Kementan Genjot Upaya Hadirnya Kedelai Nasional Lebih Cepat

Petani panen kedelai [Foto: beritasatu.com - GOOD INDONESIA]

Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor kedelai. Dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) akan fokus melipatgandakan produksi guna menjaga ketersediaan kedelai dalam negeri.

Jajaran Kementan, dengan melibatkan integrator dan unit-unit kerja di pemerintah daerah, telah menyusun langkah mempersiapkan hadirnya kedelai nasional lebih cepat.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengakui guna mencapai sasaran tersebut dibutuhkan upaya luar biasa. Maklum, kedelai masih diposisikan sebagai selingan di tengah bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, dan bawang merah.

Hal tersebut, menurut Syahrul, menyebabkan ketergantungan impor Indonesia akan komoditas ini masih besar. Akibatnya, ketika terjadi kenaikan harga di pasar internasional, otomatis berdampak di dalam negeri.

Syahrul menjelaskan pemenuhan secara mandiri diperlukan mengingat kebutuhan kedelai sebagai bahan baku produksi tempe dan tahu setiap tahunnya semakin bertambah. Pemerintah terus berupaya menekan impor kedelai yang hingga saat ini masih tinggi.

“Kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya. Program aksi nyatanya kami susun dan yang terpenting hingga implementasinya di lapangan,” kata Mentan Syahrul di Jakarta, Selasa, 5 Januari 2021.

Menurut Syahrul, masalah ketergantungan impor dan dampaknya terhadap harga dalam negeri merupakan masalah global. Fenomena ini berasal dari negara asal produsen kedelai, yakni Amerika Serikat.

Melonjaknya harga kedelai, menurut Kementerian Perdagangan, dikarenakan kenaikan permintaan konsumsi dari Cina sebagai negara importir kedelai terbesar dunia.

Indonesia yang menjadi negara importir kedelai setelah Cina pun akhirnya turut merasakan dampak kurangnya pasokan komoditas tersebut. Kenaikan harga kedelai ini menjadi beban bagi para perajin tahu dan tempe yang terpaksa harus meningkatkan harga jual.

“Tidak hanya di Indonesia ada kontraksi seperti ini, di Argentina misalnya juga terjadi polemik terkait produksi kedelai,” kata Syahrul.

Harga kedelai saat ini melonjak hingga Rp9.300 per kilogram, dari harga tiga bulan lalu yang masih di kisaran Rp6.000-7.000 per kilogram, berdasarkan data Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia. []GOOD INDONESIA-ALY

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: [email protected]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here