Muncul RUU BPIP, Apa Respon Rakyat?

Ilustrasi: Massa akar rumput [Ilustrasi: Dok. GOOD INDONESIA]

Oleh: Tony Rosyid*

Tak mau membatalkan, pemerintah malah mengusulkan RUU BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) sebagai ganti RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila). Inisiatif ini disambut antusias oleh Ketua DPR Puan Maharani yang sekaligus politikus PDIP.

Tampak ada kekompakan antara pemerintah dengan ketua DPR. Mereka tetap melanjutkan pembahasannya dengan label “RUU BPIP”.

Kata Puan: RUU BPIP tidak segera dibahas. DPR memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan masukan dan kritik.

Apa respon masyarakat? Batalkan! Tidak saja batalkan, tetapi juga usut inisiator RUU HIP dan bubarkan BPIP. Hal ini sesuai dengan rekomendasi MUI dan semua ormas Islam dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V.

Yang menarik justru mengapa ada partai yang ngotot tidak mau membatalkan RUU HIP? Menarik ketika analisisnya sampai pada motif dan dampak politis jika RUU HIP dibatalkan.

Adakah motif lahirnya RUU HIP untuk memberi ruang bagi lahirnya kembali komunisme? Atau adakah risiko kehilangan pendukung yang berhaluan komunis bagi partai tertentu jika membatalkan RUU HIP?

Memang ada komunis di Indonesia? Panglima TNI saat itu –Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal Ryamizard Ryacudu– menegaskan bahwa gerakan komunisme saat ini nyata.

Mereka mengklaim punya datanya. Mungkinkah dua jenderal ini berbohong soal data komunis? Untuk kepentingan apa mereka harus berbohong?

Berapa jumlah orang komunis di Indonesia? Ada yang mengklaim jumlahnya 20 juta. Ini tidak masuk akal. Kalau 20 juta, pasti sudah terjadi revolusi komunis di Indonesia.

[Baca juga: BPIP ‘Nge-Prank’ NKRI]

Pemberontakan 1948 dan 1965 pasti terulang. Ada yang bilang dua juta. Kalau ini masih masuk akal. Ke partai apa kira-kira afiliasi komunis ini? Hak Anda membahasnya.

Jadi, seperti ada beban serius bagi partai politik tertentu untuk membatalkan RUU HIP yang sekarang mencoba digeser namanya menjadi RUU BPIP.

Usul pemerintah menggeser RUU HIP ke RUU BPIP bisa dipahami sebagai upaya untuk menyelamatkan muka partai tertentu di mata publik. Mosok partai besar kalah oleh pressure massa? Kira-kira begitu logikanya.

Hal itu preseden buruk yang bisa terulang di kemudian hari. Demi untuk menjaga marwahnya, dan agar tak terulang lagi maka partai besar itu tampak berjuang untuk mempertahankan RUU HIP dengan menggeser ke RUU BPIP. Meski tetap beralasan ada perbedaan substansinya. Jumlah bab dan pasalnya beda. Klasik!

Pergeseran dari RUU HIP ke RUU BPIP juga dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperkuat posisi kelembagaan BPIP yang oleh Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V telah diminta untuk dibubarkan.

Padahal, KUII diikuti oleh MUI dan ormas Islam seluruh Indonesia. Sayangnya, presiden tak mendengarkannya. Ini membuktikan betapa rekomendasi MUI, ormas, dan ulama lemah, tak berpengaruh bagi kebijakan pemerintah –dalam hal ini adalah presiden.

Mengapa RUU HIP maupun BPIP ditolak? Bagi umat Islam, RUU HIP dianggap cacat lahir. Tidak urgen. Telah menolak masuknya TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Larangan Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Dibahas pada masa pandemi. Sudah ditolak, masih mau dipaksakan untuk tetap dibahas dengan casing berbeda, yaitu RUU BPIP.

Kasus RUU HIP atau RUU BPIP ini sekaligus menjadi salah satu contoh betapa buruknya komunikasi pemerintah maupun DPR dengan rakyat. Wajar jika akibat komunikasi buruk ini membuat bangsa Indonesia terus-menerus dilanda kegaduhan. Ditambah lagi keterlibatan buzzer premium yang demikian masif.

Kapan kegaduhan ini akan berhenti? Ketika pemerintah dan DPR punya kemauan untuk memperbaiki komunikasi politiknya dengan rakyat. Salah satu testimoninya adalah membatalkan RUU HIP dan membubarkan BPIP. []GOOD INDONESIA


*Penulis adalah pengamat politik dan pemerhati bangsa
.


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here