10 Negara Sukses Mengakhiri ‘Perang’ terhadap Narkoba

Ilustrasi: Rehabilitasi bagi pecandu narkoba [Foto: additioncampuses.com - GOOD INDONESIA]

Perang Amerika Serikat (AS) terhadap peredarann dan pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) telah mencapai titik kritis. Dalam kurun 2011-2013, berdasar survei, 51 persen tahanan federal terkait dengan pelanggaran narkoba.

“Perang” secara resmi digaungkan pada 1970-an ketika Presiden AS Nixon (Richard Milhous Nixon) menyatakan narkoba sebagai musuh negara nomor satu. Namun, pemberantasan habis-habisan peredaran zat terlarang ini digelar pada awal 1900-an.

Jajak pendapat nasional pada April 2014 oleh Pew Research Center menemukan mayoritas warga AS siap berubah. Survei melaporkan bahwa 67 persen warga AS menhendaki pemerintah fokus menyediakan pengobatan bagi mereka yang kecanduan obat-obatan terlarang, seperti kokain dan heroin.

Belakangan, gerakan dekriminalisasi mendapatkan momentum. Kolorado, Oregon, Alaska, dan Washington melegalkan penggunaan ganja.

Seattle memulai pendekatan humanis. Ia memperkenalkan sebuah program yang disebut Diversion Assisted Assisted Diversion (LEAD).

[Baca juga: Pil Koplo, Psikotropika Murah-Meriah Menuju Kematian]

Pelanggar narkoba ditangani tim khusus yang memberi perawatan, konseling, layanan kesehatan mental. Bahkan pengedar atau pengonsumsi narkoba memperoleh bantuan perumahan bagi yang membutuhkan. Penyalahguna narkoba jauh dari hukuman penjara.


10 Negara

Sepuluh negara yang berhasil mengubah hukuman penjara terhadap pelaku kasus narkoba, yakni:

1. Portugal. Negara pertama di Uni Eropa yang mendekriminalisasi kasus narkoba. Hasilnya, tindak penyalahgunaan narkoba menurun drastis. Penangkapan pengedar dan pemakai narkoba menurun. Lembaga khusus fokus melakukan kegiatan rehabilitasi dan menangani dampak negatis peredaran narkoba.

2. Ekuador. Pada 1980-an dan 1990-an, negara ini sungguh kewalahan menghadapi perang AS terhadap narkoba. Kebijakan AS menjadi malapetaka bagi Ekuador. Negara ini pada beberapa tahun lalu memutuskan mendekriminalisasi kasus narkoba dalam upaya memerangi kegiatan kartel.

Penjualan obat-obatan tetap ilegal, tetapi warga Ekuador diizinkan memiliki sejumlah kecil “obat lunak” dan “obat keras”, seperti heroin. Perawatan dan rehabilitasi bagi pecandu diatur melalui undang-undang.

3. Uruguay. Negara ini melakukan sesuatu yang benar-benar luar biasa. Uruguay resmi melegalkan ganja. Pemerintah menjual satu gram ganja seharga $1, yang merebut pasar pedagang gelap.

Sementara obat-obatan yang lebih keras tidak ilegal digunakan, namun terlarang menjual kokain atau heroin.

4. Republik Ceko. Warga Ceko menghadapi denda kecil bila memiliki obat apapun untuk konsumsi pribadi. Faktanya, secara hukum, mereka diizinkan memiliki hingga lima tanaman ganja dan sejumlah kecil kokain.

Pemerintah masih mengadili perdagangan narkoba utama dan distribusi, sambil menghadirkan program terkait bahaya pertukaran jarum suntik, misalnya. Kegiatan konseling digalakkan.

Kebijakan-kebijakan tersebut berhasil menurunkan kasus penggunaan narkoba dan overdosis.

5. Swiss. Pemerintah Swiss meluncurkan program pengurangan dampak buruk narkoba sejak 1980-an karena penyebaran HIV/AIDS akibat penggunaan berbagi jarum suntik. Bersamaan dengan pertukaran jarum suntik, pemerintah menyediakan konseling, perumahan, dan bahkan “ruang injeksi” yang diawasi untuk para pecandu.

6. Kroasia. Negara kecil ini mendekriminalisasi mariyuana pada 2012 dan memiliki kebijakan liberal mengenai narkoba yang lebih keras. Warga yang tertangkap memiliki narkoba kemungkinan menghadapi denda, namun juga disiapkan rehabilitasi, layanan masyarakat, atau kombinasi ketiganya. Tidak ada hukuman penjara terhadap pelaku kasus narkoba.

7. Argentina. Pada 2009, Mahkamah Agung Argentina dengan suara bulat memutuskan bahwa hukuman konsumsi pribadi obat-obatan harus dianggap tidak konstitusional. Sementara negara ini masih mengalami aktivitas kartel, kasus kecanduan narkoba ditenmpatkan sebagai masalah kesehatan masyarakat alias bukan aktivitas kriminal.

8. Belanda. Kebanyakan orang akrab dengan Amsterdam sebagai tujuan wisata merokok. Di negara ini sah memiliki mariyuana hingga lima gram.

Terdapat undang-undang yang melarang penjualan ganja di “kedai kopi” kepada wisatawan. Namun, peraturan ini tak berjalan di lapangan.

9. Australia. Secara teknis, narkoba masih ilegal. Namun, pada 2001, pemerintah membuka “tempat penyuntikan yang diawasi”. Di sini, pecandu dapat leluasa menggunakan narkoba.

Disiapkan bantuan medis jika diperlukan, serta pendampingan jangka panjang jika diminta. Dekriminalisasi belum sepenuhnya menjadi undang-undang.

10. Meksiko. Negara-negara sekitar Meksiko menerima dampak atas aktivitas penyelundupan narkoba dan kekerasan kartel, serta perang terhadap zat terlarang ini yang digaungkan AS.

Pada 2009, pemerintah mengeluarkan obat-obatan terlarang, termasuk LSD, kokain, dan heroin. Pembuat kebijakan berharap legalisasi mengurangi pasar gelap yang berkembang di negara ini.


Bukan Aib Moral

Tidak ada negara di dunia yang kebal terhadap penyalahgunaan dan kecanduan narkoba. Penuntutan hukuman penjara yang berlangsung cukup lama menyadarkan bahwa cara ini tidak menyelesaikan masalah.

[Baca juga: Modus Baru Penyelundupan Obat Terlarang ke Penjara Digagalkan]

Faktanya, tidak hanya penjualan dan perdagangan obat-obatan terlarang meningkat, tetapi populasi penjara untuk narkoba terus membludak.

Ketika sepuluh negara tersebut melakukan dekriminalisasi narkoba berhasil menurunkan kasus penggunaan, overdosis, dan penangkapan, hal ini sinyal bahwa negara-negara lain harus –paling tidak– melihat alternatif “perang” terhadap narkoba.

Kasus narkoba sesungguhnya masalah kesehatan masyarakat, sama sekali bukan aib moral. Pendekatan ini merupakan bantuan bagi mereka yang membutuhkannya. []GOOD INDONESIA-LMC


Sumber
:
1. Inspiremalibu.com
2. People-press.org


Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here