Jakarta – Manajemen SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) mencatat target 2019 yang diamanahkan pemerintah secara umum dapat dicapai. Bahkan beberapa poin target terlampaui.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menegaskan pencapaian kinerja sektor hulu migas selama 2019 itu dalam konferensi pers rutin pertama pada 2020 di kantornya, Gedung City Plaza, Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 42, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Januari 2019.
Dwi menjelaskan kinerja segenap industri hulu migas Indonesia pada tahun lalu membukukan sejumlah torehan positif. Padahal berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi tidaklah ringan.
Target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, misalnya, dipatok tinggi yang jauh di atas usulan segenap perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Juga di atas perhitungan kemampuan teknis yang tertuang dalam Work, Program & Budget (WP&B).
Namun, menurut Dwi yang mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), tuntutan pemerintah kepada sektor hulu migas tersebut dijadikan pelecut semangat. Seluruh insan hulu migas lalu melakukan kerja terbaik untuk mencapai target yang ditetapkan.
Dwi merinci koordinasi yang intens dalam melaksanakan semua program kerja menjadi faktor utama yang menunjang tercapaikan target yang disasar. Jajaran SKK Migas sendiri senantiasa mendorong KKKS melakukan continual improvement dan best practice.
Berbagai forum yang digelar, menurut Dwi lagi, menjadi ajang meningkatkan kompetensi dan sharing knowledge. Hasilnya produksi maksimum dapat dilaksanakan.
“Patut disyukuri, di tengah tantangan hulu migas pada tahun 2019 dan semakin kompetitifnya sektor hulu migas, kita mampu mencatatkan kinerja yang membanggakan pada aspek lifting, realisasi cost recovery, pencapaian investasi hulu migas, Reserve Replacement Ratio (RRR), dan penguatan kapasitas industri nasional melalui TKDN,” papar Dwi, yang ketika menjabat Direktur Utama PT Semen Indonesia digelari julukan “bapak pemersatu industri semen Indonesia”.

Ditambahkan, jika proposal awal KKKS untuk lifting minyak sebesar 699,8 ribu BOPD maka kesepakatan bersama antara SKK Migas dan KKKS pada dokumen WP&B dapat ditingkatkan menjadi 729,5 ribu BOPD.
Pada tataran pelaksanaannya, kata Dwi, pihaknya mendorong penerapan beberapa langkah guna mencapai operational excellence. Antara lain Filling The Gap (FTG), Production Enchancement Technology (PET), Management Work Through (MWT), Optimasi Planned Shutdown. Lifting minyak akhirnya ditingkatkan pada angka 752.2 ribu BOPD.
Faktor Kendala
Menjelaskan faktor kendala yang dihadapi sepanjang 2019, Kepala SKK Migas menyatakan kebakaran hutan di Sumatera, dampak kondensat karena curtailment gas, revisi amdal EMCL, kecelakaan di lapangan YY menjadikan lifting minyak pada akhir 2019 bertengger di angka 746 ribu BOPD. Capaian ini masih di atas target WP& B sebesar 729,5 ribu BOPD atau sebesar 102,3%.
Jika dibandingkan dengan target lifting minyak pada APBN 2019 yang sebesar 775 ribu BOPD maka target lifting 2019 tercapai 96,3%.
[Baca juga: Pastikan Lifting Akhir Tahun, Wakil Kepala SKK Migas ‘Sidak’ Chevron Dumai]
“SKK Migas dan KKKS telah bekerja keras, di tengah tantangan decline rate yang secara alamiah mencapai 20% per tahun, serta capaian lifting minyak 2019 yang 102,3% di atas target WP&B menunjukkan effort maksimal seluruh pelaku usaha hulu migas,” tandas Dwi.
Bila dibandingkan dengan RUEN yang pada 2019 diprediksi lifting minyak berada di angka 590 ribu BOPD maka capaian 746 ribu BOPD menunjukkan hasil yang membanggakan.
Kinerja Gas Kurang Maksimal
Untuk gas, realisasi lifting 2019 mencapai 5,934 MMSCFD atau 99,9% dibandingkan target WP&B yang sebesar 5,937 MMSCFD. Sementara target APBN 2019 ditetapkan sebesar 7.000 MMSCFD.
Menurut Dwi, kinerja lifting gas di 2019 pada awalnya sempat mencapai angka 6,002 MMSCD. Capaian ini diperoleh setelah SKK Migas dan KKKS melakukan berbagai terobosan dan inovasi.
