penting dalam sejarah evolusi bahasa manusia. Pola-pola kognisinya telah modern.

Salah satu seni figuratif kuno di gua Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Foto: Dok. GOOD INDONESIA)


Kerja Sama Penelitian

Catatan GOOD INDONESIA, tim peneliti Griffith University bersama Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Makassar, dan Universitas Wollongong, Australia, telah melakukan kerja sama riset awal beberapa tahun lalu. Tepatnya sepanjang 2011-2013.

Para peneliti menyingkap umur lukisan dinding karst di Maros. Berdasarkan hasil penanggalan dengan metode uranium disimpulkan bahwa 12 gambar cap tangan manusia dan dua gambar figur hewan pada tujuh situs arkeologi berusia tak jauh berbeda dengan seni gua di situs El Castillo, Spanyol. Usianya sekitar 40.000 tahun lampau.

Temuan tersebut menggambarkan manusia modern, Homo Sapiens, yang menghuni sejumlah kawasan di Sulawesi Selatan telah mengenal seni cadas (cave rock art). Tradisi ini terjadi pada waktu yang hampir bersamaan sebagaimana yang ada di Eropa.

Hasil penelitian ini dipublikasi pertama di jurnal Nature pada 9 Oktober 2014.

Lukisan-lukisan itu secara simbolik mencerminkan pengalaman atau pengetahuan manusia masa lalu terhadap lingkungannya. Ada binatang, tanaman, dan sebagainya. Bisa juga sebagai identitas si penghuni gua yang diekspresikan melalui cap tangan (hand stencils).

Bisa pula sebagai ungkapan harapan, yang berkaitan dengan perburuan. Gambar binatang terkena tombak atau mata panah sebagai harapan perburuan binatang berhasil. []GOOD INDONESIA-HDN


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here