Salju Abadi Puncak Tertinggi Dunia di Papua

Dinding Carstensz Pyramid yang menjulang ke langit [Foto: pedomanwisata.com - GOOD INDONESIA]

Lapisan es raksasa atau gletser di Puncak Jaya, Papua, merupakan satu-satunya di Indonesia. Saking takjubnya kita atas keberadaan hamparan es di bentang tropis, ia lalu disebut sebagai “salju abadi” di Indonesia.

Puncak Jaya atau Carstensz Top berada di Piramida atau Bukit Carstensz (Carstensz Pyramid). Dia dicatat sebagai puncaknya gunung tertinggi di Indonesia.

Kita, #GOODpeople, patut berbangga, ia masuk World Seven Summit atau Tujuh Puncak Tertinggi dunia (tujuh puncak di tujuh pegunungan tertinggi di tujuh benua), yang hingga kini menjadi tujuan para pendaki gunung.

Gletser Papua merupakan satu-satunya padang es tropis di Pasifik Barat, antara Pegunungan Andes, Amerika Selatan, hingga Pegunungan Himalaya di Asia.

Hamparan es itu dimungkinkan oleh temperatur udara yang sangat rendah, mendekati titik beku.

Carstensz Pyramid terletak di bagian barat Papua (sekarang Provinsi Papua). Sebelumnya bernama Provinsi Irian Jaya hingga 2005. Provinsi ini sendiri di pulau besar bernama New Guinea (Papua dan Papua Barat, plus Papua Nugini), tercatat sebagai pulau terbesar kedua di dunia.

Puncak-puncak Tertinggi

Piramida Carstensz terletak di sebelah barat dataran tinggi-tengah Pegunungan Jayawijaya dan Sudirman.

Pegunungan Jayawijaya adalah rangkaian gunung yang membujur di Papua. Pegunungan ini tertinggi di Indonesia. Titik tertingginya tiada lain Puncak Jaya alias Carstensz Top.

Selain Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya memiliki beberapa puncak lain yang lebih rendah, yaitu: (1) Puncak Mandala 4.760 mdpl; (2) Puncak Trikora 4.730 mdpl; (3) Puncak Idenberg 4.673 mdpl; (4) Puncak Yamin 4.535 mdpl; dan (5) Puncak Carstenz Timur 4.400 mdpl.

Dinamakan Carstensz berdasar penemunya; John Carstensz, penjelajah laut Belanda. Pada 1623 dia membawa berita ke Eropa tentang gunung bersalju di khatulistiwa, tetapi tidak ada yang percaya padanya. Dia adalah orang Eropa pertama yang melihat Piramida Carstensz dengan matanya langsung.

Pada 1936, ekspedisi Carstensz yang diprakarsai Belanda, berusaha mendaki masing-masing puncak. Anton Colijn, Jean Jacques Dozy, dan Frits Julius Wissel mencapai padang gletser Carstensz Timur dan Puncak Ngga Pulu pada 5 Desember.

Setelahnya, Puncak Jaya tidak pernah didaki sampai 1962, sampai ekspedisi yang dipimpin pendaki gunung Austria Heinrich Harrer. Tiga anggota ekspedisi lainnya; Robert Philip Temple, Russell Kippax, dan Albertus Huizenga.

Pada 1963, puncak ini berganti nama menjadi Puncak Soekarno, setelah itu kemudian diganti menjadi Puncak Jaya. Nama Piramida Carstensz sendiri masih digunakan di kalangan para pendaki gunung.

Kalangan di Indonesia menyebutnya Puncak Carstensz atau Carstensz Top sebagai Puncak Jaya –yang dimaknai sebagai puncak kemenangan, padahal nama ini berasal dari puncak lain yang dianggap tertinggi (Nga Pulu).

Sebutan lain Piramida Carstensz adalah Jaya Kesuma. Penamaan ini diperkenalkan dalam buku terbitan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (UI).

[Baca juga: Puncak-puncak Keindahan Gunung Berapi Indonesia]

Kita kerap menemukan penulisan “Carstensz” pada Puncak Carstensz atau Piramida Carstensz secara keliru. Ada yang menulis Karstens, Carstens, Carstenz, Carstenzs, Carstesz, Carstes, Carstez, Karstensz, Karstenz, Karstesz, Karstes, dan Karstez.

