Internasional Apresiasi Indonesia Mampu Antisipasi Zoonosis Global

Ilustrasi: Pola penularan dan tantangan zoonosis di Indonesia [Foto: Dok. GOOD INDONESIA]

Dunia panik oleh pandemi virus korona –penyakitnya disebut covid-19– yang hingga kini tersebar ke seluruh benua. Puluhan negara terserang, dan ribuan nyawa melayang.

Virus satu ini diduga kuat berasal dari hewan yang kemudian menulari manusia (animal-borne disease), yang juga disebut zoonosis.

Krisis HIV/Aids pada dekade 1980-an berasal dari kera besar. Pada 2004-2007 avian flu mewabah, yang berasal dari unggas. Babi menghasilkan pandemi flu babi pada 2009.

Belakangan muncul penyakit severe acute respiratory syndrome atau SARS yang virusnya berasal dari kelelawar, melalui musang. Sementara kelelawar menyumbang ebola.

Perubahan iklim ditengarai mempercepat proses penyebaran penyakit dari heran ke manusia. Mobilitas manusia memicu berbagai penyakit yang menyebar lebih cepat.


Ancaman Global Zoonosis

Zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya) sungguh menjadi ancaman global manusia. Berbagai fakta menunjukkan zoonosis meledakkan dampak yang potensi kerugiannya jauh lebih besar dibandingkan akibat perang.

Sampai saat ini setidaknya tidak kurang dari 300 penyakit yang berasal dari hewan yang dapat menular ke manusia. Sebagian berpeluang menjadi wabah di suatu negara jika tidak ditangani dengan baik. Sebut saja rabies, antraks, BSE (Bovine Spongiform Encephalopathy alias sapi gila), SARS, dan HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza alias flu burung).

Melalui artikelnya di Detik, Agus Jaelani dari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) memaparkan zoonosis terbagi tiga kelompok besar.

Pertama, zoonosis yang berpotensi menjadi endemik; leptopirosis dan antraks. Kedua, penyakit berbahaya yang berpotensi menjadi epidemik; SARS, (HPAI), dan virus nipah. Ketiga, penyakit yang hampir musnah, namun memiliki potensi menyebar kembali; rabies.

Dalam dua dekade terakhir, 75 persen penyakit-penyakit baru (emerging diseases) pada manusia terjadi akibat perpindahan patogen hewan ke manusia atau zoonotik. Di antara 1.415 mikro organisme pathogen pada manusia, yang telah diketahui sebesar 61,6% bersumber hewan.

Laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan lebih 250 foodborne disease (penyakit yang ditularkan melalui makanan). Sebagian besar penyakit ini bersifat infeksius, yang muasalnya dari bakteri, virus, parasit, dan prion yang dapat dipindahkan melalui makanan.

Eksistensi zoonosis terus meningkat. Hewan memainkan peranan penting dalam ancaman global zoonosis.

Salah satu kunci pengendalian zoonosis adalah terkendalikannya penyakit pada hewan. Solusinya pada pengendalian penyebaran penyakit pada hewan. Bila berhasil maka rantai penularan ke manusia terputus.


Kondisi Indonesia

Ancaman zoonosis di Indonesia sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Kita memiliki beberapa zoonosis; rabies, leptospirosis, brucellosis, toksoplasmosis, tuberkulosis, salmonellosis, antraks, dan HPAI.

Tidak ada alasan bermain-main dengan potensi zoonosis. Korban manusia meninggal dunia akibat rabies setiap tahunnya mencapai 100 orang lebih. Akibat flu burung, sampai Mei 2008 menyebabkan 110 orang meninggal dari 135 kasus dengan case fatality rate sebesar 81,48%. Indonesia bahkan menempati ranking teratas di dunia dalam hal jumlah kematian pada manusia akibat flu burung.

Simulasi pandemi yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa jika terjadi pandemi diperkirakan akan terdapat 66 juta orang yang sakit dan 150.000 meninggal. Sementara simulasi ekonomi berdasarkan basis data 2006 maka akibat pandemi akan mengakibatkan kerugian langsung (jangka pendek) mencapai Rp14 triliun sampai Rp48 triliun.

Belum lagi korban penyakit zoonosis lainnya yang secara perlahan tetapi pasti menyebabkan kematian setiap tahunnya. Hal ini jelas-jelas menggambarkan betapa hebatnya ancaman zoonosis bagi keutuhan suatu bangsa.


Sinergitas Total

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Amerika Serikat melalui USAID (Badan Pembangunan Internasional AS) menilai Indonesia sukses mengatasi ancaman zoonosis global.

“Keberhasilan Indonesia dalam menangani ancaman penyakit zoonosis diakui dunia. Ancaman zoonosis mendapat perhatian pemerintah, khususnya Presiden, melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2019 yang mengatur peningkatan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons wabah penyakit, pandemi global, dan kedaruratan nuklir, biologi, dan kimia,” ujar Stephen Rudgard, wakil FAO Indonesia, dalam rilisnya (September 2019), sehubungan empat tahun kerja sama penanggulangan zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) antara Pemerintah RI (Republik Indonesia), FAO, dan USAID.

Rudgard menyebutkan Indonesia contoh sukses pencegahan, pendeteksian, dan penanganan ancaman zoonosis global dengan menginisiasi dan melembagakan kerja sama lintas sektoral melalui pendekatan One Health.

Penilaian serupa disampaikan Wakil Direktur USAID Indonesia Ryan Washburn. Meskipun masih menjadi hotspot penyakit di kawasan ini, tetapi komitmen menerapkan pendekatan One Health telah meningkatkan kemampuan Indonesia dalam pencegahan, deteksi, dan respon.

Pemerintah dengan lembaga internasional tersebut melaksanakan Program EPT-2 (Emerging Pandemic Threat fase 2) sejak 2016. Kegiatan fokus pada langkah mengurangi dan mengendalikan ancaman terhadap keamanan kesehatan –masyarakat, hewan, maupun lingkungan/satwa liar.

Pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kerja sama dimaksud; Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), organisasi profesional kesehatan hewan dan kesehatan manusia, universitas. Koordinasi program EPT-2 secara umum ditangani Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Tiga kunci keberhasilan pengurangan risiko pandemi, yakni koordinasi, advokasi, dan kolaborasi pemangku kepentingan.

Pemerintah pusat harus memberdayakan jajaran aparatur di daerah, bukan mematikan daya dan semangatnya. Negara maju wajib memberdayakan negara berkembang dan terbelakang, bukan menguras sumber dayanya.

Namun, Maret 2020, Indonesia diuji kemampuannya menghadapi pandemi virus korona. Berhasilkah? []GOOD INDONESIA-RE


Rujukan
:
Vivanews
Tirto
Bbc


[INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: goodindonesia01@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here