“Adanya curtailment gas 60,8 MMSCFD, seperti yang terjadi di JOB PMTS, Pertamina EP dan ENI. Juga kejadian H2S Spike EMCL dan accident di lapangan YY memberikan penurunan sebesar 7,2 MMSCFD,” ungkap doktor Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik dari Universitas Indonesia (UI) itu.
Meskipun kinerja gas kurang menggembirakan, secara keseluruhan lifting migas 2019 mencapai 1,806 MBOEPD atau 101,1% di atas target WP&B yang sebesar 1,790 MBOEPD. Memang masih di bawah target APBN yang sebesar 2,025 MBOEPD.
Penurunan ‘Cost Recovery’
Untuk memberikan kontribusi yang optimal bagi pendapatan negara, SKK Migas melakukan efisiensi dan mendorong KKKS menerapkan praktik operasional terbaik.
Mengacu pada proposal cost recovery KKKS pada 2019 yang sebesar US$ 13,736 miliar, pada WP&B SKK Migas berhasil menurunkan target biaya cost recovery menjadi US$ 12,5 miliar dan realisasi cost recovery 2019 sebesar US$ 10,9. Pada APBN 2019, cost recovery ditetapkan sebesar US$ 10,1 miliar.

Jika dibandingkan dengan 2018 yang realisasi cost recovery mencapai US$ 12,1 miliar maka capaian di pada 2019 menurun secara signifikan.
“Penurunan realisasi cost recovery ini memberikan dampak positif berupa semakin besarnya pendapatan yang diterima oleh negara,” tutur Dwi.
Hal ini juga menunjukkan pengawasan yang dilakukan SKK Migas dapat dilaksanakan secara efektif dengan tetap menghasilkan target lifting yang optimal di atas WP&B. SKK Migas akan terus bekerja keras menerapkan corporate governance dalam menjalankan tugas.
Dalam upaya menciptakan tata kelola organisasi yang baik, SKK Migas menerapkan berbagai sistem manajemen berstandar internasional, semisal ISO 9001:2015 tentang manajemen mutu dan ISO 37001:2016 tentang sistem manajemen untuk membantu organisasi mencegah, mendeteksi, dan menangani penyuapan.
“Beroperasinya Integrated Operation Center (IOC) per 1 Januari 2020 semakin menambah optimisme, kinerja excellent di tahun 2019 dapat ditingkatkan di tahun 2020,” tandas Kepala SKK Migas.
Rekor RRR
Pada bagian lain, Dwi menjelaskan dalam rangka menjaga cadangan migas terus berkelanjutan sebagaimana ditetapkan pemerintah dalam RUEN, SKK Migas telah menetapkan salah satu target KPI yang harus dipenuhi, yakni RRR mencapai 100%.
Target RRR 100% dapat dipenuhi pada 2010 dan 2011, kemudian sepanjang 2012-2017 target tidak dapat dipenuhi. Pada 2018 target RRR dapat dipenuhi 106%.
Mencapai 100% RRR membutuhkan perjuangan ekstra. Selama satu dekade terakhir, realisasi RRR sebesar 354% dicapai pada 2019. Hal ini capaian terbesar.
“Kerja cepat, cermat, dan produktif yang dilakukan insan SKK Migas mampu mengubah pesimisme pengelolaan blok Abadi Masela menjadi optimisme,” ujar Dwi.
Sejak ditemukan pada 1999, lanjutnya, atau hampir 20 tahun maka pada Juli 2019 POD Revisi Masela telah disetujui. Mengingat cadangan gas yang luar biasa di blok Masela yang saat ini mencapai 18,5 TCF gas dan 225 juta barel kondensat maka dengan disetujuinya POD Revisi Masela telah mendongkrak capaian target RRR secara signifikan.
Capaian Investasi
Sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan investasi di Indonesia, SKK Migas terus mempromosikan investasi di sektor hulu migas. Realisasi investasi hulu migas pada 2019 mencapai US$11,49 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi investasi setahun sebelumnya, yang sebesar US$11 miliar maupun pada 2017 yang sebesar US$10,27 miliar.
Potensi hulu migas di Indonesia masih menjanjikan, menurut Dwi, karena dari 128 cekungan, yang telah berproduksi baru 20 cekungan. Bahkan di wilayah kerja lama yang telah bertahun-tahun di eksploitasi masih memberikan potensi yang signifikan.
Keberhasilan Repsol menemukan cadangan gas di blok Saka Kemang di KBD-2X sebesar 2 TCF adalah salah satu penemuan besar (giant discovery) di dunia pada semester pertama 2019.

