DPR: Pengadaan Serampangan Vaksin Covid-19 Sinovac Berbahaya

Vaksin covid-19 produksi Sinovac, Cina, tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten [Foto: liputan6.com - GOOD INDONESIA]

Prosedur pengadaan vaksin covid-19 merek Cinovac asal Cina ditengarai menyalahi peraturan.

Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ansory Siregar mengemukakan vaksin dimaksud didatangkan terlebih dahulu sebelum terbit izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).

“Istilahnya cacat mendatangkan vaksin itu,” tukas Ansory dalam Rapat Paripurna DPR, Jumat, 11 Desember 2020.

Dilansir, pemerintah berencana menyediakan tiga juta dosis vaksin covid-19 yang akan diberikan kepada tenaga kesehatan. Sebanyak 1,2 juta dosis sudah masuk Indonesia akhir pekan lalu. Sisanya, sebanyak 1,8 juta dosis, akan dikirim pada tahap berikutnya.

[Baca juga: Covid-19: Pandemi Media Sosial]

Atas cacat prosedur, Ansory meminta pemerintah menunda tahap pengiriman 1,8 juta dosis vaksin covid-19 tersisa. Prosesnya dapat dilanjutkan bila BPOM sudah menerbitkan EUA untuk Sinovac.

“Tolong yang 1,8 juta lagi yang mau datang Januari (2021), sebelum ada izin BPOM atau belum juga ada tahap uji klinis III dari PT Bio Farma, tunggu,” tegas Ansory, yang berasal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Atas interupsi itu, anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sri Rahayu menyatakan sependapat. Ia menegaskan pemberian vaksin kepada masyarakat harus dilakukan secara hati-hati, jangan serampangan.

Meski demikian, menurut Sri, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pasti telah memahami bahwa vaksin bisa diberikan setelah ada izin penggunaan darurat dari BPOM.

“Memang sebaiknya kita harus menunggu itu supaya tidak ada implikasi terhadap kesehatan rakyat Indonesia,” ujar Sri lagi.

[Baca juga: Olimpiade Jepang 2020 Dibatalkan Jika Pandemi Covid-19 Belum Teratasi]

Sebelumnya, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan enam poin yang alasan pemerintah membeli vaksin covid-19 dari perusahaan biofarmasi asal Cina, Sinovac:

  1. Pembelian vaksin tersebut mempertimbangkan keamanan dan mutu. Vaksin produksi Sinovac telah memperoleh rekomendasi WHO, Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
  2. Harga terjangkau. Jika khasiat vaksin baik, tetapi harga mahal tentu akan menjadi pertimbangan.
  3. Vaksin Sinovac sudah masuk uji klinis tahap ketiga. Pemerintah juga ikut melakukan riset sendiri dalam uji klinik fase ketiga.
  4. Pemerintah melihat vaksin ini memiliki efek samping yang rendah.
  5. Vaksin tersebut memiliki dosis tunggal alias tidak perlu penyuntikan berkali-kali dalam kurun waktu tertentu.
  6. Mempertimbangkan sistem distribusi yang sudah dimiliki Indonesia.

Atas kedatangan tahap pertama vaksin covid-19 asal Cina, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengungkapkan rasa syukurnya. Dia menyebutkan vaksin buatan perusahaan biofarmasi Sinovac masuk kategori siap suntik. []GOOD INDONESIA-HDN

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here