Eksekutor Pembunuhan Gadis Baduy Divonis Hukuman Mati

Ilustrasi: Hukuman mati [Foto: linggaupos.co.id - GOOD INDONESIA]

Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung menjatuhkan hukuman mati kepada Apung Muhammad Saeful. Dia terbukti sebagai pelaku utama pembunuhan Sawi, gadis Baduy 13 tahun, pada 30 Agustus 2018.

Sebelum pembunuhan dan mutilasi, korban juga mengalami perkosaan beramai-ramai.

Majelis hakim yang diketuai Subchi Eko Putro mengatakan terdakwa Apung terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti melanggar Pasal 340 KUHP dan 81 Ayat (1) Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa Apung divonis hukuman mati. Pertimbangan majelis hakim karena Apung sebagai eksekutor yang menghabisi nyawa dan yang melecehkan pertama kali korban,” ungkap penasihat hukum terdakwa Koswara Purwasasmita kepada jurnalis pada Selasa, 17 Maret 2020.

Sementara itu, terdakwa lain, Furqon, divonis 15 tahun penjara dan denda Rp3 miliar subsider enam bulan kurungan. Ia terbukti melanggar dakwaan primer Pasal 76 D jo Pasal 81 Ayat (1) UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa Furqon bukan pelaku utama. Dia diajak oleh Apung melakukan aksinya. Jadi hukumannya lebih ringan,” ujar Koswara.

Vonis yang diberikan hakim tersebut sesuai dengan tuntutan yang diberikan jaksa penuntut umum Taufik Munggaran sebelumnya.

Menanggapi putusan tersebut, baik terdakwa maupun penasihat hukum mengaku pikir-pikir dengan hukuman yang dijatuhkan.


Ditangkap di Sumsel

Apung dicokok polisi di kawasan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan (Sumsel), pada Rabu (4//9/2019).

Dua rekan Apung yang terlibat perkosaan dan pembunuhan ditangkap di tempat berbeda.

Pelaku membunuh korban secara keji memakai sebilah golok milik orang tua korban. Dalam keadaan lemas, leher korban digorok oleh pelaku. Tidak hanya itu, pelaku juga menyayat dan memutilasi tangan kiri korban hingga putus.


Suku Baduy

Baduy adalah suku asli di Provinsi Banten, tepatnya Kabupaten Lebak. Tradisi dan budaya sangat dijaga warganya. Suku Baduy terdiri dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Kelompok Baduy Dalam atau Tangtu tinggal di dalam hutan dan paling patuh pada aturan yang sudah ditetapkan oleh kepala adat.

Ciri khas Baduy Dalam pada pakaiannya yang tidak berkancing dan berkerah, tidak memakai alas kaki, dan pakaiannya berwarna putih atau biru tua.

Mereka tidak bersentuhan dengan teknologi dari luar, uang, dan hal lain yang berbau modern. Warga Baduy Dalam tak sekolah. Mereka hanya berkomunikasi bahasa asli, yaitu Sunda, dan membaca huruf atau aksara Hanacara.

Baduy Luar tinggal di daerah yang letaknya mengelilingi wilayah tinggal Baduy Dalam. Mereka belakangan mengenal kebudayaan luar, seperti sekolah dan uang.

Pakaian yang dipakai warga Baduy Luar berwarna putih. []GOOD INDONESIA-SUL


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here