Selain kontribusi dalam pendapatan negara, melalui pajak maupun pendapatan negara langsung, sektor hulu migas masih salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Terlebih sektor ini telah mampu menerapkan TKDN pada angka yang signifikan, konsisten dalam beberapa tahun di kisaran 60%.
Pengadaan Barang dan Jasa
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto memaparkan pula nilai pengadaan barang dan jasa sampai November 2019 KKKS mencapai US$ 5,256 miliar dengan persentase TKDN sebesar 60,54% (cost basis). Dengan kata lain kontribusi sektor hulu migas dalam menggerakkan industri nasional mencapai US$3,182 miliar atau setara Rp44,55 triliun.
Pada 2020, SKK Migas terus melakukan upaya terbaik dalam menjalankan peran dan fungsi agar sektor hulu migas dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi negara.
Untuk mencapai hal tersebut, SKK Migas konsisten menerapkan lima pilar transformasi yang telah ditetapkan untuk meraih visi bersama, yaitu second golden era, 1 million BOPD pada 2030.
Peningkatan Produksi
Upaya yang dilakukan SKK Migas untuk meningkatkan produksi pada 2020, antara lain:
1. Mempertahankan Tingkat Produksi Eksisting yang tinggi melalui Pengeboran pengembangan. Naik 20-25% dengan rincian rencana kerja mencapai 407 sumur pengembangan, 812 WO, 24,843 WS.
2. Transformasi Sumber Daya ke Produksi dilakukan dengan Pengeboran Deliniasi Struktur Parang, Re-Entry Lofin-2, Onstream POD Lapangan Sidayu
3. Mempercepat Chemical EOR melalui kegiatan Field Trial Lapangan Sago, Gemah, Jatibarang, Studi EOR Lapangan Pedada, Kaji-Semoga, Belida
4. Eksplorasi untuk Penemuan Besar dilakukan, antara lain dengan Seismik 2D Jambi Merang (open area) tahun kedua dengan investasi US$ 75 juta.

Target 2020
Juga disebutkan, pada APBN 2020 telah ditetapkan target yang tinggi untuk minyak pada angka 755 MBOPD dengan angka teknis pada 705 MBOPD.
Sedangkan untuk gas target ditetapkan 6.670 MMSCFD dengan angka teknis pada 5.685 MMSCFD. Adapun expenditure pada 2020 sebesar US$13,8 miliar, dengan porsi terbesar untuk produksi sebesar US$9,2 miliar, development US$2,5 miliar, dan eksplorasi US$1,2 miliar, serta sisanya administrasi.
Dalam rangka mencapai target RRR 100% pada 2020, SKK Migas akan memenuhinya dari 28 persetujuan POD/POFD/POP yang akan menambah cadangan sebesar 198 MMBO Minyak & 3,693 BSCF Gas atau setara 857 MMBOE.
“Untuk mencapai target 2020 dan meneruskan operational excellence secara berkelanjutan maka SKK Migas akan mengoptimalkan pemanfaatan IOC dan akan terus menambah fitur baru yang dapat mendukung pelaksanaan operasional hulu migas,” tegas Dwi.
[Baca juga: SKK Migas Optimistis Capai Target Produksi 1 Juta BOPD 2030]
Data real time yang ada di IOC, menurutnya, diharapkan dapat mendorong SKK Migas lebih aktif melakukan koordinasi dan memberikan masukan atau referensi kepada KKKS. Dengan demikian dapat meminimalkan dampak kejadian negatif yang terjadi pada 2019.
Dwi menyatakan pula usaha memangkas prosedur perizinan dan waktu penyelesaiannya menjadi salah satu target SKK Migas sebagai bagian menciptakan iklim usaha yang kondusif.
“Setelah melakukan persiapan di kuartal keempat tahun 2019, termasuk melakukan beberapa kali workshop dengan KKKS, dalam waktu dekat pada Januari 2020, SKK Migas akan me-launching layanan One Door Stop Policy,” ungkap Kepala SKK Dwi Soetjipto.
Mendampingi Dwi dalam konferensi pers di lantai 9 Gedung City Plaza, Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman, Sekretaris Murdo Gantoro, Deputi Perencanaan Jaffee Arizon Suardin, Deputi Operasi Julius Wiratno, Deputi Keuangan dan Monetisasi Arief Setiawan Handoko, Deputi Dukungan Bisnis Muhammad Atok Urrahman, dan Deputi Pengendalian Pengadaan Tunggal. []GOOD INDONESIA-RE
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]










