Tahu, Berapa Jumlah Suku di Indonesia?

Penari Bali (Foto: hasbihtc.com - GOOD INDONESIA)

KEBESARAN suatu bangsa dapat ditilik berdasar jumlah suku atau etnis yang dimiliki. Negara kita, Indonesia, salah satu bangsa di muka bumi yang dihuni suku yang sungguh beragam.

Karenanya, negara kepulauan ini memiliki budaya dan juga adat istiadat yang sangat beragam. Meskipun demikian, keberagaman luar biasa tetap dalam satu kesatuan Bhinneka Tunggal Ika.

#GOODpeople, Indonesia memang negeri yang kaya “gemah ripah loh jinawi”. Kekayaan tidak sebatas hasil alam, tetapi juga ragam suku, bahasa, agama, dan kepercayaan. Kekayaan suku bangsa, Indonesia memiliki ratusan nama suku, bahkan ribuan jika dirinci hingga subsukunya.

Kemajuan teknologi dan transportasi mendorong peningkatan mobilitas penduduk. Imbas mobilitas penduduk di antaranya mempercepat perubahan komposisi suku di suatu wilayah. Perubahan komposisi suku ini kerap menjadi potensial konflik sosial, ekonomi, maupun politik.

Terkait hal itu, mengkaji data etnis menjadi urgen. Terlebih sejak tahun 1998, Indonesia mulai melaksanakan proses demokrasi dan desentralisasi.

Ilustrasi: Ragam suku di Indonesia (Foto: Dok. GURU INDONESIA)

Data suku di Indonesia pertama kali dihasilkan melalui Sensus Penduduk (SP) 1930 oleh Pemerintah Belanda. Namun di era Orde Baru, pengumpulan data ini terhenti disebabkan adanya “political taboo” yang memandang bahwa membahas suku adalah upaya yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Baru tujuh puluh tahun kemudian, di era Reformasi, data suku mulai dikumpulkan kembali oleh BPS (Badan Pusat Statistik) melalui SP2000 dan dilanjutkan SP2010.

Mengumpulkan data suku tidaklah mudah. Bauman (2004) mengatakan sulit mendefinisikan suku. Pada umumnya, seseorang mengidentifikasi dirinya pada suku tertentu berdasar keturunan, kebiasaan hidup, bahasa, hubungan kekerabatan, atau bahkan unsur politik.

Atas dasar itu, dalam sensus ataupun survei, pertanyaan dibuat terbuka dengan menerapkan self identification method, yaitu suku yang dicatat berdasar pengakuan responden. Selanjutnya, untuk memudahkan analisis data suku dilakukan koding pada setiap jawaban responden.

Dalam SP2010 tersedia 1.331 kategori suku. Angka kategori ini merupakan kode nama suku, nama lain/alias suatu suku, nama subsuku, bahkan nama sub dari subsuku. Imbasnya, untuk menganalisis suku kerap diperlukan pengelompokan/klasifikasi ulang.

Misal, pada saat menganalisis Suku Batak, perlu diidentifikasi terlebih dahulu kode apa saja yang merujuk pada sub-sub suku, subsuku, dan nama lain dari Suku Batak. Dalam SP2010, kode yang terkait dengan Suku Batak adalah Batak Alas Kluet (0015), Batak Angkola/Angkola (0016), Batak Dairi/Dairi/Pakpak/Pakpak Dairi (0017), Batak Pak-Pak (0020), Batak Karo (0018), Batak Mandailing (0019), Batak Pesisir (0021), Batak Samosir (0022), Batak Simalungun/Simelungun Timur (0023), dan Batak Toba (0024).

Selanjutnya perlu diidentifikasi apakah perlu dilakukan pengelompokan atau tidak. Detailnya, kode suku yang disediakan SP memberikan kebebasan bagi para peneliti untuk melakukan pengelompokan sesuai dengan substansi penelitiannya. Hal inilah yang menjadi nilai lebih dan kekayaan dari data suku SP2010.

Kerja sama BPS dengan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) pada tahun 2013 menghasilkan klasifikasi baru yang dapat digunakan untuk menganalisis data suku SP2010.

Telah dilakukan identifikasi mana saja kode yang merupakan nama lain, subsuku, dan sub-sub suku. Dihasilkan 633 kelompok suku besar dari kode suku yang tersedia dalam SP2010. Pengelompokan suku dilakukan berdasar literatur, semisal buku ensiklopedi suku maupun dari pengetahuan para jejaring yang tersebar di seluruh Nusantara.

Perempuan Dayak (Foto: kaskus.co.id – GOOD INDONESIA)

Kerja sama BPS-ISEAS tidak hanya menghasilkan pengelompokan suku, namun dihasilkan pula analisis suku yang tersaji dalam buku Demography of Indonesia’s Ethnicity.

Berdasar data SP2010, ratusan suku yang ada di Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tidak sepadan. Suku Jawa adalah suku terbesar dengan proporsi 40,05 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Menempati posisi kedua adalah Suku Sunda sebesar 15,50 persen. Selanjutnya suku-suku lainnya memiliki proporsi di bawah lima persen penduduk Indonesia.

Dalam studi lanjutan terhadap keanekaragaman data suku SP2010, yang mana keanekaragaman diukur dengan Ethnic Fractionalize Index (EFI) dan Ethnic Polarized Index (EPOI) diperoleh EFI sebesar 0,81 dan EPOI sebesar 0,50.

Tergambar jelas Indonesia sangat heterogen atau majemuk, namun tidak terpolar sehingga potensi dampak konflik cenderung rendah. Meski demikian benih persatuan perlu senantiasa dipupuk. Bukan begitu, #GOODpeople? []GOOD INDONESIA-RE


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here