Hasrat Mulyono ‘Nyalon’ Wali Kota Sukabumi Tertunda MoU

Ketua DPC PPP Kota Sukabumi Ima Slamet (kedua dari kiri), Ketua DPD Partai NasDem Mulyono (tengah) dan Ketua DPD PAN Kota Sukabumi Faisal Anwar Bagindo (kedua dari kanan) foto bersama dalam silaturahmi untuk berkoalisi di Pilkada Kota Sukabumi 2018, Kamis malam, 24 Oktober 2017. (Herry Febrianto/PemiluUpdate.com)

Kota Sukabumi – Ketua DPD Partai NasDem Kota Sukabumi Mulyono sementara harus menahan hasratnya untuk mencalonkan di Pilkada 2018. Alih-alih akan menandatangani kesepakatan (MoU) dengan Koalisi Masagi yang dimotori PAN dan PPP, justru tertunda karena ada tujuh poin yang belum disepakati ketiga partai tersebut.

Pantuan GOOD INDONESIA, Selasa malam, 24 Oktober 2017, elit tiga parpol yakni Ketua DPD Partai Nasdem Mulyono, Ketua DPD PAN Faisal Anwar Bagindo dan Ketua DPD PPP Ima Slamet beserta jajaran pengurus berkumpul di salah satu hotel di Kota Sukabumi.

Informasi yang beredar pertemuan tersebut untuk menandatangani kesepakatan membangun kerangka koalisi PPP, PAN dan NasDem di pemilihan wali kota-wakil wali kota Sukabumi. Kecenderungannya sepakat mengusung Mulyono sebagai calon wali kota.

Setelah menunggu 1,5 jam dari waktu yang ditentukan pukul 20.00 WIB, pertemuan pun dimulai. Namun bukannya langsung pada agenda pokok penandatanganan MoU, ketiga parpol sepakat pertemuan tersebut untuk menjalin silaturahmi dan menyolidkan pengurus serta kader terlebih dahulu.

“Hari ini pembahasannya adalah koalisi partai antara PAN, PPP dan Nasdem untuk memenuhi persyaratan formal di Pilkada. Namun secara administrasi tidak hari ini, karena harus dibicarakan lebih mendalam,” ujar Ketua DPD Partai Nasdem Kota Sukabumi Mulyono.

Menurutnya, ketiga parpol memiliki warna yang berbeda meski keinginannya sama untuk berkoalisi. Tinggal bagaimana caranya perbedaan warna ke depannya bisa dipadukan.

“Secara teknis penandatanganan deklarasi koalisi bisa kapan dan di mana saja, karena sifatnya seremonial. Paling terpenting, terbangunnya komitmen dan kita sudah ke arah situ,” jelas Mulyono.

Soal siapapun yang akan menjadi calon wali kota dan wakil wali kota, nantinya dibicarakan lebih lanjut dengan ketiga parpol.

“Sah-sah saja kecenderungan mendukung saya, tapi yang terpenting sekali lagi membangun kerangka koalisi tiga partai ini ke depannya. Ketika sudah sepakat, harus berupaya untuk memenangkan siapapun calon yang diusung nantinya,” tandas Mulyono.


Kurang Sempurna

Di tempat yang sama, Ketua DPD PAN Kota Sukabumi Faisal Anwar Bagindo mengatakan draft awal MoU berisi 13 poin yang disodorkan dianggap kurang sempurna. Sehingga ada penambahan tujuh poin kesepakatan yang membuat penandatanganan kesepakatan koalisi menjadi tertunda.

“Tadi sudah dibuatkan drafnya, tetapi kemudian ada beberapa klausul yang belum disepakati. Nasdem punyai ini, PPP ingin ini dan PAN juga sama. Namun sekarang sudah sepakat, tinggal dituangkan secara hitam putih,” katanya.

Faisal menegaskan, sebelum akhir Oktober sudah selesai penandatanganan MoU koalisi. Soal calon yang akan diusung sudah pasti, kecenderungannya terlihat yaitu Mulyono. Tinggal nanti mencari siapa pendampingnya yang juga diberikan peluang untuk posisi F1 dan F2. Syaratnya untuk posisi F1, surveinya harus bagus secara elektabilitas dan popularitas.

“Awalnya Masagi hanya PAN dan PPP, sekarang masuk Nasdem. Tentu harus ada beberapa poin kesepakatan yang direvisi, lantaran buru-buru dan semua sudah pada kumpul kita sepakat pertemuan kali ini tidak usah tanda tangan MoU,” tegasnya.


Tidak Ingin Salah Langkah

Sementara itu Ketua DPD PPP Kota Sukabumi, Ima Slamet mengungkapkan tidak ingin salah langkah dalam menentukan teman koalisi di Pilkada Kota Sukabumi 2018.

Ima menceritakan, pertemuan PPP, PAN dan Nasdem kali ini bukan tidak ada catatan dan sejarah serta tujuan. Karena sudah kedua kalinya ketiga parpol bertemu pasca deklarasi koalisi Masagi beberapa waktu lalu.

“Meski berbeda warna, kami memiliki tujuan dan semangat yang sama untuk melahirkan pemimpin yang bagus,” katanya.

Niatan berkoalisi menurut Ima, intinya harus melepaskan kepentingan pribadi, golongan dan melangkah bersama-sama.

“Tanda tangan gampang, koar-koar mudah. Tetapi mampu tidak untuk berikrar solid. Biarkan orang lain lieur (pusing), tapi kita jangan ikut lieur. Jangan juga kita ngalilieur sorangan (bikin pusing sendiri). Intinya, Masagi akan selalu ikut dan solid,” ungkap Ima. []Herry Febrianto


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here