ANANDA SUKARLAN; Pavarotti ke Indonesia

Ananda Sukarlan [Foto: antaranews.com - GOOD INDONESIA]

Pandemi covid-19 tak menghentikan semangat berkarya seniman musik klasik Ananda Sukarlan.

Melalui Ananda Sukarlan Center yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dia menggelar Kompetisi Vokal Online Tembang Puitik Ananda Sukarlan.

Perlombaan khusus vokalis klasik belia tersebut merupakan kelanjutan kegiatan serupa tahun-tahun sebelumnya. Hasilnya lahir vokalis belia berbakat, seperti Isyana Sarasvati, Mariska Setiawan, Nikodemus Lukas.

Edisi 2021 dikhususkan putra/putri yang lahir setelah 1 Januari 1988. Calon peserta kompetisi harus mengunggah penampilannya di Youtube. Panitia menilai unggahan yang disetor, untuk menentukan calon peserta perlombaan yang memenuhi standar.

“Pendaftaran sudah dibuka. Batas waktu video calon peserta diunggah di Youtube selambat-lambatnya pada 28 Februari 2021. Kami terus mencari talenta-talenta baru, meski pandemi covid-19. Ya, kami laksanakan secara virtual,” kata Ananda kepada GOOD INDONESIA, Selasa, 16 Januari 2021.

Penghargaan Tertinggi Italia

Komponis Ananda tak henti mengharumkan nama Indonesia. Terakhir, sebelum 2020 berakhir, seniman kelahiran Jakarta pada 1968 ini diganjar Penghargaan Ksatria Tertinggi Italia.

Penghargaan berjuluk asli “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” atau Knight of the Order of the Star of Italia sejatinya diserahkan langsung oleh Presiden Italia Sergio Mattarella. Tepatnya pada Hari Republik yang diperingati saban 2 Juni setiap tahun. Hari Republik yang ditandai penyelenggaraan festival ini semacam Hari Kemerdekaan.

Penghargaan tertinggi Pemerintah Republik Italia diberikan kepada 80 hingga 100 orang. Mereka yang memperoleh penghargaan dinilai berjasa di berbagai bidang, seperti sains, filantropi, seni, olahraga, dan lain-lain. Bukan cuma sosok warga Italia, namun tokoh dari berbagai belahan dunia penerimanya.

“Mereka yang diberi penghargaan pasti dinilai berjasa bagi Italia khususnya dan kemanusiaan,” tukas Ananda lagi.

Pandemi covid-19 menyebabkan panggung penyematan anugerah ditiadakan. Tak hanya itu, Roma bahkan tidak menghubungi para penerima penghargaan pada Juni 2020.

Ananda memperoleh informasi ihwal apresiasi luar biasa Italia itu dari Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia di Jakarta pada November 2020. Ia selanjutnya diundang untuk menerima penghargaan Presiden Mattarella, melalui duta besarnya Jakarta, Benedetto Latteri.

[Baca juga: ‘Ask Me Anything’ Kedubes Australia, Ubah Perspektif Disabilitas]

Di acara penyematan tanda jasa, Latteri menegaskan penghargaan bergengsi Pemerintah Italia dimaksud bukan karena menilai satu-dua prestasi Ananda terakhir. Melainkan berdasar lifetime achievement, pencapaian karya sepanjang karir, sang pianis.

Hal pasti, pemusik klasik ini pasti dipandang berjasa besar mengembangkan musik yang lahir di Italia ini ke seluruh penjuru dunia, khususnya Indonesia. Ananda sendiri dosen tamu di The Accademia Nazionale di Santa Cecilia, salah satu akademi musik tertua di dunia.

“Tentu pula dalam hal peningkatan hubungan baik antara Italia dengan Indonesia berkat musik menjadi pertimbangan,” tutur Ananda.

Pavarotti Kunjungi Indonesia

Salah satu benih baik yang ditebar itu ketika Sukarlan “menyandingkan” penyanyi opera dunia Luciano Pavarotti dengan Ismail Marzuki, komponis legendaris Indonesia. Imajinasi ini dituangkan dalam komposisi berjudul “I Wish Pavarotti Had Met Marzuki”. Karya berdurasi ini sebagai penghormatannya kepada Pavorotti yang mangkat pada 2007.

Komponis alumnus University of Hartford dan Royal Conservatory of The Hague ini menampilkan lagu berdurasi delapan menit di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta (26/11/2017). Usai konser bertajuk “Pavarotti Forever”, partitur “I Wish Pavarotti Had Met Marzuki” dikirimkan ke istri Pavarotti, Nicoletta Mantovani, agar dimainkan di berbagai konser.

