Politik Licik

Prosesi pelantikan Zulkieflimansyah dan Sitti Rohma Djalilah dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/9/2018) (Istimewa/wartatangerang.com)

Oleh: M. Rizal Fadillah

TERLEPAS bias aturan mengenai status seorang presiden mencalonkan diri kembali, dan berkompetisi tanpa melepas statusnya, maka kesimpulan paling mudah: terbuka ruang berbuat licik.

Sebagai kepala pemerintahan, ia sangat mungkin menggerakkan investor menjadi donatur, menggerakkan aparatur menyokong kepentingannya. Termasuk gubernur dan perangkat kepala daerah lainnya.

Ia bisa menjadikan kementerian menjadi tangan-tangan yang mencengkeram bawahan dan stakeholder, memanipulasi kewajiban negara menjadi bantuan pribadi. Dia bahkan mampu menggunakan aparat penegak hukum. Hukum akan ditegakkan untuk “lawan” dan bengkok untuk diri sendiri dan kroninya.

Yang paling berbahaya adalah menggunakan lembaga intelijen untuk menyabotase, mempropaganda, merekayasa fakta, menyusupkan agen, menyamar, melakukan spionase, merekrut agen dari personal lawan, atau membuat isu penguat diri dan isu pelemah lawan. Juga melakukan kegiatan lain yang menjadi fungsi badan intelijen.

Lembaga resmi pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tak akan mampu menjangkau gerakan “clandestine” model ini.

Jika seorang presiden ingin memenangi kompetisi dengan memakai baju baja tahan peluru sementara kompetitornya disuruh buka baju, maka inilah laga yang tidak fair dan licik. Bagai seorang gladiator menghadapi jagoan piaraan raja yang didampingi singa dan anjing lapar, yang mengintimidasi dan meremukkan nyali.

Karenanya perlu evaluasi segera. Presiden yang bertarung kembali mesti berhenti dari jabatannya, sebagaimana para kepala daerah yang mesti berhenti. Jika tidak, terbuka berbagai peluang kelicikan di tengah kehidupan politik kebangsaan yang belum dewasa seperti sekarang.

Sejak awal persiapan sebagai sarana politik licik sudah terasa. Adanya presidential threshold 20% dengan standar pemilu terdahulu. Hal ini ironi dalam hukum ketatanegaraan di negara demokrasi. Hukum dibuat untuk berpihak pada pertahana.

***

Kini, kasus Ratna Sarumpaet menjadi misteri. Sepertinya berspektrum luas. Banyak tulisan yang menohok kekhawatiran peran intelijen. Bahkan ada judul menarik “operasi plastik atau operasi intelijen”.

Kini Ratna ditangkap, tentu harapan bisa terungkap. Masalahnya apakah penting berhenti dipenghukuman pelaku jika target operasi bukan dirinya, ketika ia hanya menjadi wayang permainan. Diciptakan untuk dimatikan. Konteksnya pemenangan kompetisi pemilu.

M. Rizal Fadillah (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

Politik licik adalah politik tak mendidik, merusak generasi muda ke depan. Ini yang disebut machiavellistik. Ajaran machiavelli memiliki tiga pokok soal.

Pertama, pisahkan moral dari politik. Yang penting bagi “raja” adalah melakukan apa saja untuk memperkuat kekuasaannya.

Kedua, sentralisasi kekuasaan karena penyebaran hanya memberi pemukul bagi lawan.

Ketiga, penguasa mesti menjadi kancil dan singa. Kancil yang pandai bersiasat, menjerat, dan membohongi. Singa yang bisa menakut-nakuti, menerkam, dan mencabik-cabik.

Ketika kekuasaan ada pada dirinya, maka kecenderungan menjadi machiavellistik menjadi terbuka.

Andai saja Presiden yang berkompetisi tak melepas jabatan itu seorang negarawan maka ia mungkin bisa berlaku adil. Kemenangan adalah wujud kepercayaan.

Masalahnya jika presiden itu berpikiran pragmatis dan tak peduli dengan kepercayaan. Hal penting menang walaupun dengan cara memalukan atau memilukan.

Merebut kekuasaan adalah segala galanya. Termasuk dengan cara menyandera atau berdusta. Inilah masalah serius kita.

Karenanya, bahaya kelicikan menganga semakin melebar ke depan. Sejarah sedang bersiap mencatat hasil yang buruk akibat perilaku politik yang buruk. []GOOD INDONESIA


*Penulis
adalah Ketua Masyarakat Unggul (Maung) Institute Bandung


[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here