Perwira CIA Tewas dalam Operasi Lawan Militan Al-Shabaab di Somalia

Markas Besar CIA di Virginia, Amerika Serikat [Foto: timesofisrael.com - GOOD INDONESIA]

Seorang perwira Badan Intelijen Pusat (Central Intelligence Agency, CIA) Amerika Serikat (AS) tewas di Somalia.

Seorang mantan pejabat senior AS yang mengetahui kejadian itu mengatakan anggota CIA naas itu meninggal akhir pekan lalu. Ia disebutkan terluka dalam operasi resmi CIA/militer AS, tanpa dirinci bentuk kejadiannya.

Tak diungkap identitas perwira dimaksud. Cuma disebutkan, lansir cnn.com bahwa korban seorang mantan korps elit Navy Sea, Air, and Land (SEAL) AS.

Kematian itu terjadi ketika pemerintahan Donald John Trump berencana menarik lebih 600 tentaranya dari Somalia dalam waktu dekat.

Pasukan Operasi Khusus AS telah bergabung dengan Tentara Nasional Somalia guna membantu melawan kelompok militan Al-Shabaab. Selain memberi nasihat militer, tugas utama pasukan operasi yang dipimpin Navy SEAL melatih dan membangun pasukan infanteri elit ringan Somalia.

CIA menolak berkomentar ketika mengorek informasi. The New York Times kali pertama melaporkan kematian perwira CIA tersebut.

Tradisi selama ini, kematian perwira ditandai dengan penyematan tanda bintang bersangkutan di Tembok Peringatan CIA yang terletak di atrium Markas Besar (Mabes) CIA.

Tradisi ini sebagai penghormatan kepada agen mata-mata pria dan wanita AS yang kehilangan nyawa dalam mengemban tugas. CIA pada September lalu melansir 135 bintang di tempok peringatan.

[Baca juga: Koopssus TNI; Pasukan Super Elit Bergerak Atas Perintah Presiden]

Penasihat militer AS di Somalia secara resmi menempatkan pasukan Somalia dalam operasi pertempuran. Namun beberapa kali insiden terjadi, pasukan AS berada di tengah pertempuran dengan pasukan militan.

Pada September 2020, seorang petugas medis AS terluka ketika Al-Shabaab menyerang pasukan AS dan Somalia.

Pada bulan sebelumnya, militer AS melakukan serangan udara yang menargetkan pejuang Al-Shabaab di sekitar Dar As-Salam, setelah pasukan lokal yang didukung AS diserang dari sebuah gedung.

Sebuah laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang dirilis tahun ini menggambarkan konflik di Somalia berada di “jalan buntu”. Pasukan militan Al-Shabaab masih saja melakukan perlawanan sengit.

Al-Shabaab diperkirakan memimpin hingga 10.000 pejuang. Data ini berasal dari Komando Afrika dan Badan Intelijen Pertahanan.

Militer AS berada di Somalia setidaknya sejak 2013. Sejak 2017, AS menggunakan serangan drone terhadap target lawan pemerintah Somalia. []GOOD INDONESIA-VET

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here