Buka Puasa Bersama Jurnalis, Boni Hargens Sampaikan Renungan Politik Lebaran

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens (kanan) (Hira Tanjong/PemiluUpdate.com)

Jakarta – Terhitung sejak 2016, dinamika politik di tanah air ditandai berbagai guncangan yang melelahkan.

Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat dalam mengevaluasi dan mendelegitimasi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dijadikan komoditas untuk meraih dukungan politik.

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menyebutkan kesimpulannya itu dalam acara buka puasa bersama dengan kalangan jurnalis di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 13 Juni 2018. Dia menyebutkan pandangannya tersebut sebagai renungan politik menjelang Lebaran 1439 H.

Boni menegaskan masyarakat terpecah atas arus politik yang kusut. “Dikotomi yang tajam atas dasar SARA tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan yang dibangun para pendiri republik dengan darah dan keringat,” papar Boni.

Disebutkan, Pancasila merupakan fondasi yang merekatkan keberagaman. Dasar negara itu falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan negara-bangsa Indonesia, yang diusik serangan ideologi dan kelompok radikal yang ingin menerapkan NKRI syariah.

“Namun, sampai hari ini, dan sampai kapanpun, bangsa ini masih dan akan tetap kuat. Masyarakat kita adalah kekuatan yang tak terkalahkan oleh permainan kotor para pecundang politik. Masyarakat kita adalah modal terbesar yang tak bisa digadai oleh dan untuk kepentingan kekuasaan yang temporer,” ulas Boni tanpa menyebutkan identitas pasti kelompok yang disindirnya.

Pada kesempatan yang sama, Boni menanggapi pernyataan politikus senior Amien Rais. Khususnya mengenai ungkapan “Tuhan bakal malu bila doa jutaan orang yang meminta presiden diganti pada 2019 tak terkabulkan”.

Pembelahan masyarakat politik dengan memakai agama terus dilakukan. Tetapi, ulas Boni, dirinya percaya bangsa yang dibangun dengan semangat dan jiwa Islam yang moderat, toleran, dan cinta damai, tidak akan jatuh ke tangan sosok atau kelompok yang maniak kekuasaan.

“Pemerintahan itu tergambar dalam diri Jokowi Widodo dan Jusuf Kalla. Lebaran tahun ini, 1439 Hijriyah, adalah momentum religius yang mahal nilainya. Lebaran pada tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik. Saya tetap yakin Islam sebagai bagian inheren keindonesiaan tetap menjadi agama yang menyatukan,” Boni berpendapat.

Boni lalu mengajak agar pesan moral Ramadan tidak hanya saling memaafkan tetapi bagaimana seluruh kekuatan nasional juga baku memaafkan antar kelompok politik. Termasuk di antaranya, katanya, yang mempermainkan SARA sebagai alat memburu kekuasaan. Mereka pun bagian keluarga besar NKRI.

“Selamat menyongsong kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Berkah untuk kita semua dan selamat untuk negeri tercinta,” tukas Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens. []Hira Tanjong/RE


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

  1. bimillah. Kita perlu belajar Islam secara kaffah…mendalam, tidak justru mengkonfrontasikan Islam dengan aroma ‘haus kekuasaan’. Tulisan di atas menurut hemat kami merupakan pertanda pemahaman yang masih terbatas terhadap keagungan Islam. Wallahualam bissawab.

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here