Berdasar berbagai sumber, GOOD INDONESIA menegaskan yang benar adalah “Puncak Carstensz”.

Ketinggian Puncak Carstensz

Ketinggian Puncak Carstensz atau Puncak Jaya yang diakui secara resmi adalah 4.884 meter (16.023 kaki, beberapa sumber mengklaim 16.013 kaki). Meskipun banyak sumber masih mengklaim tingginya 5.030 meter (16.503 kaki). Peta udara navigasi Australia menulis 16.503 kaki (5.030 meter).

Pada 1994, penerbit peta dan pemandu dari Verlag mencatat di peta “Indonesien Ost” tingginya 5.030 meter.

Tanda Carstensz Top atau Puncak Jaya [Foto: exploregunung.net – GOOD INDONESIA]

Upaya pencatatan ketinggian paling mutakhir yang berdasar altimeter maupun GPS menyimpulkan ketinggian Puncak Carstensz di bawah 5.000 meter (16.400 kaki). Pendaki gunung terkemuka memastikan ketinggian resmi Piramida Carstensz, yakni 4.884 meter (16.023 kaki).

Salju Abadi di Khatulistiwa

Puncak Jaya (4.884 m, 16.023 kaki), Puncak Mandala (4.640m, 15.223 kaki), dan Puncak Trikora (4.730m, 15.518 kaki) adalah tiga gunung tertinggi dan paling terkenal di Papua bagian Barat.

Puncak Jaya yang tertinggi termasuk dalam Pegunungan Salju (Pegunungan Maoke dalam bahasa lokal). Letaknya di sebelah barat dataran tinggi tengah Pegunungan Jayawijaya.

Salju abadi tropis yang legendaris ini terletak di tengah hutan tak berujung. Terletak empat derajat di selatan khatulistiwa, yang di dalamnya terdapat empat gletser.

Yang terbesar bukanlah Gletser Carstensz, melainkan Gletser Meren yang berada di tepi puncak Nga Pulu (4.862 meter, 15.951 kaki). Inilah disebut Puncak Jaya karena sudah lama dianggap sebagai puncak tertinggi Papua.

Lalu, mengapa muncul penyebutan Pengunungan Salju (Snow Mountains)? Ternyata bukan cuma sebab keberadaan gletser di puncaknya, tetapi juga karena memang tidak jarang turun salju di sana. Badai salju tropis sering kali membawa salju ke daerah yang terletak setinggi 4.000 meter (13.123 kaki).

Keanggunan Dinding Piramida Carstensz

Dinding Piramida Carstensz tingginya sekitar 500-600 meter (1.640-1.968 kaki). Bagian bawah dinding kira-kira 300 meter (984 kaki) yang membungkuk elok pada sudut 10-15 derajat. Bagian atas dinding bukit kira-kira 80 meter (262 kaki), dan hampir vertikal.

Tampak kristal di puncak Piramida Carstensz yang sebagian besar tidak rata dan terbuka. Beberapa pendaki mengatakan bahwa dinding Piramida Carstensz setajam kaca.

Salju Abadi Menuju Punah

Namun, diperkirakan dalam waktu dekat, julukan salju abadi itu akan hilang. Tahun demi tahun, ketebalan es di Puncak Jaya terus mencair. Perhitungan para peneliti, gletser dimaksud diperkirakan akan mencair dan hilang pada 2025. Bahkan, bisa lebih cepat.

Raden Dwi Susanto, peneliti University of Maryland, melansir hasil ekspedisi pada 2010. Hasil pengukuran ketebalan lapisan es tersisa sekitar 26-30 meter di Puncak Soekarno dan Soemantri.

Kecepatan pengurangan luas gletser Papua secara umum merupakan dampak pemanasan suhu global dan kondisi iklim ekstrim El Nino dan La Nina. Apalagi ketika terjadi El Nino pada 2015 dan 2016, pengurangan luasan es lebih cepat.

“Suhu udara dan curah hujan sangat besar pengaruhnya. Gletser atau gunung es Papua akan menipis dan hilang, mungkin juga tidak akan sampai 10 tahun,” kata Dwi Susanto saat menjadi pembicara diskusi virtual “The Last Glacier in Papua”, yang digelar Mapala Universitas Indonesia, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, dan KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbel), Rabu (10/6/2020).

