Sejarah Kalender Masehi dan Tradisi Pesta Tahun Baru

Kembang api di pesta tahun baru (Foto: worldatlas.com - GOOD INDONESIA)

Berdasar penanggalan Masehi, tak genap dua kali 24 jam lagi, tahun 2019 berlalu. Selanjutnya masuk 2020. Tahukah #GOODpeople sejarah penanggalan atau kalender Masehi?

Kalender masehi –disebut pula Anno Domini (AD), bahasa Latin– dipakai sebagian besar warga dunia, termasuk di Indonesia. Padanan bahasa Inggris-nya; Common Era (CE).

Tahun 2019 berarti sepanjang 2019 tahun penanggalan Masehi telah dipakai. Masa sebelumnya disebut “sebelum Masehi” (SM) atau “before Christ” (BC).

Acuan kalender Masehi hari ini pada penanggalan Julian dan Gregorian. Kelahiran Yesus Kristus atau Mesias menjadi patokannya.

Pada 527 Masehi, Kaisar Justinian –pemimpin Kekaisaran Romawi– memerintahkan Rhabib Katolik bernama Dionisius Exoguus membuat perhitungan tahun berdasarkan kelahiran Yesus Kristus. Atas perintah itu, Dionisius membuat kalender yang dipakai hingga kini.

Penanggalan Masehi dihitung memakai Ilmu Astrologi, yakni berdasarkan pergerakan benda-benda langit, terutama bulan, bumi, dan matahari. Ilmu Astrologi sendiri mulai dipelajari oleh masyarakat Mesir Kuno pada sekitar 1000 Sebelum Masehi.

Masyarakat Mesir Kuno menggunakan Astrologi awalnya untuk meramal. Bangsa Babilonia Kuno kemudian mengambil alih perkembangan Ilmu Astrologi dari Mesir. Mereka menciptakan sistem Astrologi yang kini dikenal sebagai rasi bintang. Pada sekitar 600-200 Sebelum Masehi, masyarakat Babilonia mulai menggunakan Astrologi untuk penanggalan.

Ilmu Astrologi yang dikembangkan bangsa Mesir Kuno dan Babilonia Kuno, kemudian dipelajari para pendeta dan cendekiawan Romawi. Nama-nama bulan di kalender Masehi sangat erat kaitannya dengan dewa bangsa Romawi Kuno. Misalnya, dewa Martius, Maius, dan dewi Juno digunakan sebagai nama bulan Maret, Mei, dan Juni.

Tahukah #GOODpeople bahwa untuk menyelaraskan kalender Romawi dengan peredaran matahari, Julius Caesar harus menambahkan 90 hari ke tahun 46 Sebelum Masehi. Hal ini dilakukan saat dia memperkenalkan kalender Julian barunya.

Sepanjang zaman dahulu, peradaban di seluruh dunia mengembangkan kalender masing-masing. Di Mesir, misalnya, tahun dimulai dengan banjir tahunan Sungai Nil, yang bertepatan dengan terbitnya bintang Sirius. Hari pertama tahun baru Cina terjadi pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin.

Kalender Romawi awal terdiri atas 10 bulan dan 304 hari. Penciptanya Romulus, pendiri Roma, pada abad delapan SM. Belakangan raja Numa Pompilius menambahkan bulan Januarius dan Februarius.

Selama berabad-abad, kalender ini tidak selaras dengan peredaran matahari. Pada 46 Sebelum Masehi, Julius Caesar memutuskan menyelesaikan masalah dimaksud. Dia berkonsultasi dengan astronom dan ahli matematika terkemuka pada masanya. Lahirlah kalender Julian, yang sangat mirip dengan penanggalan Gregorian modern yang digunakan sekarang.

Caesar melembagakan 1 Januari sebagai hari pertama tahun sebagian penghormatan nama yang sama dengan bulan itu, yakni Janus, dewa permulaan Romawi.

Di Eropa abad pertengahan, para pemimpin Kristen menggantikan 1 Januari sebagai tahun pertama tahun dengan hari yang memiliki makna keagamaan yang lebih besar, yakni 25 Desember (ulang tahun kelahiran Yesus Kristus) dan 25 Maret (Pesta Pengumuman). Belakangan Paus Gregorius XIII menetapkan kembali 1 Januari sebagai hari tahun baru, pada 1582.

Pesta tahun baru di Islandia (Foto: cntraveller.com – GOOD INDONESIA)


Awal Tradisi Pesta Tahun Baru

Perayaan awal tahun baru, menurut History.com yang dikutip GOOD INDONESIA, setidaknya telah berlangsung empat milenium. Satu milenium sama dengan 1.000 tahun.

Perayaan berlangsung pada malam 31 Desember hingga dini hari 1 Januari tahun baru. Tradisi perayaan berupa penggelaran pesta yang diisi dengan sajian makanan dan pertunjukan kembang api.

Perayaan tahun baru perdana digelar guna menghormati kedatangan tahun baru sekitar 4.000 tahun ke Babel kuno. Bagi orang Babilonia, bulan baru pertama setelah titik balik musim semi –hari akhir Maret dengan jumlah cahaya matahari dan kegelapan yang sama.

Hari itu festival keagamaan yang disebut Akitu dilaksanakan secara besar-besaran. Akitu berasal dari kata “Sumeria”, jenis tumbuhan. Tumbuhan ini bagian ritual yang dirangkai berbeda pada masing-masing 11 hari.

Selain pada tahun baru, Atiku dipakai dalam perayaan kemenangan dewa langit Babel Marduk atas dewi laut jahat Tiamat dan melayani tujuan politik yang penting. Selama masa inilah raja baru dimahkotai sebagai simbol pemberian mandat dari “langit” sebagai penguasa.


Menu Khusus Babi

Di Spanyol dan beberapa negara berbahasa Spanyol lainnya, pesta disertai persembahan anggur sebagai simbol pengharapan.

Di banyak bagian dunia, hidangan tradisional tahun baru berupa polong-polongan, yang dianggap menyerupai koin, sebagai simbol harapan kesuksesan finansial masa depan.

Menu khusus babi menghiasi meja makan warga Kuba, Austria, Hongaria, Portugal, dan sekitarnya yang dianggap membawa kemajuan dan kemakmuran.

Kebiasaan lain yang umum di seluruh dunia berupa pesta kembang api, yang disertai lagu-lagu menyambut tahun baru. Salah satu lagu itu, “Auld Lang Syne”, yang popular di banyak negara berbahasa Inggris.

Sementara praktik membuat resolusi tahun baru diperkirakan pertama kali dilakukan warga Babilonia Kuno, yang berharap mendapatkan bantuan para dewa. Kebanyakan resolusi seputar sumpah melunasi utang dan mengembalikan peralatan pertanian yang dipinjam.

Di Amerika Serikat, tradisi tahun baru yang paling ikonik adalah menjatuhkan bola raksasa di Times Square, New York. []GOOD INDONESIA-RE


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here