Lencana penghargaan dari Presiden Italia kepada Ananda Sukarlan [Foto: Akun IG @anandasukarlan – GOOD INDONESIA]

Karya spesial yang otomatis makin mendekatkan Italia dengan Indonesia dimaksud berisi harmoni komposisi “Nessun Dorma” karya Giacomo Puccini –yang dipopulerkan Pavarotti– dengan keindahan “Melati di Tapal Batas” ciptaan Ismail Marzuki.

“Pavarotti belum pernah berkesempatan mengunjungi Indonesia. Jadi lewat komposisi ‘I Wish Pavarotti Had Met Marzuki’, saya mencoba membayangkan dan yakin pasti kala itu Pavarotti mengunjungi Indonesia dan bertemu Ismail Marzuki,” kata Ananda.

Taklukkan Eropa

Ananda adalah pianis dan komponis pendiri Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI). Berdedikasi buat perkembangan musik klasik di tanah air, ia pun berkiprah buat anak-anak difabel di Spanyol, melalui kerja sama dengan Fundacion Musica Abierta.

Pemilik rambut ikal satu ini memang bertempat tinggal di Santander, Cantrabria, Spanyol. Bersama sang istri, Raquel Gomez.

[Baca juga: Kabar Istimewa Dubes Brasil Saat Bangun Tidur]

Bagaimana perjalanan kreatif sang komponis Indonesia yang mendunia ini? Bakatnya terasal sejak kecil, kalah orang tuanya mengikutkan Ananda kursus piano di bawah bimbingan Soetarno Soetikno dan Rudy Laban.

Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 1986, ia menyambut tawaran beasiswa Piano Petrof dari University of Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Rampung di sini, ia memperdalam kemampuannya bermain piano di Koninklijk Conservatorium, Den Hag, Belanda. Di bawah arahan Naum Grubert, Ananda lulus summa cum laude pada 1993.

Namanya mulai terdengar di belantika musik klasik dunia ketika ia tampil di panggung-panggung fertival berbagai negara, khususnya acara resmi kenegaraan di Eropa.

Komponis dengan ratusan karya ini mulai dikenal dunia, ketika ia sering tampil dalam festival-festival luar negeri. Ia juga sering mengisi sejumlah acara resmi kenegaraan di Eropa. Antara lain, konser di Madrid, Spanyol, atas undangan Ratu Sofia pada 2000.

Berderet penghargaan diterima sebagai bukti konkret kejeniusan sang pianis. Sebut saja raihan juara pertama “Nadia Boulanger” –Concours International d’Orleans di Orleans, Prancis (1993).

Ananda juga satu-satunya seniman musik Indonesia yang menghiasi buku “The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century”. Buku ini mencantumkan pretasi 2.000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik. “Ia memang menghadirkan warna baru permainan piano klasik,” tulis The Sydney Morning Herald.

Nama putra pasangan Sukarlan-Poppy Kumudastuti ini benar-benar sejajar dengan ketenaran komposer-komposer Eropa. Tarian ujung jari Ananda di atas tuts boleh dikatakan mampu menaklukkan Eropa.

DATA PROFIL

Nama lengkap: Ananda Sukarlan
Tempat lahir: Jakarta
Tanggal lahir: 10 Juni 1968
Alamat: Hills of Cantabria, Santander, Spanyol
Istri: Raquel Gomez

Almamater:
SMA Kolese Kanisius, Jakarta
University of Hartford, Amerika Serikat
Royal Conservatory of The Hague, Den Haag, Belanda
Karya terkenal: Rapsodia Nusantara No. 1–21

Juara Kompetisi:
Concours International d’Orleans, Prancis (1993)
Blanquefort Piano Competition, Bordeaux, Prancis (1994)
City of Ferrol Piano Competition, Galicia, Spanyol (1995)

Penghargaan Khusus:
Solois bersama Portuguese Symphony Orchestra (2000)
Disco de Oro (Goden Disc) Majalah Compact Disc, Spanyol
Best Classical Recording of the Year, Spanyol
Dharma Cipta Karsa, Pemerintah Republik Indonesia (2014)
Anugerah Kebudayaan, Pemerintah Republik Indonesia (2015)
Presiden Dewan Juri Queen Sofia Prize, Spanyol (2020)
Cavaliere Ordine della Stella d’Italia, Italia (2020). []GOOD INDONESIA-LMC

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: [email protected]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here