Saat ekspedisi gletser Papua pada 2010 itu, Dwi masih menjadi peneliti Columbia University. Riset itu merupakan kerja sama histori iklim (paleoklimatologi) dan lingkungan berdasarkan ice core atau inti es di kawasan Puncak Jaya, yang dilakukan bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar and Climate Research Center (BPCRC) di The Ohio State University, dan Lamont Doherty Earth Observatory di Columbia University, USA, serta PT Freeport Indonesia.

Salah satu sisi hamparan es di Pegunungan Jayawijaya [Foto: @imanuela.images – GOOD INDONESIA]

Sebelum menjelaskan kondisi gletser Papua, Dwi memberikan gambaran suhu permukaan laut di dunia. Sementara, permukaan air laut Indonesia berada di kolam panas Pasifik bagian barat atau West Pacific Warm Pool (WPWP).

Dwi juga menjelaskan kondisi iklim ekstrem di Indonesia, seperti El Nino dan La Nina yang bisa menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan serta banjir, pun berdampak pada pencairan gletser Papua.

“Pengurangan luas es di gletser Papua cepat sekali, terutama disebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Antara 2010 dan 2015, lapisan es yang menyambungkan dua sisi gunung, pada bagian tengahnya mulai hilang,” papar Dwi lagi.

[Baca juga: Empat Gunung Bersejarah Jejak Rasulullah Muhammad SAW]

Hal yang sama diutarakan Peneliti Balai Arkeologi Papua Hari Suroto. Sebenarnya, kata Hari, bukan hanya Puncak Jaya yang memiliki salju, gunung lain di Papua dulu juga puncaknya diselimuti hamparan es, tetapi hilang karena pemanasan global.

“Gletser memiliki mikro ekosistem yang rumit dan sensitif. Sekali mencair, laju penyusutan akan sulit dihentikan,” kata arkeolog lulusan Universitas Udayana itu.

Pada 2010, gletser Puncak Jaya memiliki ketebalan 32 meter, kemudian menyusut sebanyak tujuh meter per tahun. Gletser yang peninggalan zaman es itu juga merupakan gletser tropis yang rentan perubahan iklim.

“Kondisi saat ini, gletser Puncak Jaya kurang 100 hektar. Padahal dulu 2.000 hektar,” tutur Hari.

Jadi gletser tropis di salah satu puncak tertinggi di dunia yang disejajarkan dengan Puncak Himalaya dan Puncak Andes itu telah kehilangan 85 persen luasnya sejak beberapa dekade terakhir. Gletser-gletser di puncak ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut itu terancam punah, karena pembentukan es tidak ada lagi.

Hal senada dikatakan ahli geologi Ohio State University yang memperkirakan gletser di Puncak Jaya terancam hilang karena mencair akibat pemanasan global.

“Diperkirakan esnya akan bertahan beberapa tahun lagi,” kata Lonnie Thompson, peneliti senior Pusat Riset Ohio State’s Byrd Polar, lansir Science Daily.

Menurut Thomson, yang juga profesor dari School of Earth Sciences, salju yang menutupi Puncak Jaya mulai menyusut beberapa tahun terakhir. Dari hasil citra satelit menunjukkan luasan es di pegunungan itu telah hilang sekitar 80 persen sejak 1936 atau dua pertiga dari ekspedisi ilmiah terakhir yang dilakukan di tempat itu pada awal 1970.

Bagaimana menghindari potensi raibnya padang salju di puncak-puncak Papua? Pemanasan global memang hanya dapat diatasi bersama oleh pecinta lingkungan di seluruh dunia. Namun, upaya reboisasi atas hutan yang hilang dan mencegah kerusahan hutan baru di Papua sedikit-banyak menjaga salju abadi di puncak-puncak Papua punah.

#GOODpeople tentu berharap kita semua peduli, khususnya yang memiliki otoritas mencegah rusaknya lingkungan atau alam Papua. []GOOD INDONESIA-RE/RUT/LMC

Referensi:
1. carstenszpapua.com
2. mongabay.co.id
3. tempo.co

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here